
Putra Bugis-Sinjai yang sekarang tinggal di Makassar. Menyenangi dunia IT dan GNU/Linux. Kerjaan saat ini jadi kuli IT dan corat-coret di http://ahmad.web.id. (achvan[at]gmail.com)
Dibaca: 876
Komentar: 20
1 dari 1 Kompasianer menilai Provokatif
Opensource. Sesuai dengan namanya yang berarti “Sumber yang terbuka” merupakan sebutan dari segala macam Software (Perangkat Lunak) yang sumber-nya bersifat terbuka untuk publik dimana “kode sumber”(source code) dari Software tersebut bebas didistribusikan kepada siapa saja secara cuma-cuma (tentunya memiliki syarat-syarat tertentu juga) untuk digunakan, dikembangkan, digandakan dan disebarluaskan tanpa harus meminta izin atau membayar lisensi kepada pembuat aslinya. Ini adalah defenisi sederhananya, sedangkan defenisi secara lingkap bisa anda baca di situs OSD (Open Source Definition).
Dibandingkan dengan beberapa macam lisensi Software seperti Freeware, Shareware, atau Adware maka lisensi Open Source-lah yang terbaik. Mungkin Freeware bisa bebas dan gratis untuk kita gunakan, tapi ia tidak memperbolehkan kita melihat source code-nya. Lain lagi dengan Shareware, ia hanya merupakan Versi Trial dari software berbayar yang bisa kita pakai dalam jangka waktu tertentu, dan jika kita tertarik memakainya dalam jangka waktu yang lama, maka diharuskan membeli. Adapun yang gratis dan tidak dibatasi jangka waktu tertentu seperti Adware memiliki kekurangan dari segi program yang menampilkan banyak iklan. Disinilah keunggulan Open Source yang akan membuat kita nyaman untuk menggunakan, memodifikasi dan menyebarluaskan Software tersebut secara bebas.
Namun satu hal yang perlu diingat adalah bebas disini bukan berarti semua Software tersebut gratis karena ada kalanya kita harus membayar untuk menggunakannya. Yang dimaksud bebas disini adalah kita bebas untuk menyalin kodenya, menggunakan, mendistribusikan baik itu setelah dimodifikasi atau tidak. Namun masalah gratis atau tidak itu tergantung dari pembuat dan pengembang Software tersebut. Jika pembuat atau Programmer yang membuat software tersebut ingin meminta fee atas hasil karya dan hak ciptanya, maka itu adalah haknya dengan persyaratan bahwa semua orang bisa melakukan akses terhadap kodenya (kodenya harus bisa dilihat oleh programmer lain) dan tetap menuliskan hak cipta dari Free Software yang sebelumnya ia modifikasi.
Jika demikian, bagaimana Opensource itu dan bagaimana kita menggunakannya ? Jawabannya ada pada Sistem Operasi Linux. Linux dibuat oleh Linus Torvalds , seorang programer yang berasal dari Finlandia. Ia membuat kernel Linux ketika masih berstatus Mahasiswa kemudian menyebarkan Source Code-nya ke seluruh dunia melalui internet. Dari situlah sekarang muncul Distro atau Distribusi Linux Raksasa seperti Redhat, Slackware, Debian dan Gentoo yang kemudian melahirkan Distro-Distro Linux lainnya seperti Ubuntu, Opensuse, Fedora, Mandriva, PCLinux, Linux Mint, Sabily, FreeBSD dan masih banyak lagi.
Linux adalah Sistem Operasi yang aman, powerfull, tangguh, dan bisa digunakan untuk segala jenis keperluan baik dilingkungan pribadi, perkantoran maupun badan pemerintah. Bahkan disebutkan di wikipedia.org bahwa kini Linux menjadi sistem operasi paling menjanjikan, yang bisa dibenamkan ke dalam server, komputer desktop, tablet PC, PDA, handphone, GPS, robot, mobil hingga pesawat ulang alik buatan NASA.
Sebagian orang sudah banyak yang mengenal Linux. Walaupun sebagian lainnya belum mengenal apa itu Linux ? bahkan mungkin ada yang belum pernah mendengar namanya. Dan pada umumnya komentar seseorang ketika disuguhi pertanyaan “Mau pake Linux ?” maka jawabnya ” Linux itu apa ? Sepertinya susah, windows saja deh !”. Begitulah, yang belum kenal masih acuh dan yang sudah kenal masih belum bersemangat untuk menggunakannya. Padahal jika mereka tahu betapa enaknya memakai Linux, pasti mereka akan “demam” Linux seperti ketika Linus Torvalds demam dipatok pinguin sehingga menginspirasinya untuk menjadikan pinguin sebagai logo Linux.
Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang Linux, akan diuraikan disini,
Keamanan
Di Operating Sistem manapun pasti bisa terkena Virus, tak terkecuali di Linux. Yah, Virus ada di Linux, namun virus di Linux tidak bisa berkutik karena ia sulit menyebar. Sistem user dan sistem berkas Linux telah dirancang sedemikian rupa sehingga sulit dirusak Virus. Kalaupun ditemukan ada celah kemanan atau ada bug yang membahayakan pada Linux, maka vendor distribusi akan segera memperbaikinya dan menutup celah-celah kemanan tersebut. Tidak heran jika Linux jarang sekali terkena Virus seperti layaknya Windows. Kalaupun Linux terkena Virus, biasanya terjadi pada sisi Server Linux dan seorang Administrator Linux yang handal pasti tahu cara mengatasinya. Jadi Virus pada Linux tidak perlu dirisaukan tapi tetap harus diwaspadai.
Stabil
Linux adalah Sistem Operasi yang stabil. Hal ini bisa dilihat dari server-sever yang memakai Linux jarang sekali mengalami Hang atau Crash walaupun dihidupkan 24 jam selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Hal ini karena Linux bisa di costumize dalam artian paket-paket yang dinstall bisa dipilih berdasarkan kebutuhan. Disisi lain Linux memiliki sistem Multi User untuk melakukan monitoring atau menjalankan aplikasi, menyediakan tombol kombinasi untuk rescue system, memiliki file System tersendiri sehingga tidak perlu melakukan proses defrag, aman dari Virus dan beberapa kelebihan lainnya.
Instalasi
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Linux bisa untuk keperluan apa saja , apakah untuk Komputer Dekstop atau untuk Server (Web Server, Proxy Server, Mail Server, dll). Selain itu Linux juga bisa di install dimana saja baik di komputer “jadul” dengan spesifikasi hardware yang minim atau di komputer Pentium 4 keatas bahkan bisa cukup dijalankan menggunakan Cd live atau Live USB. Proses instalasi yang dulunya dianggap sulit, kini semakin mudah (apalagi sudah ada dukungan bahasa Indonesia). Dengan berbagai varian (distro) Linux, kita bisa memilih beberapa disto yang cocok untuk kita install. Misalnya saja untuk keperluan komputer Dekstop, maka Ubuntu, Linux Mint, Opensuse, atau Fedora merupakan Distro linux yang ramah dan mudah digunakan. Sedangkan untuk keperluan server bisa menggunakan Red Hat, Opensuse, Slackware dan lain-lain. Secara umum semua Distro Linux bisa dijadikan Sever.
Dekstop
Apa yang paling menarik dari sebuah OS, salah satunya adalah tampilan Dekstop. Linux memiliki Tampilan Dekstop yang tak kalah menarik dari Windows, apalagi jika sudah menggunakan efek tiga dimensi seperti Compiz Fusion, pasti lebih menarik. Untuk pengaturan dekstop di Linux dikenal sebuah istilah Desktop Environment (Lingkungan Dekstop). Tampilan Dekstop yang paling populer dan banyak digunakan oleh sebagian besar distro Linux adalah KDE dan GNOME. Disamping itu masih banyak jenis Desktop Environment yang lain seperti Xfce, EDE, XFast dan lain-lain (Lihat di http://linuxreviews.org/). Dan biasanya ketika kita telah menginstall Linux, didalamnya sudah ada beberapa jenis Lingkungan Desktop yang bisa kita pilih untuk digunakan sesuai keperluan. Disisi lain, Linux juga unik karena memiliki 2 jenis Interface yakni CLI/Command Line Interface (Versi Text Mode) dan GUI/Graphical User Interface (versi Grafis), menyenangkan bukan ?
Aplikasi
Linux memiliki dukungan Aplikasi standar yang bisa dijalankan setelah dilakukan penginstalan. Dengan demikian, pengguna tidak lagi repot menginstall aplikasi-aplikasi standar seperti office, mp3 player, video player, browser dan semacamnya karena semua sudah tersedia. Aplikasi-aplikasi tersebut berbasis Opensource yang dibuat baik oleh perorangan ataupun oleh para Vendor. Untuk pemakai Windows, tidak perlu takut untuk pindah ke Linux, karena Linux memiliki aplikasi yang sepadan dengan Windows (lihat tulisan Pak Romi Satrio di http://romisatriawahono.net)
Komunitas
Ajaib, Linux mengumpulkan banyak orang untuk membentuk komunitas-komunitas untuk belajar, berbagi dan mengembangkan dirinya. Komunitas ini terbagi-bagi baik yang yang sifatnya regional, developer, distro, dan lain-lain. Di negeri kita saja ada banyak komunitas Linux seperti Kelompok Pengguna Linux Indonesia (www.linux.or.id), Komunitas Ubuntu Indonesia (www.ubuntu-id.org), Komunitas Slackware Indonesia (http://slackware.linux.or.id), Makassar Slackware (www.makassar-slackers.org), LUGU (http://makassar.linux.or.id), KPLI Jakarta (http://jakarta.linux.or.id) dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat di situs IGOS-Center. Dari komunitas-komunitas itulah lahir beberapa Distro Linux Lokal seperti IGOS-Nusantara, Blankon, Zencafe, X-code dan beberapa Distro lainnya. Maka dari itu jangan pernah takut dan merasa “kesepian” menggunakan Linux.
Free (Bebas)
Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa Linux itu bebas atau Gratis (kecuali versi Linux Enterprise). Hal ini disebabkan karena lisensi linux itu gratis, yakni GNU General Public License. Kita bisa dengan bebas menggunakan, memodifikasi, menyebarkannya dan kesemuanya itu adalah halal dan tidak termasuk melanggar hukum karena kita tidak membajak. Untuk mendapatkan Linux tidak terlalu susah, kita bisa mendownload installer-nya dari situs masing-masing bahkan Canonical Ltd. pemilik merek dagang Ubuntu membagi-bagikan CD Gratis yang bisa kita request di http://shipit.ubuntu.com (untuk Ubuntu) dan https://shipit.kubuntu.org/ (untuk Kubuntu). Beralih ke Linux berarti turut mengurangi pembajakan OS Legal di negeri ini. Menggunakan Linux memberi kenyamanan dan keamanan karena tidak ada ketakutan akan dirazia atau didenda seperti halnya jika kita memakai OS yang bajakan. Dan orang yang menggunakan Linux akan senantiasa belajar dan mencari tahu “isi-dalamnya” sehingga bisa dikatakan bahwa menggunakan Linux berarti turut meningkatan mutu pendidikan negeri ini dan menghemat anggaran untuk membeli OS berlisensi.
ILC
Masa Depan Linux di Indonesia begitu cerah, walaupun demikian tetap harus di upayakan langkah-langkah konkrit untuk memajukan Linux di Indonesia. Atas dasar itulah maka setiap tahunnya Komunitas Pengguna Linux Indonesia mengadakan Indonesia Linux Conference sebagai wadah untuk berkumpul, berdiskusi, dan bertukar pikiran mengenai pengembangan Linux di Indonesia. Sepertinya yang dilansir dari situs ILC2009, ILC pertama kali diadakan pada tahun 2006 yang bertempat di kota Surabaya, kemudian dilanjutkan pada tahun 2007 yang bertempat di kota Yogyakarta, di tahun 2008 bertempat di Bali dan alhamdulillah Tahun 2009 ini telah diadakan di Makassar. Semoga ILC yang telah berlangsung kemarin, memberi semangat kepada kita untuk belajar, mengembangkan dan menyebarkan Linux sebagai wujud dukungan terhadap program Indonesia, Go Open Source.
Note : tulisan ini adalah tulisan dari blog saya (alsinji.co.cc) untuk mengawali postingan di kompasiana.