Back to Kompasiana
Artikel

Gadget

Sahroha Lumbanraja

Seorang perantau di Jakarta. Menulis adalah saat terbaik saya menikmati waktu. twitter @sahroha. No Fanatisme. selengkapnya

FM Radio Receiver Boster

REP | 14 June 2011 | 14:09 Dibaca: 4689   Komentar: 0   0

13080605171393019483Boster FM Radio Penerima

Berikut ini adalah rangkaian sederhana dari sebuah booster FM yang dapat digunakan untuk mendengarkan program dari stasiun FM jauh dengan jelas. amplifier ini akan menarik di semua stasiun FM jauh dengan jelas. Rangkaian dikonfigurasi sebagai emitor-common tuned RF pra-penguat kabel sekitar VHF / UHF transistor Q1.
boster-radio-Penerima-fm.jpgSkema rangkaian boster Penerima radio FM

2SC2570. (Hanya C2570 adalah anotasi pada tubuh transistor.) Pasang rangkaian pada PCB berkualitas baik (disukai, kaca-epoxy). Menyesuaikan pemangkas input / output (VC1/VC2) untuk keuntungan maksimal.

Semua kapasitor keramik dan 50V adalah standar tetapi jenis 25V bekerja dengan baik juga. kapasitor Pemangkas TR1 dan TR2 (22pF) yang disesuaikan untuk keuntungan maksimal. Input coil L1 terdiri dari 4 putaran 20SWG dienamel kawat tembaga selama diameter 5mm mantan. Hal ini mengetuk giliran pertama dari sisi memimpin tanah. Coil L2 mirip dengan L1, tetapi hanya memiliki tiga putaran. Pin konfigurasi ditampilkan pada diagram.

Daftar Komponen:

R1 = 27k
R2 = 270 ohm
R3 = 1K
TR1, TR2 = 22pF, topi pemangkas (15-40pF)
C1, C2 = 5.6pF
C3 = 0.001uF (1NF), keramik
C4, C5 = 10pF, keramik
C6 = 0.1uF (100nF), keramik
Q1 = 2SC2498, 2SC2570, 2N5179, SK9139, atau NTE10. NPN VHF / UHF transistor
L1 = 4 putaran 20SWG magnet kawat, diameter 5mm. (Disebut 3T +1)
L2 = 3 putaran 20SWG magnet kawat, diameter 5mm.
Related Posts dengan thumbnail untuk widget bloggerblogger

Penerima Radio FM

Rx adalah kependekan dari “Receive” atau penerima. Semua radio mempunyai titik minimal, dimana jika sinyal yang diterima lebih rendah dari titik minimal tersebut maka data yang dikirim tidak dapat di terima. Titik minimal sensitifitas RX didefinisikan dalam dBm atau W.

Bagi sebagian besar radio, sensitifitas RX di definisikan sebagai level dari Bit Error Rate (BER). Biasanya kita mengunakan standard Bit Error Rate (BER) sama dengan 10^-5 (99.999%).

Pada peralatan WiFi, sensitifitas penerima ini biasanya dalam range -79 sampai -80-an dBm. Biasanya sinyal yang di terima lebih tinggi dari sensitifitas penerima dan akan berubah-ubah tergantung pada banyak factor.

Noise / derau harus jauh lebih rendah dari sensitifitas penerima. Para peralatan WiFi, noise / derau biasanya sekitar -90 sampai -96 dBm. Noise di definisikan sebagai sinyal yang tidak kita inginkan yang di terima oleh pesawat penerima kita

.

B. Penerima FM

1. Blok Diagram Penerima FM

a. Blok Diagram Penerima FM Mono

Antena

Loud Speaker

b. Blok Diagram Penerima FM stereo

Text Box: LimiterText Box: Penguat IFText Box: Penguat AudioText Box: AFCText Box: AFC Loud Speaker

Antena

Text Box: Dekoder Stereo

Text Box: Detektor FMText Box: De- EmphasisText Box: MixerText Box: Penguat RF

Loud Speaker

Text Box: Penguat AudioText Box: AFCText Box: OSC

2. Fungsi Masing-masing Blok

a. Antena : berfungsi menangkap sinyal-sinyal bermodulasi yang bersal dari antena pemancar.

b. Penguat RF : berfungsi unutk menguatkan sinyal yang ditangkap oleh antena sebelum diteruskan ke blok Mixer (pencampur).

c. OSC (Osilator Lokal) : berfungsi unutk mebangkitkan getaran frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi sinyal keluaran RF. Dimana hasilnya akan diteruskan ke blok Mixer.

d. Mixer (pencampur) : Berperan untuk mencampurkan kedua frekuensi yang berasal dari RF Amplifier dan Osilator Lokal. Hasil dari olahan mixer adalah Intermediate Frequency (IF) dengan besar 10,7 MHz.

e. Penguat IF : digunakan untuk menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum diteruskan ke blok limiter.

f. Limiter (pembatas) : berfungsi unutk meredam amplitudo gelombang yang sudah termodulasi (sinyal yang dikirim pemancar) agar terbentuk sinyal FM murni (beramplitudo rata).

g. Detektor FM : digunakan untuk mendeteksi perubahan frekuensi bermodulasi, menjadi sinyal informasi (Audio).

h. De-emphasis : berfungsi untuk menekan frekuensi audio yang besarnya berlebihan (tinggi) yang dikirim oleh pemancar.

i. AFC (Automatic Frequency Control / Pengendali Frekuensi Otomatis) : berfungsi unutk mengatur frekuensi osilator local secara otomatis agar tetap stabil.

j. Dekoder Stereo : digunakan unutk memproses sinyal Stereo, sehingga hasilnya diteruskan pada 2 buah penguat AF (FM Stereo).

k. Penguat Audio : digunakan untuk menyearahkan getaran/ sinyal AF serta meningkatkan level sinyal audio dan kemudian diteruskan penguat AF ke suatu pengeras suara.

e. Speaker (pengeras suara) digunakan untuk mengubah sinyal atau getaran listrik berfrekuensi AF menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh telinga manusia.

Prinsip kerja speaker

short url : http://capc.us/DcpmF


Pada dasarnya, speaker merupakan mesin penterjemah akhir, kebalikan dari mikrofon. Speaker membawa sinyal elektrik dan mengubahnya kembali menjadi getaran untuk membuat gelombang suara. Speaker menghasilkan getaran yang hampir sama dengan yang dihasilkan oleh mikrofon yang direkam dan dikodekan pada tape, CD, LP, dan lain-lain. Speaker tradisional melakukan proses ini dengan menggunakan satu drivers atau lebih.

Sebuah drivers memproduksi gelombang suara dengan menggetarkan cone yang fleksibel atau diafragma secara cepat. Cone tersebut biasanya terbuat dari kertas, plastik ataupun logam, yang berdempetan pada ujung yang lebih besar pada suspension. Suspension atau surround, merupakan ratusan material yang fleksibel yang menggerakkan cone, dan mengenai bingkai logam pada drivers, disebut basket.

Ujung panah pada cone berfungsi menghubungkan cone ke voice coil. Coil tersebut didempetkan pada basket oleh spider, yang merupakan sebuah cincin dari material yang fleksibel. Spider menahan coil pada posisinya sambil mendorongnya bergerak kembali dengan bebas dan begitu seterusnya.

Speaker tradisional memproduksi suara dengan cara mendorong dan menarik elektromagnet yang menyerang cone yang fleksibel. Walaupun drivers pada dasarnya memiliki konsep yang sama, namun ukuran dan kekuatan yang dimiliki berbeda-beda. Tipe-tipe dasar drivers antara lain : woofers, tweeters, dan midrange.

Woofers merupakan tipe drivers yang paling besar yang dirancang untuk menghasilkan suara dengan frekuensi rendah. Tweeters memiliki unit-unit yang lebih kecil dan dirancang untuk menghasilkan frekuensi paling tinggi. Sedangkan midrange, mampu menghasilan jarak frekuensi yang berada di tengah-tengah spektrum suara.

Untuk dapat membuat gelombang frekuansi yang lebih tinggi, diafragma drivers harus bergetar lebih cepat. Hal ini lebih sulit dilakukan dengan cone yang berukuran besar karena berarti, massa cone tersebut juga besar. Oleh sebab itu, sulit mendapatkan drivers yang kecil untuk dapat bergetar cukup lambat agar dapat menghasilkan suara dengan frekuensi sangat rendah.

OSILATOR

TEORI DASAR

Osilator adalah suatu alat yang merupakan gabungan elemen-elemen aktif dan pasif untuk menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal atau bentuk gelombang periodik lainnya. Suatu osilator memberikan tegangan keluaran dari suatu bentuk gelombang yang diketahui tanpa penggunaan sinyal masuk dari luar. Osilator mengubah daya arus seaarh (dc) dari catu daya ke daya arus bolak-balik (ac) dalam beban. Dengan demikian fungsi osilator berlawanan dengan penyearah yang mengubah daya searah ke daya bolak-balik.
Suatu osilator dapat membangkitkan bentuk gelombang pada suatu frekuensi dalam batas beberapa siklus tiap jam sampai beberapa ratus juta siklus tiap detik. Osilator dapat hamper secara murni menghasikan gelombang sinusoidal dengan frekuensi tetap, ataupun gelombang yang hanya dengan harmonic. Osilator umumnya digunakan dalam pemancar dan penerima radio dan televise, dalam radar dan dalam berbagai sistem komunikasi.

JENIS-JENIS OSILATOR

Osilator dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Tregantung kepada alam bentuk gelombang yang dibangkitkan, osilator dapat dibagi menjadi dua kategori : osilator sinusoidal atau osilator harmonic dan osilator relaksasi. Osilator sinusoidal menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal atau mendekati sinusoidal pada frekuensi tertentu. Osilator relaksasi menghasilkan bentuk gelombang bukan sinusoidal seperti gelombang segiempat dan gelombang gigi-gergaji.

Osilator dapat pula digolongkan pada alat-alat tertentu yang menghasilkan osilasi. Pada penggolongan ini, osilator dapat merupakan jenis resistansi negatif atau jenis umpan balik. Osilator resistansi negatif menggunakan alat aktif yang memproses lengkung karakteristik arus tegangan dengan kemiringan negatif dalam daerah operasinya. Dioda kanal merupakan alat resistansi negatif yang digunakan dalam resistor. Osilator umpan-balik sebaliknya, mempunyai penguat umpan-balik regeneratif (positif), dimana perolehan lingkar juga diatur sedemikian sehingga perolehan keseluruhan menjadi tidak terhingga.
Baik osilator sinusoidal maupun osilator relaksaasi dapat merupakan jenis resistansi negatif dan jenis umpan-balik. Osilator sinusoidal jenis umpan-balik dapat digolongkan lebih lanjut menjadi osilator LC (indktor-kapasitor) dan RC (tahanan kapasitor).
Osilator sinusoidal kadang-kadang digolongkan menurut frekuensi sinyal yang dihasilkan. Jadi osilator yang membangkitkan sinyal dalam daerah frekuensi audio dikenal sebagai osilator frekuensi audio. Demikian pula, osilator yang menghasilkan sinyal-sinyal daerah frekuensi radio dinamakan osilator frekuensi radio, dan seterusnya.

Klasifikasi osilator didasarkan pada daerah frekuensi yang dihasilkan.

Osilator Frekuensi Audio (AF) beberapa hz -20 KHz
Osilator Frekuensi Radio (RF) 20 KHz - 30MHz
Osilator Frekuensi Sangat Tinggi (VHF) 30MHz - 300MHz
Osilator Frekuensi Ultra Tinggi (UHF) 300MHz - 3GHz
Osilator Gelombang Mikro 3 GHz - Beberapa GHz

PRINSIF DASAR OSILATOR

Dalam suatu osilator, suatu resistansi negatif diberikan untuk kompensasi kehilangan-kehilangan (kebocoran) dalam rangkaian. Dalam osilator umpan-balik, umpan-balik positif dari luar cukup untuk membuat perolehan keseluruhan menjadi tidak terhingga dan memberikan resistansi negatif yang diperlukanuntuk menanggulangi peredaman alami dari osilator. Dalam osilator resistansi negatif terjadi umpan-balik positif dalam dan berperan menghasilkan resistansi negatif yang diperlukan.
Dalam suatu osilator tidak ada sinyal yang diberikan dari luar. Sinyal awal untuk menyulut (trigger) osilasi biasanya diberikan oleh tegangan derau. Tegangan derau muncul sewaktu catu daya dihidupkan. Karena spektrum frekuensi derau sangat lebar, osilator selalu memiliki tegangan komponen pada frekuensi yang benar untuk bekerjanya osilator.

RF amplifier

RF AMPLIFIER

RF amplifier adalah jenis penguat elektronik digunakan untuk mengkonversi berdaya rendah frekuensi radio sinyal menjadi sinyal yang lebih besar kekuatan yang penting, biasanya untuk mengemudi sebuah antena pemancar . Hal ini biasanya dioptimalkan untuk memiliki efisiensi tinggi, tinggi output Power (P1dB) kompresi , rugi laba atas input dan output, baik keuntungan , dan pembuangan panas yang optimal.

Untuk membuat amplifier kita bisa mengunakan transistor atau juga IC OP Amp. Di dalam op amp sebenarnya juga transistor yang sudah dalam bentuk rangkaian sehingga lebih mudah digunakan.

Misal IC yang digunakan di penguat Op Amp 741 adalah sebuah komponen elektronika monolitik penampilan tinggi yang menggunakan proses epitaksial fairchild (Herman, 1992: 346). IC Op Amp 741 merupakan sebuah IC yang di dalamnya terkemas sebuah rangkaian diferensial. Data sheet dari IC Op Amp 741 dapat dilihat di halaman lampiran.

Suatu penguat dapat dipandang dari beberapa segi, yaitu menurut jangkauan frekuensinya, cara operasinya, kegunaan dalam tujuan akhirnya, tipe bebannya, cara menggandeng antar tahanan dan lain–lain. Klasisfikasi frekuensi mencakup penguat–penguat dc (dari frekuensi nol), frekuensi audio (20 Hz sampai dengan 20 KHz), video atau pulsa (setinggi beberapa Mega Hertz), frekuensi radio (beberapa Kilo Hertz sampai dengan ratusan Kilo Hertz), dan frekuensi–ultra tinggi (ratusan atau ribuan Mega Hertz). Kedudukan operasi tenang (quiescent point) serta luas daerah karakteristik yang digunakan bersama-sama menetukan cara operasinya. Apakah transistor itu dioperasikan sebagai penguat kelas A, kelas AB, kelas B atau kelas C ditentukan menurut definisi berikut ini.

Penguat kelas A adalah penguat yang bekerja dengan titik operasi dan sinyal masuk yang sedemikian rupa hingga arus dalam rangkaian keluaran (dalam kolektor atau elektroda kuras) mengalir terus menerus. Penguat kelas A pada pokoknya beroperasi dalam daerah linier dari kurva karakteristiknya..

Penguat kelas B adalah penguat yang bekerja dengan titik operasinya terletak pada ujung kurva karakteristik, sehingga daya operasi tenang (quescent power)-nya sangat kecil. Jadi, dalam keadaan tersebut, arus atau tegangan operasi tenang hampir sama dengan nol. Apabila tegangan sinyal merupakan bentuk sinus, maka penguatan yang terjadi hanya berlangsung selama setengah siklus.

Penguat kelas AB adalah penguat yang beroperasi dalam daerah antara kedua keadaan operasi pada daerah A dan B. Jadi sinyal keluarannya sama dengan nol selama waktu yang tidak sampai setengah siklus dari sinyal masuk sinusida.

Penguat kelas C adalah penguat dengan titik operasinya dipilih sedemikian rupa sehingga (tegangan) keluarannya sama dengan nol selama waktu yang lebih panjang dari setengah siklus sinyal sinusida yang masuk. Pada penguat kelas B, transistor bekerja hanya dalam daerah aktif selama setengah periode. Selama setengah periode lainnya transistor tersebut tersumbat (cut off). Arus kolektor mengalir untuk 1800 dalam tiap transistor dari rangkaian kelas B. Dengan operasi ini, titik Q terletak di titik putus pada garis beban ac. Keuntungan dari operasi B adalah lebih kecilnya kehilangan daya transistor, daya beban dan efisiensi tahapan yang lebih besar.

CONTOH BLOK DIAGRAM

Gambar 1

input merupakan sumber suara yang masuk melui micropone. Sinyal suara akan di ubah oleh mikrophone menjadil sinyal listrik. Sinyal listrik ini selanjutnya di proses (diperkuat sampai 200 x) oleh IC op amp. Hasil penguatan selanjutny dimasukkan ke speaker dan kemudian oleh speaker di ubah menjadi suara. Volume suara yang dikeluarkan speaker jauh lebih keras dibanding suara yg dimasukkan pada microphone.

RF amplifier 144 MHz 30 Watt adalah penguat frekuensi tinggi, yang beroperasi pada spektrum VHF. Tujuan laporan akhir ini adalah untuk meningkatkan jarak jangkau komunikasi radio amatir FM dua meteran (HT). Rangkaian RF amplifier 144 MHz 30 Watt dibentuk oleh dua blok rangkaian utama yaitu blok penguat dan blok matching impedansi. Blok penguat berfungsi untuk menguatkan sinyal sedangkan untuk blok matching impedansi berfungsi untuk menyesuaikan impedansi penguat dengan sistem lainnya untuk mendapatkan penyaluran daya maksimum. Rangkaian RF amplifier144 MHz 30 Watt dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu driver dan final. Rangkaian driver merupakan rangkaian penguat tingkat dua dari penguat RF. Penguat driver adalah salah satu Penguat yang mentransfer daya input yang masuk dan menyalurkan ketingkat selanjutnya. Transistor yang digunakan pada pada tingkat ini yaitu menggunakan transistor 2SC1971. Sedangkan rangkaian tingkat akhir dari penguat yaitu rangkaian final dengan menggunakan transistor 2SC1946 dan direncanakan mempunyai daya keluaran sebesar 30 Watt. Berdasarkan hasil pengukuran, daya input yang dihasilkan oleh penguat RF sebesar 1 Watt sedangkan untuk daya output yang dihasilkan sebesar 25,12 Watt serta mempunyai gain atau penguatan secara keseluruhan sebesar 14 dB.

Fungsi

Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya (Pelepasan energy elektromagnetik ke udara / ruang bebas). Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik (Penerima energy elektromagnetik dari ruang bebas ) dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, sering dijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan penerima) sekaligus. Namun, pada sebuah teleskop radio, antena hanya menjalankan fungsi penerima saja.

[sunting] Karakter antena

+Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu. Misalnya, David Welkinson (0806322514) ingin membeli antena maka untuk mendapatkan antena yang sesuai dengan fungsi yang dinginkan, ia harus memimilih antena dengan karakter yang sesuai dengan fungsi yang dia inginkan.

[sunting] Pola radiasi

Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasiantena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang irisan arah azimuth (pola azimuth).

Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol. Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki directivity Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut.

Antena dipol termasuk non-directive antenna. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Pada astronomi radio, antena dipol digunakan pada teleskop radio untuk melakukan pengamatan pada rentang High Frekuensi (HF). Bentuk data yang dapat diperoleh adalah variabilitas intensitas sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi. Namun, karena antena dipol tidak memiliki directivity pada arah tertentu, teleskop radio elemen tunggal yang menggunakan antena jenis ini tidak dapat digunakan untuk melakukan pencitraan.

[sunting] Gain

Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.

[sunting] Polarisasi

Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal . Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah Half-power Beamwidth (HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beanwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.

[sunting] Penggunaan antena

[sunting] Penggunaan antena pada radio

Antena adalah salah satu elemen penting yang harus ada pada sebuah teleskop radio. Fungsinya adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya. Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sehinnya sinyal radio yang dipancarkan oleh stasiun radio dapat ditangkap oleh radio.

[sunting] Penggunaan antena pada televisi

Berdasarkan peraturan internasional yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan frekwensi (Radio Regulation) untuk penyiaran televisi pada pita frekwensi VHF dan UHF. Sejarah pertelevisian di Indonesia diawali pada tahun 1962 oleh TVRI di Jakarta dengan menggunakan pemancar televisi VHF. Pembangunan pemancar TVRI berjalan dengan cepat terutama setelah diluncurkannya satelite palapa pada tahun 1975. Pada tahun 1987, yaitu lahirnya stasiun penyiaran televisi swasta pertama di Indonesia, stasiun pemancar TVRI telah mencapai jumlah kurang lebih 200 stasiun pemancar yang keseluruhannya menggunakan frekwensi VHF, dan pemancar TV swasta pertama tersebut diberikan alokasi frekuensi pada pita UHF. Kebijaksanaan penggunaan pita frekwensi VHF untuk TVRI dan UHF untuk swasta. Sehingga untuk menagkap siran TV digunakan antena VHF dan UHF.

[sunting] Penggunaan antena pada radar

Radar atau Radio Detection and Ranging adalah suatu alat yang sistemnya memancarkan gelombang elektromagnetik berupa gelombang radio dan gelombang mikro. Pantulan dari gelombang yang dipancarkan tadi digunakan untuk mendeteksi obyek. Radar menggunakan spektrum gelombang elektromagnetik pada rentang frekuensi 300 MHz hingga 30 GHz atau panjang gelombang 1 cm hingga 1 meter. Komponen sistem radar :

  1. Transmiter untuk membangkitkan sinyal radio dari osilator.
  2. Waveguide adalah penghubung antara Transmiter dan Antena.
  3. Receiver adalah penerima pantulan sinyal radio
  4. Signal processor adalah peralatan yang mengubah sinyal analog ke sinyal digital.
  5. Radar Controller adalah penghubung yang akan mengantarkan informasi ke user

[sunting] Jenis

[sunting] Berdasarkan fungsi

Berdasarkan fungsinya antena dibedakan menjadi antena pemancar, antena penerima, dan antena pemancar sekaligus penerima. Di Indonesia antena pemancar banyak dimanfaatkan pada staisun-satsiun radio dan televisi. Selanjutnaya antena penerima, antena penerima ini bisanya digunakan pada alat-alat seperti radio, tv, dan alat komunikasi lainnya.

[sunting] Berdasarkan gainnya

Berdasarkan besarnya Gainnya antena dibedakan menjadi antena VHF dan UHF yang biasanya digunakan pa TV. Kiranya semua orang tahu bahwa besarnya daya pancar, akan memengaruhi besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat tertentu pada jarak tertentu dari stasiun pemancar televisi. Semakin tinggi daya pancar semakin besar level kuat medan penerimaan siaran televisi. Namun demikina besarnya penerimaan siaran televisi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya daya pancar. Untuk memperbesar daya pancar pada stasiun Tv dan daya terima pada Tv maka perlu digunakan antena.

Besarnya Gain antena dipengaruhi oleh jumlah dan susunan antena serta frekuensi yang digunakan. Antena pemancarUHF tidak mungkin digunakan untuk pemancar TV VHF dan sebaliknya, karena akan menimbulkan VSWR yang tinggi. Sedangkan antena penerima VHF dapat saja untuk menerima signal UHF dan sebaliknya, namun Gain antenanya akan sangat mengecil dari yang seharusnya. Kualitas hasil pencaran dari pemancar VHF dibandingkan dengan kualitas hasil pancaran dari pemancar UHF adalah sama asalkan keduanya memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang telah ditentukan.

[sunting] Berdasarkan polarisasinya

Berdasarkan polarisasinya antena dibedakan menjadi dua yaitu antena dipol dan monopol. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal, sedangkan antena monopol polarisasinya hanya pada satu arah. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Antena Directional dan antena Omnidirectional Antenna Directional adalah antenna yang pola radiasi pancarannya terarah sehingga efektifitas pancaran radio hanya ke satu arah saja,sedangkan antenna Omnidirectional dapat memancarkan gelombang ke segala arah.Yang termasuk Antenna Directional adalah antena model Yagi seperti kebanyakan yang dipakai sebagai antena penerima siaran TV.Contoh antena omnidirectional adalah antena model groundplane.

[sunting] Berdasarkan bentuknya

Antena berdasarkan bentuknya antara lain: mikrostrip, parabola, vee, horn, helix, dan loop. Walaupun amat sering dijumpai teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk parabola, ada beberapa jenis antena lainnya yang juga sering digunakan pada sebuah teleskop radio atau interferometer. Misalnya, Mauritius Radio Telescope(MRT) yang menggunakan 1084 buah antena berbentuk helix . Contoh lainnya adalah teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn, yang digunakan oleh Arno Penzias dan Robert Woodrow Wilson ketika menemukan Cosmic Microwave Background(CMB). Contoh antena berdasarkan bentuknya adalah antena parabola, Antena parabola merupakan antena yang berbentuk parabola, pancaran sinyal akan dikonsentrasikan pada titik tengah antenna. Antenna parabola biasanya didesain untuk Frekuensi Ultra Tinggi UHF, penerima siaran TV Satelit, dan transmisi gelombang mikro

DE EMPHASIS

De-penekanan

From Wikipedia, the free encyclopedia Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Jump to: navigation , search Langsung ke: navigasi , cari

In telecommunication, de-emphasis is a system process designed to decrease, (within a band of frequencies), the magnitude of some (usually higher) frequencies with respect to the magnitude of other (usually lower) frequencies in order to improve the overall signal-to-noise ratio by minimizing the adverse effects of such phenomena as attenuation differences or saturation of recording media in subsequent parts of the system. Dalam telekomunikasi, de-penekanan adalah proses sistem yang dirancang untuk mengurangi, (dalam sebuah band frekuensi), besarnya dari beberapa (biasanya lebih tinggi) frekuensi sehubungan dengan besarnya yang lain (biasanya lebih rendah) frekuensi dalam rangka meningkatkan keseluruhan sinyal -to noise rasio dengan meminimalkan dampak dari fenomena seperti perbedaan atenuasi atau kejenuhan media perekaman di bagian berikutnya dari sistem.
It is the complement of pre-emphasis , and the whole system is called emphasis . Ini adalah komplemen dari pra-penekanan , dan sistem secara keseluruhan disebut penekanan . Special time constants dictate the frequency response curve, from which one can calculate the cutoff frequency . Khusus konstanta waktu menentukan respon frekuensi kurva, dari yang satu dapat menghitung frekuensi cutoff .

Pre-emphasis is commonly used in audio digital recording, record cutting and FM radio transmission . Pra-penekanan umumnya digunakan dalam rekaman audio digital, memotong merekam dan radio FM transmisi .

In serial data transmission , de-emphasis has a different meaning, which is to reduce the level of all bits except the first one after a transition. Dalam transmisi data serial , de-penekanan memiliki arti yang berbeda, yang adalah untuk mengurangi tingkat semua bit kecuali yang pertama setelah transisi. That causes the high frequency content due to the transition to be emphasized compared to the low frequency content which is de-emphasized. Yang menyebabkan kandungan frekuensi tinggi karena transisi yang akan ditekankan dibandingkan dengan isi frekuensi rendah yang de-ditekankan. This is a form of transmitter equalization; it compensates for losses over the channel which are larger at higher frequencies. Ini adalah bentuk pemerataan pemancar, tetapi mengkompensasi kerugian atas saluran yang lebih besar pada frekuensi yang lebih tinggi. Well known serial data standards such as PCI Express , SATA and SAS require transmitted signals to use de-emphasis. Terkenal data serial standar seperti PCI Express , SATA dan SAS memerlukan ditransmisikan sinyal untuk menggunakan de-penekanan.

Audio Mixer

Dalam dunia Audio profesional, sebuah mixing console, apakah itu analog maupun digital, atau juga disebut soundboard / mixing desk (papan suara) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi memadukan (lebih populer dengan istilah “mixing”), pengaturan jalur (routing) dan mengubah level, serta harmonisasi dinamis dari sinyal audio. Siynal - sinyal yang telah diubah dan diatur kemudian dikuatkan oleh penguat akhir atau power amplifier.
Audio mixer secara luas digunakan dalam berbagai keperluan, termasuk studio rekaman, sistem panggilan publik (public address), sistem penguatan bunyi, dunia penyiaran baik radio maupun televisi, dan juga pasca produksi pembuatan film. Suatu contoh yang penerapan sederhana, dalam suatu pertunjukan musik misalnya, sangatlah tidak efisien jika kita menggunakan masing masing amplifier untuk menguatkan setiap bagian baik suara vokal penyanyi dan alat alat musik yang dimainkan oleh band pengiringnya. Disini Audio mixer akan menjadi bagian penting sebagai titik pengumpul dari masing masing mikropon yang terpasang, mengatur besarnya level suara sehingga keseimbangan level bunyi baik dari vokal maupun musik akan dapat dicapai sebelum diperkuat oleh amplifier.
Mixer adalah salah satu perangkat paling populer setelah microphone. Kita lebih mengenalnya dengan sebutan mixer, mungkin kebanyakan kita menyebutnya demikian karena fungsinya yang memang mencampur segala suara yang masuk, kemudian men-seimbangkannya, menjadikannya dua (L-R kalau stereo, dan satu kalau mono), kemudian mengirimkannya ke cross-over baru ke power amplifier dan akhirnya ke speaker.
Mixing console menerima berbagai sumber suara. Bisa dari microphone, alat musik, CD player, tape deck, atau DAT. Dari sini dengan mudah dapat dilakukan pengaturan level masukan dan keluaran mulai dari yang sangat lembut sampai keras. Kalau kita misalkan sebuah system audio iu umpamakan sebagai tubuh manusia, snake cable bisa kita umpamakan sebagai system syaraf, dan mixing console sebagai jantungnya. Bila terjadi suatu masalah dengannya, berarti system tersebut sedang dalam masalah besar. Salah satu syarat terpenting dalam mixing console yang baik adalah mempunyai input gain yang baik, pengaturan eq yang juga baik. Maka dengan demikian akan dapat dilakukan pengaturan yang lebih sempurna dan optimal terhadap setiap input microphone, atau apapun yang menjadi sumber suaranya. Ada banyak tipikal pengaturan yang terdapat dalam sebuah mixing console.

Limiter

From Wikipedia, the free encyclopedia Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Jump to: navigation , search Langsung ke: navigasi , cari

For speed limiters, see centrifugal governor . Untuk pembatas kecepatan, lihat Gubernur sentrifugal .

In electronics , a limiter is a circuit that allows signals below a specified input power to pass unaffected while attenuating the peaks of stronger signals that exceed this input power. Dalam elektronik , limiter adalah sebuah sirkuit yang memungkinkan sinyal di bawah daya input yang ditetapkan untuk lulus tidak terpengaruh sementara menghaluskan puncak sinyal kuat yang melebihi ini input daya.

A FM radio receiver usually has at least one stage of amplification for this purpose. Sebuah radio FM penerima biasanya memiliki setidaknya satu tahap amplifikasi untuk tujuan ini. It provides a constant level of signal to the FM demodulator stage, reducing the effect of signal level changes in the output. Ini memberikan tingkat konstan sinyal ke FM demodulator panggung, mengurangi efek perubahan tingkat sinyal pada output. If two or more signals are received at the same time, a high performance limiter stage can greatly reduce the effect of the weaker signals on the output. Jika dua atau lebih sinyal yang diterima pada saat yang sama, tahap kinerja tinggi limiter dapat sangat mengurangi efek dari sinyal lemah pada output. This is commonly referred to as the FM capture effect . Hal ini sering disebut sebagai FM efek capture .

Generally, FM demodulators are not affected by amplitude variations, since the baseband is contained in the frequency deviations. Umumnya, demodulasi FM tidak terpengaruh oleh variasi amplitudo, karena baseband terkandung dalam deviasi frekuensi. Some detectors, including the Ratio Detector , inherently limit gain by a nature of the circuit design. Beberapa detektor, termasuk Detektor Rasio , inheren batas keuntungan oleh sifat dari desain sirkuit. In AM radio , the intelligence is located in the amplitude variations, and distortion can occur due to spurious signals that could cause the baseband to be misrepresented. Dalam radio AM , intelijen terletak di variasi amplitudo, dan distorsi dapat terjadi karena sinyal palsu yang dapat menyebabkan baseband yang akan salah mengartikan.

Mastering engineers often use limiting combined with make-up gain to increase the perceived loudness of an audio recording during the audio mastering process. Menguasai insinyur sering menggunakan membatasi dikombinasikan dengan make-up keuntungan untuk meningkatkan dirasakan kenyaringan dari sebuah rekaman audio selama mastering audio proses.

Klasifikasi Penguat Audio - bagian pertama dari 3 tulisan

PDF

Print

E-mail

Written by Aswan Hamonangan

Sunday, 18 January 2009 03:10

Sudah menjadi suatu hal yang lumrah jika seseorang selalu mencari sesuatu yang lebih baik. Tak terkecuali di bidang rancang bangun penguat amplifier, perancang, peminat atau insinyur elektronika tak pernah berhenti mencari berbagai macam konsep yang lebih baik. Ada beberapa jenis penguat audio yang dikategorikan antara lain sebagai penguat class A, B, AB, C, D, T, G, H dan beberapa tipe lainnya yang belum disebut di sini. Tulisan berikut membahas secara singkat apa yang menjadi ciri dan konsep dari sistem power amplifier (PA) tersebut.

Fidelitas dan Efisiensi

Penguat audio (amplifier) secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan sinyal input. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, sinyal input di-replika (copied) dan kemudian di reka kembali (re-produced) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Dari sinilah muncul istilah fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran hasil replika terhadap sinyal masukan. Ada kalanya sinyal input dalam prosesnya kemudian terdistorsi karena berbagai sebab, sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. Sistem penguat dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (high fidelity), jika sistem tersebut mampu menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. Hanya level tegangan atau amplituda saja yang telah diperbesar dan dikuatkan. Di sisi lain, efisiensi juga mesti diperhatikan. Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi dari penguat itu yang dinyatakan dengan besaran persentasi dari power output dibandingkan dengan power input. Sistem penguat dikatakan memiliki tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada proses penguatannya yang terbuang menjadi panas.

PA kelas A

Contoh dari penguat class A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor. Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu yang ada pada garis bebannya. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban kurva VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Gambar berikut adalah contoh rangkaian common emitor dengan transistor NPN Q1.

gambar 1 : rangkaian dasar kelas A

Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc + IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Selanjutnya pembaca dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus tersebut. Sedangkan resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong titik Q.

gambar 2 : Garis beban dan titik Q kelas A

Besar arus Ib biasanya tercantum pada datasheet transistor yang digunakan. Besar penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Analisa rangkaian AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner menyambungkan VCC ke ground. Dengan cara ini rangkaian gambar-1dapat dirangkai menjadi seperti gambar-3. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung singkat.

gambar 3 : rangkaian imajimer analisa ac kelas A

Dengan adanya kapasitor Ce, nilai Re pada analisa sinyal AC menjadi tidak berarti. Pembaca dapat mencari lebih lanjut literatur yang membahas penguatan transistor untuk mengetahui bagaimana perhitungan nilai penguatan transistor secara detail. Penguatan didefenisikan dengan Vout/Vin = rc / re`, dimana rc adalah resistansi Rc paralel dengan beban RL (pada penguat akhir, RL adalah speaker 8 Ohm) dan re` adalah resistansi penguatan transitor. Nilai re` dapat dihitung dari rumus re` = hfe/hie yang datanya juga ada di datasheet transistor. Gambar-4 menunjukkan ilustrasi penguatan sinyal input serta proyeksinya menjadi sinyal output terhadap garis kurva x-y rumus penguatan vout = (rc/re) Vin.

gambar 4 : kurva penguatan kelas A

Ciri khas dari penguat kelas A, seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif. Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Asalkan sinyal masih bekerja di daerah aktif, bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal input. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% - 50%. Ini tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A, sehingga walaupun tidak ada sinyal input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan. Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi panas. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar.

google_ad_client = “pub-0989449978752726″;
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 15;
google_ad_format = “728×15_0ads_al”;
google_ad_channel = “”;
google_color_border = “FFFFFF”;
google_color_bg = “FFFFFF”;
google_color_link = “1D2D63″;
google_color_text = “000000″;
google_color_url = “CCCCCC”;
//–>

This stereo encoder is the perfect solution for those looking for a high quality stereo sound transmission at a low cost. Stereo encoder ini adalah solusi sempurna bagi mereka yang mencari transmisi stereo kualitas suara yang tinggi dengan biaya rendah. This stereo encoder produces an excellent crystal clear stereo sound and very good channel separation that can match with many more expensive stereo encoders that are available on the market. Stereo encoder ini menghasilkan suara stereo yang jelas kristal yang sangat baik dan sangat baik pemisahan saluran yang dapat cocok dengan banyak encoders stereo lebih mahal yang tersedia di pasar. It is all possible thanks to a 38KHz quartz crystal that controls the 19kHz pilot tone, so you will never have to calibrate or re-adjust the circuit. Itu semua dimungkinkan berkat kristal kuarsa 38KHz yang mengontrol nada pilot 19kHz, sehingga Anda tidak akan pernah untuk mengkalibrasi atau kembali menyesuaikan sirkuit.
NJM2035 offers superb quality and is manufactured by NJR CORPORATION (JRC), a subsidiary of New Japan Radio, a company that is known as the world’s best manufacturer of high end professional audio semiconductors. NJM2035 menawarkan kualitas hebat dan diproduksi oleh NJR CORPORATION (JRC), anak perusahaan dari Jepang Baru Radio, sebuah perusahaan yang dikenal sebagai produsen terbaik dunia semikonduktor high end professional audio. This transmitter will work with any mono FM transmitter including TX300 and TX500 which are available on our website. pemancar ini akan bekerja dengan pemancar FM mono termasuk TX300 dan TX500 yang tersedia di website kami. The whole circuit may easily fit on a small 1” x 1.5” printed circuit board allowing to fit in places where space is limited. Seluruh rangkaian dengan mudah dapat muat pada 1 kecil “x 1.5″ tercetak papan sirkuit yang memungkinkan untuk menyesuaikan di tempat mana ruang terbatas. While building your stereo encoder please take your time and always double check with the schematic to make sure that all the connections are done correctly. Sementara bangunan encoder stereo Anda silahkan meluangkan waktu anda dan selalu periksa dengan skema untuk memastikan bahwa semua koneksi yang dilakukan dengan benar. If you have any questions, comments or suggestion we will be glad to further assist you. Jika Anda memiliki pertanyaan, komentar atau saran kami akan dengan senang hati membantu Anda lebih lanjut.

NJM2035 - Internal Block Diagram NJM2035 - Diagram Blok Internal


How Does Stereo Encoder Work? Bagaimana Bekerja Encoder Stereo?


The stereo encoder consists of three main stages; pre-emphasis, digital encoder and mixer stages. Encoder stereo terdiri dari tiga tahap utama, pra-penekanan, encoder digital dan tahap mixer.

Pre-emphasis stage is achieved by using two 47K resistors and two 1nF capacitors. Pra-penekanan tahap ini dicapai dengan menggunakan dua 47K resistor dan dua 1NF kapasitor. This helps to eliminate the noise that is produced during the FM transmission of your audio signal. Hal ini membantu untuk menghilangkan kebisingan yang dihasilkan selama transmisi FM sinyal audio Anda.

Second stage that is built around NJM2035 is a digital encoder. Tahap kedua yang dibangun di sekitar NJM2035 adalah encoder digital. All of its internal blocks except for two audio amplifiers (pins 1 & 14) that act as separators are created using digital circuits. Semua blok internal kecuali dua amplifier audio (pin 1 & 14) yang bertindak sebagai pemisah dibuat menggunakan sirkuit digital. The first digital circuit is a 38KHz oscillator that is generated by using external 38KHz crystal (pin 7), 10pF capacitor (pin 6) and 100pF bypass capacitor (pin 5). Rangkaian digital pertama adalah osilator 38KHz yang dihasilkan dengan menggunakan kristal eksternal 38KHz (pin 7), 10pF kapasitor (pin 6) dan 100pF kapasitor bypass (pin 5). Once 38KHz frequency is generated it is then buffered and divided into two 19KHz signals with a phase difference of 180 degrees. Setelah 38KHz frekuensi yang dihasilkan itu kemudian buffered dan dibagi menjadi dua 19KHz sinyal dengan beda fase 180 derajat. Once that is done these two frequencies are connected with two time division MPX digital alternating switchers ,one for each audio channel. Setelah itu dilakukan dua frekuensi dihubungkan dengan dua pembagian waktu beralih MPX bolak digital, satu untuk setiap channel audio. Here audio channels are switched between each other with a total frequency of 38KHz. Berikut channel audio diaktifkan antara satu sama lain dengan total frekuensi 38KHz. If you would be able to slow this frequency to 1Hz per second you would be able to hear that this all but a trick. Jika Anda akan dapat untuk memperlambat frekuensi ini untuk 1Hz per detik Anda akan dapat mendengar bahwa trik ini semua tapi. During the first half of the second you would hear the left audio channel and during the second half of the second you would hear the right audio channel. Selama semester pertama tahun yang kedua Anda akan mendengar channel audio kiri dan pada paruh kedua kedua Anda akan mendengar channel audio yang tepat. Due to the fact that the channels are switched with a fast frequency of 38KHz per second our brain is unable to recognize that these channels are really switched and receives this as a continuous audio signal. Karena kenyataan bahwa saluran yang diaktifkan dengan frekuensi yang cepat 38KHz per detik otak kita tidak dapat mengakui bahwa saluran ini benar-benar diaktifkan dan menerima ini sebagai sinyal audio kontinyu. At the same time another signal from the 38KHz oscillator is divided by half into 19KHz. Pada saat yang sama lain sinyal dari osilator 38KHz dibagi setengah ke 19KHz. This signal is called a PILOT tone because it will help a stereo decoder on the receiver’s part to slice the MULTIPLEX signal (mixed L and R audio channels) and separate them back into left and right audio channels. Sinyal ini disebut nada PILOT karena akan membantu decoder stereo pada bagian penerima untuk mengiris sinyal MULTIPLEX (L dicampur dan saluran R audio) dan memisahkan mereka kembali ke channel audio kiri dan kanan.

