Artikel

Gadget

Beginikah Cara Korporasi Besar Sekaliber “Telkomsel” Mengeruk Keuntungan?


REP | 27 January 2012 | 11:23 Dibaca: 394   Komentar: 21   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Setelah kita menikmati berita-berita, debat antara konsumen, provider content dan operator beberapa waktu lalu tentang penyedotan pulsa konsumen, saya hari ini begitu jengah merasakan ulah salah satu korporasi besar yang bergerak di bidang ‘perpulsaan’  dan mengambil komedian SULE sebagai upaya untuk menjual produknya.

Setelah kira-kira sebulan lalu istri saya komplain kalau pulsanya sejumlah Rp. 10.000,00 habis dalam waktu beberapa detik, hari ini saya kebagian jatah untuk merasakan ulah sporadis, kotor dan menjengkelkan operator tersebut dalam menyedot pulsa saya. Saya tidak melihat berapa jumlah yang disedot, namun melihat karakter dan strategi “busuk” yang diterapkannya jadi “sebel” juga.

Ceritanya begini! Saya memang pengguna baru nomor As dengan nomor 0852-8449-72**, yang saya regristasikan atas nama saya sendiri. Nomor ini baru saya aktifkan belum ada tiga bulan. Alasan saya menggunakan adalah kebanyakan keluarga lebih tertarik menggunakan nomor ini, katanya kalau satu operator lebih efisien untuk ber”tilpun-tilpunan”. Akhirnya saya dan istri mencoba untuk membeli dan mengaktifkan “agar lebih murah”.

Mungkin juga alasan ini, sering jadi alasan beberapa pengguna dalam memutuskan operator apa yang akan digunakan. Termasuk saya dan istri ketika itu.

Saaya kemarin mendengar bahwa ibu saya di kampung sedang tidak sehat. Saya rencana ingin menelpon untuk mengetahui perkembangannya. Baru tadi pagi saya dikirim pulsa Rp. 5.000 oleh istri saya, karena toko di sekitar tempat tinggal belum ada yang buka.

Saya mendapatkan pesan dari M-Tronik yang isinya “No. ponsel anda telah berhasil diisi pulsa oleh S.A. sebesar Rp. 5.000 Regular pada 27/01 06:46. Ref: 553722342.” Betul HP saya terisi pulsa sejumlah itu. Beberapa menit kemudian, saya pakai nelpon. Setelah beberapa detik nelpon, tiba-tiba HP saya mendengung kencang sekali dan pembicaraan kami tidak jelas. Karena suaranya semakin kencang, akhirnya saya putus. Saya ulang lagi telpon ibu saya. Masuk. Dalam beberapa detik berikutnya hubungan kami terputus. Setelah saya cek ternyata pulsa saya tinggal Rp. 20.

Saya menelpon sekitar pukul 6.45. Artinya waktu itu belum melewati masa-masa puncak yang biasanya tarifnya pun sangat tinggi.

Saya ingat betul, iklan-iklan Kartu As yang menggebu-gebu ditelevisi. Iklan itu begitu histeris seakan menginformsikan bahwa Kartu As adalah kartu yang aman buat rakyat kecil. Padahal betul, Kartu As itu adalah kartu pada level ketiga yang menjadi andalan Telkomsel, setelah Kartu Hallo, Kartu Simpati.

Saya berpikir seandainya saja sudah ada satu juta pengguna mengalami hal yang sama dengan saya, Rp. 5.000 habis dalam waktu beberapa detik (dibawah 15 detikan). Berapa keuntungan Telkomsel dalam sehari. Berapa jumlah angka nol yang muncul dalam profit mereka? Tentu pengalaman saya ini juga diperkuat oleh pengalaman istri saya yang kehilangan pulsa Rp. 10.000 dalam hitungan detik pula.

Andai saja pihak Telkomsel masih berkilah kalau telah disediakan model paket-paketan, tentu harga yang disetting seharusnya tidak liar seperti itu. Paket-paketen tentu boleh-boleh saja tetapi tolong konsumen yang tersebar di seluruh Indonesia dengan latar pendidikan itu dihargai. Artinya kalau saja seluruh pengguna melek tehnologi tidak masalah. Saya yakin betul pengguna yang tersebar yang tidak sedikit juga dari kaum petani yang “tidak pernah makan sekolahan” tentu tidak berpikir ala paket. Boro-boro ngurus paketan, SMS saja mereka banyakyang  tidak bisa. Jadi nyaris menggunakan HP itu untuk nelpon.  Mereka juga akan berpikir bahwa kartu itu adalah kartu yang aman bagi mereka dan kantong mereka.

Harapan saya tolong lah… Usaha-usaha mencari keuntungan dengan “pembodohan” kepada konsumen seperti ini dihentikan. Perusahaan besar sekaliber Telkomsel, harusnya malu-malu-malu-malu dan malu mencari keuntungan dengan memiskinkan rakyat kecil yang telah memberikan keuntungan yang tidak sedikit pada perusahaan itu.

Buat pengguna, hati hatilah. Iklan di TV itu banyak hoaxnya dari pada jujurnya. Untuk Telkomsel, jangan rusak nama besarmu dengan “kebodohan” seperti itu. Jujurlah pada konsumen dan carilah keuntungan dengan cara yang baik dan halal…..

Semoga….

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: