Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Roy Hendroko

Roy adalah mania di bBH (jangan diartikan Bra Mania), atau dalam Bahasa Indonesia yang salah selengkapnya

SIGI “T” di Mahad Al-Zaytun

OPINI | 27 November 2009 | 05:46 Dibaca: 3019   Komentar: 91   10

Roy Dengan Latar Belakang Mesjid "Terbesar" di Indonesia. Rachmatan Lil Alamin, Berkapasitas 150.000 Umat, Berlantai 7, Luas Bangunan 99 x 99 meter, Di atas Tanah Seluas 6,5 Hektar

Apa sih sigi itu ? Sigi adalah bahasa Indonesia baku dari kata survey. Survey apa yang dilakukan Roy di lembaga pendidikan Al-Zaytun Indramayu, Jawa Barat ? Apa Roy akan memasukan sang putra di Al-Zaytun ? Enggak, Alhamdulillah, putraku “sulung” si Ardi udah lulus S2 dan bekerja sebagai Public Relation Marketing Departement di salah satu perusahaan Korea di Jakarta. Adik dari Ardi, si bungsu Radi sedang menjalani semester akhir di salah satu PTN di Malang, Jatim (Ada 3 lagi putriku termasuk, si cewek kembar, tapi……{Allah Maha Besar}. Oh ya ada juga, putriku si cantik Wahyuni di PA anak difable Bhakti Luhur, Malang).

Lho, apa sih “T” itu ? Tahu, nama makanan tradisional Indonesia yang “diimpor” dari China? Tahu yang terkenal kan di Sumedang, bukan di Indramayu. Atau “T” kepanjangan dari tandak..(nih boso Jowo) sinonim dari penari “erotic” mirip jaipongan ? Bukankah daerah Indramayu adalah “gudang” goyang jaipongan ++ ? (arti + + tanya aja ke Mbak ML, yang pernah posting tentang daerah Indramayu).   Mosok Roy cari jaipongan, kok di pesantren…………….ini kan “pelecehan” ?

Agar kompasianers tidak penasaran, kusebut aja kepanjangan “T” yakni (maaf) Tai. Lho kok Roy seorang “energi mania” ngurusi tai ? Apa Roy akan beralih dari “bra mania” ke “tai mania”? Sekadar kompasianers paham, tai hewan dan manusia adalah sumber energi “murah meriah”, tersedia melimpah dan direkomendasi sebagai salah satu energi yang ramah lingkungan.

Mevrouw Saiya Dengan Roti Lezat Buatan Al Zay

Londo Ireng
Kunjungan tanggal 17 November 2009 lalu adalah sigiku yang ke-2 ke Alzaytun (selanjutnya saya singkat dengan Alzay). Pertama di bulan Agustus 2009 - jelang bulan puasa- menghantar Prof Hahm (nama lengkap beliau MyungChul Hahm, mantan Dubes Korea di Singapura) dari Hanseo University. Sedang kunjungan ke-2 itu, menghantar Meneer Harry Hulleman dan Mevrouw Saiya, suami isteri dari UCY Technology BV Wastewater & Energy, Holland. Saiya adalah londo ireng, alias ”belanda hitam”….kulitnya legam dan berambut keriting, khas tipe ras Melanesia karena Saiya berdarah Maluku (tepatnya Haruku, pulau kecil di dekat pulau Seram). Saiya ( Willy adalah nama londonya) lahir, sekolah, bekerja, dan menikah di Holland. Ortu Saiya hengkang ke Holland, pada tahun 1950-an karena ayahnya KNIL. Tapi Mevrouw Willy berbahasa Indonesia cukup bagus (meski kata beliau, bahasanya kaku) karena ortunya membiasakan di rumah menggunakan bahasa Indonesia, meski hidup di Nederland. Demikian juga anak dari Harry dan Willy, memakai ”bahasa” bila bicara dengan opa dan omanya, tidak holand spreaken atau dutch language (Nih layak kita tiru, karena saya ”miris” melihat beberapa keluarga temanku yang menggunakan Inggris sebagai bahasa sehari-hari di rumah, dengan dalih ”international” ke anak-anaknya. Bagaimana pendapat kompasianers ?).

Tangki LPG berkapasitas 500 kg dan 20.000 kg di dapur Mahad Al Zaytun

Biogas
Kami berniat membantu Alzay dengan ”membuat” biogas sebagai pengganti LPG dan Insya Allah mensubstitusi listrik PLN. Kompasianers mungkin udah tahu, saat ini Alzay mengelola 7.000 santri (mulai SD sampai dengan Universitas), 1.500 karyawan, 800 ekor sapi, puluhan kambing penghasil susu (kambing etawa), dan ratusan kambing yang dipelihara setiap tahun sebagai hewan kurban (tahun 2008, Alzay melaksanakan kurban sejumlah 1.500 kambing).

Kang Trista Sedang Membuka Septic Tank di Dormitory Al Musthopa. Mevrouw Saiya Memotret dan Meneer Harry Action

Santri-santri ini menempati lima asrama (dormitory) yakni Al Musthopa bagi mahasiswa dan aliyah,  Al Nur untuk Mts alias SMP, Al Fajar untuk aliyah/ SMA, Al Madani untuk Mts, dan Dormitory Persahabatan khususnya untuk MI alias SD. Bangunan asrama yang bertingkat itu masing-masing mempunyai 170-200 kamar, dengan setiap kamar dihuni 10 orang santri.

Pengamatan Mutu Air Limbah di Waduk Istisqo atau Shui Shi Cai (Air Sumber Kehidupan)

Kompasianers bisa menghitung berapa ”T” yang tersedia dengan jumlah manusia dan hewan seperti di atas ( Insya Allah, akronim ”T” ini, mungkin suatu saat ”diplesetkan” triliun rupiah). Ah, mungkin saya cerita terlalu jauh nih…..apa kompasianers tahu biogas? Tahu cara ”membuatnya” ? Manfaat mengelola tai sebagai bio gas terkait kesehatan lingkungan, utamanya pencemaran air tanah ? Manfaat dan agitasi bagi ”global warning” karena tai adalah penghasil gas metana yang jauh lebih jahat dibanding gas CO2 ?

Bahwa dengan mengelola tai itu, disamping kita memperoleh gas bio akan dapat ”bonus” pupuk organik yang ramah lingkungan guna menyuburkan tanaman ? Aaah, saya yakin kompasianers pasti tahu, sehingga kita lanjut aja (yang belum tahu, silahkan tanya sang putra atau tanya ke paman google). Kita kan pernah diskusi tentang biogas dari jatropha. Kompasianer lupa ? Klik di sini. Alhamdulillah, Kompasiana sekarang ketambahan pakar Green Energy, khususnya biogas, klik di sini.

Agar kompasianers tidak panasaran, saya posting foto biogas. Boleh ya saya posting foto pada kegiatan Temu Nasional Desa Mandiri Energi 23-25 November 2009 lalu? Foto-foto ini diambil di DME berbasis biogas di Haurgombong, Sumedang, Jabar. Mohon izin pula Roy “nampang”….tapi di sub bab di bawah.

Foto Bagian Atas : Berbagai Bentuk Digester Biogas di Desa Mandiri Energi Haurgombong. Bagian Bawah : Plastik Penampung Gas Bio

Dapur di Mahad AlZay. Perhatikan Puluhan Kompor LPG yang Digunakan

Hitung-Menghitung
Satu ekor sapi menghasilkan 5 kg tai per hari, belum termasuk urine. Padahal urine adalah penghasil biogas paling jos. Manusia berkemampuan produksi tai 0,3 - 0,5 kg/hari/orang, belum termasuk urine (tapi kalau urine pria, tidak dapat dikumpulkan secara utuh. Nih beda dengan wanita yang tertib menggunakan wc). Satu kg tai mampu memproduksi 0,05 m kubik biogas. Sekadar kompasianers tahu, bahwa satu keluarga untuk masak yang normal membutuhkan 0,6 m kubik biogas/hari. Bicara data, maka satu meter kubik biogas setara 0,46 kg LPG, setara 0,62 liter minyak tanah, setara 0,52 minyak solar, setara 0,80 liter bensin, setara 3,50 kg kayu bakar, dan setara daya listrik sebesar lebih kurang 4,7 kWh.

Menanak Nasi "Coklat" (Mevrouw Saiya Menyebut : Zilvervliesryst) yang Amat Berguna Untuk Kesehatan.

Sekadar untuk diketahui, kebutuhan sembako untuk ”satu menu” di Alzay menghabiskan LPG sebanyak 510 Kg (ini masih dikalikan 3, karena sehari 3 kali makan) atau 200 kg di hari libur (total 2 bulan dalam setahun) untuk memasak beras 935 kg, sayuran 700 – 800 kg, daging sapi 410 kg, daging ayam 710 kg, ikan laut 400 – 450 kg, telur ayam 640 kg, tepung terigu 75 kg, buah (pisang/jeruk/apel/salak) 540 kg, gula putih 45 kg, dan minyak goreng 360 kg. Bahan sembako terakhir ini, minyak goreng setelah 2 x pakai……”dibuang”. Semoga suatu hari, Allah masih memberi saya dkk. ”kesempatan” mengelola jelantahused cooking oil Alzay menjadi BBN-biodiesel, demi kesehatan lingkungan dan penghematan biaya Alzay.