The third stage is a mixer that consists of 33uF and 100nF capacitors and 82K and 10K resistors. Tahap ketiga adalah mixer yang terdiri dari 33uF dan 100nF kapasitor dan resistor 82K dan 10K. The role of this circuit is to mix the multiplex subcarrier and pilot signals together. Peran rangkaian ini adalah untuk mencampur subcarrier multipleks dan sinyal pilot bersama-sama. The multiplex subcarrier signal that is coming out from the pin 9 of the NJM2035 IC is the sum and difference of both left and right audio channels that are switched at 38Khz rate. The subcarrier multipleks sinyal yang keluar dari pin 9 dari IC NJM2035 adalah jumlah dan perbedaan dari kedua channel audio kiri dan kanan yang diaktifkan di tingkat 38Khz. The PILOT signal that is coming out of pin 8 is a 19KHz frequency that is used to distinguish what channel is currently being switched and without which stereo decoding would not be possible. Sinyal PILOT yang keluar dari pin 8 adalah frekuensi 19KHz yang digunakan untuk membedakan apa saluran saat ini sedang diaktifkan dan tanpa decoding stereo yang tidak akan mungkin.

Otomatis kontrol frekuensi

From Wikipedia, the free encyclopedia Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Jump to: navigation , search Langsung ke: navigasi , cari

For other uses, see AFC (disambiguation) . Untuk kegunaan lain, lihat AFC (disambiguasi) .

This article does not cite any references or sources . Artikel ini tidak mengutip manapun acuan atau sumber .
Please help improve this article by adding citations to reliable sources . Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan kutipan ke sumber terpercaya . Unsourced material may be challenged and removed . (December 2009) Disertai rujukan bahan mungkin ditantang dan dihapus . (Desember 2009)

In radio equipment, Automatic Frequency Control (AFC) is a method (or device) to automatically keep a resonant circuit tuned to the frequency of an incoming radio signal . Dalam radio peralatan, Otomatis Frekuensi Control (AFC) merupakan metode (atau perangkat) untuk secara otomatis menyimpan sirkuit resonan disetel ke frekuensi dari Kotak masuk sinyal radio . It is primarily used in radio receivers to keep the receiver tuned to the frequency of the desired station. Hal ini terutama digunakan dalam penerima radio untuk menjaga penerima disetel ke frekuensi stasiun radio yang dikehendaki.

In radio communication AFC is needed because, after the bandpass frequency of a receiver is tuned to the frequency of a transmitter , the two frequencies may drift apart, interrupting the reception. Dalam komunikasi radio AFC diperlukan karena, setelah bandpass frekuensi penerima disetel ke frekuensi dari pemancar , dua frekuensi bisa drift terpisah, menyela resepsi. This can be caused by a poorly controlled transmitter frequency, but the most common cause is drift of the center bandpass frequency of the receiver, due to thermal or mechanical drift in the values of the electronic components. Hal ini dapat disebabkan oleh frekuensi pemancar kurang terkontrol, tetapi penyebab paling umum adalah drift frekuensi bandpass pusat penerima, karena melayang termal atau mekanis dalam nilai komponen elektronik.

Assuming that a receiver is nearly tuned to the desired frequency, the AFC circuit in the receiver develops an error voltage proportional to the degree to which the receiver is mistuned. Dengan asumsi bahwa penerima hampir disetel ke frekuensi yang dikehendaki, AFC rangkaian dalam receiver mengembangkan kesalahan tegangan sebanding dengan sejauh mana penerima mistuned. This error voltage is then fed back to the tuning circuit in such a way that the tuning error is reduced. Tegangan error ini kemudian makan kembali ke sirkuit tuning sedemikian rupa sehingga kesalahan tuning berkurang. In most frequency modulation (FM) detectors an error voltage of this type is easily available. Pada kebanyakan modulasi frekuensi (FM) detektor tegangan kesalahan jenis ini adalah mudah tersedia. See Negative feedback . Lihat umpan balik negatif .

AFC is also called Automatic Fine Tuning (AFT) in radio and TV receivers. AFC juga disebut Automatic Fine Tuning (AFT) di penerima radio dan TV. It became rare in this application, late in the 20th century, as the more effective frequency synthesizer method became cheaper and more widespread. Ini menjadi langka di aplikasi ini, di akhir abad ke-20, karena lebih efektif frekuensi synthesizer metode menjadi lebih murah dan lebih luas.

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul:

“RUMUS SUKSES MENGHADAPI UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI”

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.

Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun dePmikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Samarinda, 3 maret 2005

Penulis

II. Pendahuluan

Penerima FM rnerupakan penerirna superheterodyne yang hampir menyerupai penerima AM superheterodyne, hanya dalam penerima H-l, frekuensi kerjanya yang lebih tinggi, perlu proses Iimitasi dan de-emphasis. Proses demodulasi dan penerapan AGC memakai metoda yang berbeda.

Seperti diketahui bahwa pernancar hanya memancarkan satu gelombang radio, ge!ombang radio inilah yang ditangkap oleh rangkaian penala. Namun perlu diingat bahwa sinyal yang ditangkap tersebut adalah sinyal matriks yang dimodulasikan pada gelombang pernbawa, sehingga untuk rnendapatkan sinyal aslinya yaitu sinyal audio stereo diperlukan beberapa tahapan proses.

Pada umurnnya ranqkaian penerima FM yang ada, rangkaiannya terdiri atas beberapa tahap, yaitu:

1. Penguat RF (RF amplifier)

2. Mixer

3. Osilator lokal

4. Penguat IF 10.7 MHz

5. Limiter

6. AFC

7. Rangkaian demodulasi (Diskriminator)

8. De-emphasis

9. Penguat Audio

Untuk Penerima FM stereo masih ditambah rangkaian demultiplekser, yaitu untuk mengubah kembali dari sinyal multipleks stereo yang diterima menjadi sinyal audio yang stereo.

Proses yang berlangsung pacta sebuah Penerirna FM stereo adalah:

1. Sinyal RF (gelombang FM) diterima antena dan dikuatkan oleh penguat RF.

2. Sinyal RF tad: dicarnpurkan dcngan slnval dari osiiator lokai sehingga menghasilkan frekuensi perbedaan yang besarnva sama dengan frekuensi IF, yaitu 10,7 MHz.

3. Setelah proses pemilteran, maka sinya! ini diperkuat oleh penguat IF.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 6 jam lalu

Masih Adakah Harapan bagi Win-HT? …

Syarif | 8 jam lalu

Menelanjangi Iklan LA Lights ‘Cari …

Giri Lumakto | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: