
Dibaca: 1869
Komentar: 48
6 dari 8 Kompasianer menilai aktual
ilustrasi (enterprisegeeks.com)
Untuk apa anda membeli Blackberry ? Karena harganya terjangkau saat ini, fasilitas yang yang menarik dan canggih, ataukah karena alasan privasi ? Tentu saja setiap orang memiliki alasannya masing-masing.
Saya sempat heran mendengar alasan pengguna smartphone di Indonesia. Selain melihat fasilitas yang menjanjikan, ternyata ada juga yang mempertimbangkan hal penyadapan. Gak salah memang kalau hal ini menjadi pertimbangan khusus terkait masalah privasi, tapi siapa yang mau menyadap ? Nah kalau memang memiliki tujuan “gak bener, bisa saja hal ini diprioritaskan.
Sudah berulang kali saya mendengar hal seperti ini, bahkan sejak pemilu dua tahun lalu ketika adanya isu penyadapan besar-besaran, mereka berbodong-bodng membeli BB. Belum lagi ketika banyak teman berbicara tentang amannya bertransaksi “pungutan liar” melalui Blackbarry Messenger (BBM). Menurut mereka, untuk jenis seluler dan provider lain di Indonesia sudah ada payung hukumnya mengenai hal penyadapan, sedangklan untuk BB belum ada.
Apalagi ketika mengetahui bahwa Research in Motion (RIM) belum membuka data center di Indonesia. Lengkaplah sudah, mereka semakin percaya diri bahwa BBM memang akan tetap sulit untuk disadap di Indoensia dan pada akhirnya mereka dapat melakukan segala hal tanpa di ketahui.
“ah benar, aman kok ! Wong mau selingkuh aja aman-aman saja !” Kata seorang teman. Hmm saya juga menggunakannya, tapi kok serius amat ya ngotot membeli BB untuk tujuan seperti itu ? Apa anda yakin aman ?
Kalau saya bilang bisa saja disadap bagaimana ? Gak percaya ya ? Paling gak untuk penyadapan ini bisa menggunakan beberapa software seperti eBlaster Mobile BBM Spy Software atau Monitor BlackBerry Messenger With MobiStealth. Hanya masalahnya, kita harus menginstall software tersebut pada Blackberry sasaran.
Untuk mendapat hasil yang memuaskan, aplikasi-palikasi tersebut harus dibeli. Namun sekali lagi resikonya, kita harus berhadapan dengan hukum karena melanggar privasi orang lain. Apalagi institusi yang berhak melakukan penyadapan adalah Polri, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Narkotika Nasional. Itupun gak mudah, harus melalui rangkaian prosedur yang pajang. Tapi kalu saja mempertimbangkan keutuhan rumah tangga, ya silahkan saja.
Sedangkan penyadapan langsung tanpa aplikasi rasanya memang masih belum bisa, karena RIM sangat ketat dalam menjaga privasi penggunanya. Tapi tetap saja masih ada celahnya, ketika kita berkomunikasi dengan orang lain yang sengaja menjebak kita atau bagi mereka yang suka menyimpan BBM History atau screenshot hasil Chat BBM. Bukti-bukti tersebut masih bisa digunakan di pengadilan.
Terlepas dari itu semua, apakah karena alasan penyadapan tersebut lalu ramai-ramai membeli Blackberry ? Ini yang saya pikir agak sedikit berlebihan. Walau menggunakan alasan privasi bukan berarti kita harus melegalkan kegiatan yang melanggar hukum.
Saya gak bermaksud sok suci dan menggurui, tetapi sudah cukup banyak bukti yang saya saksikan ketika teman-teman saya mengalami masalah serius karena Blackberry. Karena rasa aman itulah, banyak ibu-ibu muda merasa aman-aman saja berbicara bebas dan berkiriman foto “dewasa” melalui BBM. Namanya juga manusia kadang lengah, ketika salah satu dari mereka kedapatan melakukan hal ini, suaminya menjadi berang dan mengancam untuk bercerai.
Terlalu banyak kasus BB yang bisa saya ceritakan, semua ini karena mereka merasa BBM dapat menyembunyikan segala ‘kebusukan’. Pantes saja, mau mandi saja BB dikantongin. Ketika tidur BB ditaruh dibawah bantal. Benar-benar menjadi barang berharga, yang menyimpan sejuta misteri di dalamnya.
Tanpa bermaksud ikut campur, karena semua itu menjadi hak anda. Saya hanya bisa menyarankan, sebaiknya jangan terlalu percaya diri dengan kenyamanan BB, suatu saat ketika masalah itu datang anda sudah terlambat untul menyesalinya.