Pikir Panjang dan Dalam
Gagasan-gagasan di atas, muncul dari diskusi dan ngobrol dengan sejumlah dosen dan pengurus koperasi Alzay di saat kunjungan Agustus 2009 lalu. Namun saya berpikir berulang-ulang….panjang, lebar, dan dalam agar tidak terjadi ”friksi”. Saya diskusi dengan adik ipar, dosen IPB yang pernah ngajar di Alzay (dia berjenggot kambing seperti Prof NT dan bercelana cingkrang) dan juga dengan isterinya (adik bu Roy) dosen IPB yang berjilbab. Saya tidak ingin ”berbenturan” dengan hukum islam….apalagi saya non muslim. Saya tidak mau –seperti petuah sejumlah kompasianer dalam postingnya- niat baik tapi akhirnya berdampak buruk.

Hukum Islam Biogas 1.
Fauzan Al Banjari dalam web klik di sini menerangkan tentang biogas dengan di awali pemahaman tentang najis. Saya copas sebagai berikut, Syaikh Ali Raghib dalam Kitab beliau Ahkam As Sholah (1991) memberikan pemahaman tentang benda apa saja yang  terkategori sebagai najis. Menurut beliau yang dikategorikan sebagai benda najis, adalah: air kencing, tahi (kotoran manusia atau hewan), muntah, madzi, wadi, selain mani Bani Adam, darah, nanah, cairan luka, darah janin (alalaqah), bangkai, arak, minuman keras selain arak, anjing, babi, daging keledai kampung, dan setiap benda yang terkena oleh salah satu  benda najis tersebut.

Pertanyaan tentang biogas atau pupuk kandang apakah boleh dimanfaatkan. Maka, haruslah dilihat terlebih dahulu dari benda apakah biogas atau pupuk kandang tersebut diperoleh. Apakah melalui benda-benda najis seperti tahi/kotoran manusia atau binatang ataukah melalui benda-benda yang tidak najis seperti tumbuh-tumbuhan yang dibusukkan (kompos) atau sampah-sampah yang di dalamnya tidak terdapat benda najis. Jika bahan baku biogas tersebut adalah benda najis maka hukumnya mengikuti hukum pemanfaatan benda najis, yaitu haram untuk dimanfaatkan kecuali untuk pengobatan, baik untuk kepentingan pribadi, masyarakat maupun diperjual belikan

Kompor Biogas dan Generator Biogas untuk Menyalakan Lampu. Roy berkaos Biru "kompasiana" (iklan niye) dengan Pak Adang, Kades Haurgombong dan Pak Komar Purnama, Pelaku & Pakar Biogas

Hukum Islam Biogas 2.
Kecutlah hati saya membaca pernyataan di atas. Berikut ini pernyataan lain, maaf rekan kompasianers karena saya hanya copas naskah asli. Sedikitpun tidak ada perubahan, karena saya takut salah  ”tafsir” bila mengedit. Muhammad Shiddiq Al-Jawi dalam postingannya klik di sini menerangkan bahwa hukum biogas bergantung limbah organik yang digunakan. Pertama, jika yang digunakan benda najis, seperti tinja, kotoran binatang, urine manusia, biogas hukumnya haram. Sebab memanfaatkan benda najis adalah haram. Kedua, jika limbahnya benda suci (bukan najis), seperti limbah industri tahu, tempe, dan pindang, biogas hukumnya mubah.

Ada ulama yang berpendapat biogas (dari benda najis) hukumnya mubah. Alasannya, karena gas yang dihasilkan tidaklah tergolong najis sehingga boleh dimanfaatkan untuk memasak dan lain-lain. Karena gasnya tidak najis, maka boleh dimanfaatkan dengan hujjah kaidah al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah (hukum asal benda adalah boleh).

Pendapat ini tidak dapat diterima, karena meski gas yang dihasilkan tidak najis, tapi gas itu tidak dapat dipisahkan dari proses pembuatannya, yaitu memanfaatkan benda najis.

Meski gas yang dihasilkan tidak najis, namun pemanfaatannya untuk memasak dan lain-lain adalah haram, bukan boleh. Kaidah fiqih menyebutkan : At-Taabi’ taabi’ (Apa saja yang mengikuti sesuatu yang lain, hukumnya sama dengan sesuatu yang lain itu) (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir). Adanya gas adalah at-taabi’ (sesuatu yang mengikuti) yang muncul dari proses sebelumnya, yaitu memanfaatkan najis. Dengan demikian, jika memanfaatkan najis adalah haram, maka memanfaatkan gas hasil proses tersebut, juga ikut haram hukumnya.

Adapun biogas yang berasal dari benda suci (tidak najis), hukumnya mubah. Inilah yang layak dikembangkan sebagai energi alternatif. Sebab kaidah fiqih menetapkan : Al-ashlu fi al-asy-ya` al ibahah hatta yadulla ad-dalil ‘ala at-tahrim (hukum asal benda adalah mubah hingga ada dalil yang mengharamkan). (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, hal. 107)

Hukum Islam Biogas 3
Aduh, rasanya semangat saya mangkin kendur membaca hukum 2 di atas. Tapi tengok komentar di bawah ini. Gus Yusuf Chudori (Pengasuh Asrama Perguruan Islam, Pondok Pesantren Magelang) di artikel “ Hukum Memasak Dengan Biogas yang Dibuat dari Kotoran Binatang” yang di posting di abduh38.wordpress.com, klik di sini (tercantum di web www.syirah.com. Berita dan informasi keislaman on line) khususnya menanggapi dengan bangga, inovasi yang dilaksanakan oleh santri di pesantren Darul & Isquo pada biogas dari tai manusia. Saya copas ya Kompasianer, asli lho ini…sehingga maaf gaya bahasanya beda dengan postingan Roy.

Beliau menyatakan hukum yang berlaku untuk semua kotoran seluruhnya adalah najis. Tapi ini berbeda dengan uap atau asap yang timbul darinya. Uap dari kotoran (bukhar = bahasa Arab) dalam hukum fikih dikatagorikan barang yang suci karena dihukumi bukan bagian darinya. Asap (dukhan = bahasa Arab) kalau hanya sedikit masih bisa ditoleransi (najis yang dimaafkan) asalkan tidak menyebabkan basah dan bukan sebuah kesengajaan untuk menggunakannya.

Walhasil, melihat dari proses dalam pembuatan biogas, semata-mata bukan merupakan asap dari kotoran yang dibakar, tapi merupakan uap kotoran maka tidak ada keraguan sama sekali dalam penggunaannya sebagai energi alternatif. Sehingga makanan yang dimasak dengan biogas yang berasal dari kotoran tidak menyebabkan hasil masakannya menjadi najis.

Amat Plong
Dikit lega membaca hukum 3. Hati rasanya plooong. Namun bagaimana saran kompasianers ? Kang Elha, Mas Boy bahkan Prof NT….tolong saya diberi masukan. Saya searching lebih lanjut, tampak bahwa Yayasan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), di desa Turi, Lamongan, Jatim yang mengelola 450 santri telah pula menerapkan biogas. Kata Gus Hafid, Kepala Data dan Informasi SPMAA, mereka dapat menghemat Rp 1,5 juta/bulan dari pembelian 2 truk kayu (Majalah Gatra No. 14. Pebruari 2008).

Pondok Pesantren Nurul Furqon dengan pimpinan KH Asyhuri Muntaha telah pula memberdayakan tai 20 sapi dan 70 santrinya di desa Kenteng, kecamatan Susukan, Semarang. Dilanjut….kata KH Muiz Abdul Manan, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jatim telah membangun biogas toilet sebanyak 8 WC di selatan “WC Seribu”. Nggak mau “kalah”, Pondok Pesantren Darul Ouran dengan bantuan BORDA (LSM Jerman) sebulan lalu telah menggunakan biogas dari tai 400 santrinya. Kata ketuanya, KH Achmad Haris Masduki….mereka bisa menghemat biaya bahan bakar Rp 2,5 juta/ bulan. Melihat hasil positif ini, Pak Ketua akan “menularkan virus” tai itu ke rekan-rekan lain dalam Forum Eko Pesantren yang digelar di Jogya, 4 November 2009 lalu.

Mohon Pamit
Nih
, sekian dulu postingan kali ini. Saya sebenarnya ingin melanjutkan cerita tentang kesan dan opini saya berkunjung dua kali (insya Allah dilanjut) ke Alzay. Saya ingin cerita potensi BBN yang lain di Alzay, disamping hal-hal “ringan namun penuh kagum” tentang apa yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan Alzay. Kali aja teman-teman kompasianers membutuhkan info, sebagai bahan pertimbangan misal mengirim putra, keponakan, dan lain-lain untuk belajar ke Alzay…..atau berwisata? (Lho, apa bisa dikunjungi untuk wisata ? Ntar, kapan-kapan Roy ceritakan)

Bagaimana kompasianers, dilanjutkan cerita tentang Alzay? Oh ya, sebelum kututup…dank u well untuk Meneer Harry Hulleman dan hartelijk dank untuk Mevrouw Saiya. Kami menunggu dengan tidak sabar, kedatangan Dr Verink, Redox Water Technology, The Netherlands untuk kajian lebih mendalam tai di Alzay. Juga untuk Pak Adang, Kades Haurgombong….hatur nuhun atas ketela dan tahu yang amat lezaaaat.

Bandung, Temu Nasional Desa Mandiri Energi ke-2.
Hyatt Regency, 25 November 2009

SALAM ENERGI HIJAU, Berkah Dalem Gusti
Roy Hendroko

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 16 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 20 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 22 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: