Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Roy Hendroko

Roy adalah mania di bBH (jangan diartikan Bra Mania), atau dalam Bahasa Indonesia yang salah selengkapnya

EBT dan EA di Al Zaytun

OPINI | 13 December 2009 | 05:35 Dibaca: 2377   Komentar: 114   13

Reaktor biogas pembangkit listrik

Reaktor biogas pembangkit listrik

Kompasianer udah tahu kepanjangan dari akronim EBT ? Di postingan yang agak jadul, klik di sini, saya pernah menerangkannya. Apa tuh EA ? Ntar di sub bab terbawah, EA akan kita bahas. EBT adalah padanan kata dari RE. Apakah RE…kok Roy main tebak-tebakan ? Si kiwi cantik, blonde dari NZ akan menerangkan ET pada pada kompasianers. Saya takut mengambil “kaplingnya”.

Memang benar kata kiwi blonde bahwa seharusnya akronim ET yang dipakai bukan EBT (memang beliau pandai, kalau nggak mana mungkin belajar di NZ). Namun ntar beliau akan pakai istilah RE maklum “lidah” Inggris karena selalu dikeloni bule. Kata beliau kalau pakai kata ET, kok ingat pada alien, si mahluk ruang angkasa.

EBT lazim digunakan di Indonesia, karena departemen yang menciptakan nama ini berniat mensosialisasi “energi baru” misal energi nuklir, gas metana dari batu bara (CBM, Coal Bed Methana), pencairan batu bara (CTL, Coal To Liquid), dan lain-lain. Pada rapat membahas terminologi ini, sebagian dari kami para BBN mania protes : “Lho, ini kan mencampur aduk ET dan non ET atau RE dan non RE. Bahan Bakar Nabati (BBN ini aja istilah yang salah kaprah, klik di sini) yang energi bersih terbarukan dijadikan “satu kotak” dengan energi nuklir, dan energi berbasis batu bara yang meski terkatagori energi bersih namun tak terbarukan”. Tapi ya….gimana Perpres No. 05/ 2006 menetapkan hal itu, khususnya rencana pemanfaatan batu bara rendah kalori dengan mencairkannya (konon, sa-sus menyebut, rencana pembangunan pabrik CTL adalah milik mantan salah satu petinggi negara ini)

Ilustrasi foto reaktor/ digester biogas (Hivos'09)

Ilustrasi foto reaktor/ digester biogas (Hivos'09)

Biogas, energi terbarukan nan murah
Kompasianer udah lihat foto di atas. Ayo, foto dimana tuh ?
Iya benar, di Beijing Degingyuan Agricultural Technology Co Ltd (DQY). Foto bioreaktor pembangkit gas bio itu sebenarnya di ambil dari lokasi yang sama dari yang saya posting di sini, hanya pada musim dan sudut pemotretan  yang berbeda. Hebat ya China, data menunjukkan China memiliki 30 juta reaktor/ digester biogas (Hivos di TemNas DME , Bandung, November 2009). Khusus tentang listrik berbasis ”T”, dilaporkan di sekitar tahun 1978 mereka telah memiliki 150 kota listrik biogas dengan kapasitas 1.600 kw.

Dengan perbandingan populasi penduduk Republik ini, seperlima dari RRC….maka seharusnya Indonesia memiliki 6 juta pembangkit biogas. Kenyataan..ya beda dikit lah, hanya beda nol doang. Republik ini memiliki 6.131 unit biogas yang dibangun mulai tahun 1981-2008 ( Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, TemNas DME, Bandung, November 2009). Namun semoga, 6 ribu-an itu operation…karena saya khwatir udah jadi ”musium” atau ”monumen kegagalan” di daerah (seperti postingan-postingan saya tentang BBN, antara lain di sini) tapi tetap tercatat sebagai keberhasilan di Jakarta. Sebagai pembanding Nepal, bulan lalu meresmikan unit biogas ke 200.000.

Lambang-Logo HIVOS

Biar lambat, asal action
Tapi nggak usah khawatir, Kompasianer udah baca Harian Kompas Cetak, tanggal 4 Desember 2009, halaman 13, tentang ”8.000 Rumah Biogas Dibangun”, versi web, klik di sini atau di sini. HIVOS ( terjemahan holand spreaken adalah Institut Kemanusiaan untuk Kerjasama Pembangunan, www. Hivos.nl/english)) dan SNV (terjemahan dutch language adalah Organisasi Pembangunan Belanda, www.snvworld.org) LSM Belanda mencanangkan membuatkan 8.000 sampai dengan 12.000 reaktor biogas di Republik Tercinta ini. Mereka menamakannya Biogas Rumah atau ”BIRU” (Indonesia Domestic Biogas Programme – IDBP), dan direncanakan proyek ini berlangsung tahun 2009-2012 dengan dana subsidi Kerajaan Holland, berbasis teknologi reaktor Nepal. Bayangkan Belanda aja cinta ”T” Indonesia dan mempersembahkannya sebagai energi untuk rakyat Indonesia. Bayangkan pula, kita ”mencontoh” negara miskin Nepal. Aduuuuh, kesian deh.

Di postingan lalu, klik di sini, saya memaparkan betapa londo memanfaatkan ”T” dari koperasi 629 orang peternak ayam, yang mengelola 50 – 60 juta ekor ayam dengan hasil 1,2 juta ton ”T” ayam/tahun untuk membangkitkan listrik 270 juta kwh (sebagai perbandingan kapasitas terpasang PLTA Jatiluhur untuk pemasok listrik Jawa-Bali : 187,5 MW). Proyek yang dioperasikan di tahun 2008 lalu, dibangun dengan biaya 150 juta Euro atau 220 juta dolar AS.

Sebenarnya kita nggak oon banget tentang biogas ”T” untuk listrik. Republik ini, juga memiliki, listrik berbasis ”T” ayam yakni di Diwek, Jatim . Meski hanya bertumpu pada 60 ton ”T” (1.300 ayam + 13 sapi) yang menghasilkan listrik 500 watt

//alzaytun.multiply.com/)

Kampus Alzaytun (http://alzaytun.multiply.com/)

Malah Asing tertarik T - Energi
Melihat keseriusan londo mengelola biogas di power plant Moerdijk, dekat Rotterdam atau di sini, demikian juga mereka dengan rela ”membantu” BIRU”….maka saya mengajak Meneer Harry Hulleman dan Mevrouw Saiya dari UCY Technology BV Wastewater & Energy, Holland ke Kampus Alzaytun, klik di sini.

Semoga kami tidak terkendala ”haram dan halal”, demikian juga suara-suara ”minor” tentang Alzay (misal, klik di sini). Meski alhamdulillah banyak pendapat postitif, antara lain dari umat Kristen (klik di sini) tentang tolerasi beragama yang dilakukan oleh Alzay. Sebagai non muslim, saya pribadi amat kagum (dan terharu) membaca aktivitas Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Alzaytun (Please, kompasianer klik di sini).

Papan identitas di pintu gerbang utama kampus Alzaytun

Papan nama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di desa Cibanaong, Gentar, Indramayu yang dikelola Alzaytun

Di postingan tentang Alzay, saya menunjukkan sejumlah pesantren yang telah memanfaatkan ”T” untuk biogas (nyuwun pangapunten, paparan contoh sejumlah pesantren itu adalah taktik Roy untuk menghadapi halal dan haram). Makasih kepada rekan kompasianer yang telah rela memberi saran, petuah, dan petunjuk. Bahkan Mas Inul, kompasianer dari Tuban, Jatim, berkenan menulis postingan bagi saya, klik di sini.

Tak hanya pesantren, berikut ini saya ”absen” sejumlah MCK plus di masyarakat ”luar pesantren” Sebelum HIVOS-SNV berkarya di Republik ini, BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association), suatu lembaga Jerman telah membangun unit MCK plus di kelurahan Jatake RT 002, RW 03, Kec. Jati Unung, Tangerang. Enam toilet itu mampu menghidupi 3 kompor. BORDA aktif pula di MCK plus di pinggiran kali Besole, Gunung Kidul, Jogja. Juga di WC Sanimas (Sanitasi Masyarakat) di RT 9, RW 2, Kelurahan Tegalsari, Kec Tegal Barat, Tegal. Sepuluh WC plus dibangun pula oleh BORDA di kelurahan Balowerti, RT 09, RW 03, Kediri.

MCK beken
MCK plus yang beken adalah di Jalan Petojo Binatu I, Kelurahan Petojo Utara, Kec. Gambir, Jakarta Pusat. MCK di lokasi ini untuk melayani 80 keluarga, seluas 125 meter2 terdiri 6 toilet, 4 kamar mandi, serta 1 kamar mandi ibu dan anak. Dibangun pada tahun 2007 dengan dana hibah dari USAID-USA. Mengapa MCK ini jadi top ? MCK ini pernah dikunjungi Menteri Luar Negri USA, Hillary Clinton tanggal 19 Pebruari 2009. Konon beliau menikmati pisang yang digoreng dengan api biogas di tempat ini. Namun dipastikan pisang goreng tanpa rasa ”T”.

EBT-Energi Belum Terpikirkan
Berdasar semua data di atas, saya mencoba kulo nuwun ke Alzay….dengan 2 kunjungan di Agustus dan November 2009 lalu (seharusnya udah 3 x , dengan hadir di hajatan Pak Syaykh Panji yang menikahkan putrinya, sayang saya tidak dapat hadir karena tugas ke Riau)

Alhamdulilah Zae menyambut positif (Zae adalah nama panggilan ”populer” Ma’had Alzaytun dari Mas Rudy Fernando alias Rukyal Basri, kompasianer di Philadelphia, Amrik yang 3 putranya [Rudy, Rony, dan Faisal] menuntut ilmu di kampus ini). Semoga saya dapat membantu Energi Belum Terpikirkan (plesetan EBT) di Zae menjadi Energi Benar Terwujud (plesetan EBT). Mohon doa dan dukungan kompasianer.

Hamparan tanaman sorgum. Di latar belakang adalah mesjid "terbesar" di Indonesia yakni Rachmatan Lil Alamin

Apa itu EA?
Mas Rudy…thanks berat atas semua dukungan dan dorongan Anda. Hanya ”tujuan utama” yang pernah kita diskusikan paling awal yang melandasi saya ”dolan” (kok malu, mau bilang SIGI) ke Zae yakni tentang EA berbasis sorgum……saya belum berani ”melangkah”. Padahal Alzay dengan niatnya membangun pabrik EA akan berdampak manfaat ganda.

Roy Narsis di kebun sorgum. Sebagian besar benih dikirim seseorang dari Amrik. "Non legal", tetapi pasti tidak "dosa" karena demi Republik ini

Batang sorgum tidak hanya jadi pakan sapi, tapi niranya dapat dijadikan EA. Ampas batang sorgum dari perahan nira dijadikan pakan ternak. Limbah cair EA dicampur ”T” sapi dapat dimanfaatkan menjadi biogas. Sludge biogas akan jadi pupuk organik yang amat yahud. Limbah cair EA dapat pula digunakan sebagai pupuk K seperti di Brazil, Thailand, atau Sugar Group di Lampung; EA dapat digunakan di dapur Alzay seperti bahasan kita di Bioetanol 2, klik di sini, di poliklinik, sebagai sanitasi dan/atau desinfektan di kandang ternak, di lab iseminasi buatan, di laboratorium fakultas pertanian, antara lain kultur jaringan, sebagai BBN akrab lingkungan sepeda motor dan mobil dinas Zae dan masyarakat sekitar. Atau bahkan ”dijual” ke SPBU-SPBU Pertamina (bukankah Republik ini kekurangan BBN berbasis EA ?)

Bicara tentang EA – etil alkohol,  atau  etanol yang rumus kimianya : CH3CH2OH , atau bioetanol (awan sering salah kaprah dengan menamainya alkohol padahal etanol hanyalah bagian dari alkohol, yang rumus kimianya secara umum adalah CnH2n+1OH) . Terus terang, jujur bahwa ”ketakutan” atau kebimbangan saya lebih besar dibanding halal dan haram biogas ”T”. Apalagi diskusi-diskusi menyimpulkan Alzay merencanakan MENJUAL etanol produksinya sebagai BBN, atau etanol industri (food grade).

Bukankah hadits tentang alkohol mengemukakan “sesungguhnya Allah yang mengharamkan meminumnya, juga mengharamkannya menjualnya” ”. Pendapat ini di jumhur imam madzhab empat, seperti saya “pelajari” di sini. Apakah Mas Rudy dan kompasianer lain…..Mas Inul, Mas Boy, Prof NT, Mas Dwiki, Mas Elha, Mas Imam, Mbak Dita, juga Mas Abuga, berkenan memberi saya bimbingan, dan petuah.
Menunggu petunjuk.

Kuningan 21 Residence, 13 Desember 2009
SALAM ENERGI HIJAU,
Berkah Dalem Gusti
Roy Hendroko

Note : Insya Allah, saya akan lanjut EBT di Zae pada postingan berikut.
Nyuwun pamit, maturwun

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: