Back to Kompasiana
Artikel

Gadget

Zainal Ilyas

Keahlian akademik adalah teknik, sekarang sudah pensiun. Peminatan disamping bidang teknik dan sains adalah bahasa selengkapnya

Bersiaplah Menghadapi Gangguan Utama Mobil Listrik

HL | 17 July 2012 | 13:46 Dibaca: 3081   Komentar: 37   18

1342517177822997522

Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan melakukan uji coba mobil listrik dari Depok ke Jakarta, Senin (16/7/2012). Mobil listrik yang diproduksi oleh PT Sarimas Ahmadi Pratama mampu menempuh jarak 150 kilometer untuk sekali pengisian baterai secara penuh dan normal. Konsep tenaga listrik dipilih untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) di masa depan./Admin (KOMPAS Images/Kristianto Purnomo)

Akhir-akhir ini banyak diberitakan rencana memproduksi mobil listrik nasional dengan tujuan penghematan BBM sekaligus menghindari pengotoran udara akibat gas pembakaran seperti pada mobil dengan BBM.  Kita tahu bahwa di banyak negara, khususnya di negara-negara maju,  produksi mobil listrik sudah cukup lama dikembangkan.  Menghadapi jenis mobil seperti ini tentulah para pemakai dan calon pemakai perlu mengetahui gangguan utama dari mobil listrik.

Berbeda dengan mesin mobil berbahan bakar minyak, sumber enerji mobil listrik adalah muatan (enerji) listrik yang tersimpan dalam battery. Pada mobil biasa, battery yang disebut accu (aki) hanya berfungsi untuk lampu, indikator,  klakson dan starter sehingga kapasitas accu yang diperlukan tidaklah terlalu besar. Pada mobil biasa, sepanjang perjalanan (selama mesin hidup), accu selalu diisi (charging) dan terus pula dipakai sesuai fungsi-fungsi tersebut.  Berbeda halnya dengan mobil listrik, battery hanya dapat diisi sewaktu mobil berhenti, sehingga untuk perjalanan jarak jauh diperlukan kapasitas battery yang besar.

Nah, untuk mencapai kapasitas battery yang besar dengan ukuran fisik yang tidak terlalu besar, maka dipakai jenis battery berbahan metal, misalnya  jenis Nicad dan NiMh. Jenis battery ini juga dipakai pada banyak perangkat elektronik seperti handphones, laptops, emergency lamps dan UPS (Uninterruptable Power Suplies). Marilah kita lihat cara kerja suatu battery jenis Nicad atau NiMh.

Suatu battery sesungguhnya berfungsi sebagai wadah penyimpan muatan listrik. Besarnya daya simpan suatu battery disebut kapasitas battery yang diukur dengan satuan enerji Ah (Ampere hour = Ampere jam) atau KAh (Kilo Ampere hour = ribuan Ampere jam).  Bila muatan dikurangi oleh karena dipakai, isi “wadah” itu berkurang dan pada batas tertentu, isi wadah tak bisa lagi dikeluarkan walaupun masih ada muatannya. Hal ini terjadi karena muatan (isi) yang tersisa tidak cukup untuk memenuhi permintaan dari alat pemakai.

Dalam banyak peralatan termasuk mobil listrik, tingkat kepenuhan suatu battery dimonitor dengan suatu alat (indikator) yang menunjukkan berapa persen battery masih berisi; Kalau masih penuh, indikator akan menunjuk 100%, berkurang jadi 90%, 80% sampai angka 0%.  Biasanya sebelum mencapai 0%  sekalipun, peralatan sudah tak bisa dipakai, karena “permintaan” lebih besar dari muatan yang bisa dikeluarkan oleh battery. Kapankah terjadinya “kemacetan” itu yang berarti seperti istilah umum: LowBatt?

Inilah faktor penting yang perlu diketahui oleh para pemakai battery termasuk Nicad atau NiMh. Kalau kita memakai suatu tempat beras merek Cosmos misalnya, kita mengisi beras dari bagian atas dan mengeluarkannya melalui pembukaan di bagian paling bawah dari wadah itu. Terjadilah apa yang disebut proses pengeluaran FiFo (First in First out), sehingga beras dapat dipakai berurutan sesuai waktu masuknya dan keuntungannya adalah, beras bisa dipakai kalau perlu sampai habis. Sangat berbeda dengan sifat battery, walaupun ia bersifat wadah penyimpanan. Muatan listrik yang masuk battery Nicad dan NiMh tidak mengikuti kaidah FiFo.  Ia bisa keluar lebih dulu walau masuknya belakangan.

Umpamakan bahwa kapasitas battery yang masih sanggup menjalankan mobil (atau peralatan) adalah 5%. Apabila pada saat isi battery benar-benar 5%, pada awalnya mobil masih bisa jalan, tentunya hampir mati. Kalau kita sedang berhenti dan ada tempat charger, maka tentu battery dapat diisi sampai penuh 100%. Namun akan sangat sering terjadi, bila kita telah melakukan perjalanan dalam waktu tertentu dan sampai ke tempat yang ada charger, indikator menunjukkan masih diatas 5%, katakanlah 10%.  Kita akan terpaksa mencharge battery, walaupun belum “kosong”.

Nah kalau itu sering dilakukan, muatan yang 10% itu akan menetap dalam battery dan akan bersifat “membeku”, tak bisa dipakai. Walaupun keperluan untuk jalan hanya 5% dari kapasitas battery, isi 10% itu tak bisa dimanfaatkan. Selanjutnya mungkin kita akan harus mengisi battery pada keadaan terisi 15%. Nah itu lagi-lagi, apabila terus dan sering dilakukan (mengingat kita harus menghindari mogok di jalan), maka muatan listrik yang “membeku” akan naik menjadi 15%.  Dan ada kemungkinan, karena khawatir isi battery tak mencukupi untuk menuju suatu target perjalanan, kita mengisi (charge) battery pada indikator 25%. Dan kalau itu terus dan berlanjut, muatan yang membeku bisa 20%, 25%, 30%, 40% dst.

Dan inilah bahayanya. Sewaktu akan berangkat, mungkin kita melihat indikator battery 90%, sehingga belum perlu di-caharge, padahal efektivitas dari muatan battery yang bisa dipakai mungkin hanya 50%. Sehingga walau indikator menunjukkan isi battery 40%, mobil sudah mogok, karena battery LowBatt.

Bagaimana menghindari kejadian seperti diatas? Sama sekali tak bisa dihindari, namun risiko bisa dikurangi. Untuk para pemakai mobil listrik dapat dipakai tips berikut:

- Oleh karena Ni Mh battery lebih tahan terhadap multiple charge dalam keadaan belum kosong, dianjurkan untuk selalu memakai Battery NiMh atau battery yang lebih unggul. Jangan memakai Nicad battery, karena muatan listriknya lebih gampang terbekukan.

- Jangan terlalu sering mengisi batttery sebelum benar-benar kosong (indikator misal 5%).

- Sediakan selalu battery cadangan yang fully charged sewaktu perjalanan jauh atau dekat agar pemakaian bisa digilir sampai mendekati kosong, sehingga kedua battery (utama dan cadangan) bisa berumur panjang.

Perlu diingat bahwa ada beberapa merk handphone yang mengatakan batterynya bisa dicharge kapan saja dan setiap saat, itu adalah gombal. Semua battery memiliki karakeristik yang dijelaskan diatas, hanya ada yang lebih tahan dari yang lain, namun sifat “pembekuan” muatan listrik pada battery selalu ada.

Semoga bermanfaat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 6 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 11 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 12 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 14 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengaruh Millieu Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Aku Pelari, Maka Aku Trendi …

Vita Sophia Dini | 8 jam lalu

Akankah El Clasico Ke 230 Menggenapkan …

Nino Histiraludin | 8 jam lalu

Kerja Perdana: Jadi Perawat Klinik di Banda …

Rinta Wulandari | 9 jam lalu

Intip Buku Kedua, Minggu, 26 Oktober 2014 …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: