Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Wahyu Jatmiko

Musik, membaca, menulis, fotografi dan komputer, hal-hal yang selalu kucari di saat-saat senggangku....

Dulu WS dan Lotus… Sekarang MsOffice atau OpenOffice

OPINI | 08 January 2010 | 16:10 Dibaca: 832   Komentar: 18   1

Kami tertawa berulang-ulang ketika sore itu mencoba mengenang kembali atau lebih tepatnya sedang mentertawakan perkembangan software komputer. Yah, seperti kita tahu, software semacam WordStar 5.5, Lotus 2.1, ChiWriter 3.15, atau NewsMaster 2, PrintMagic dan masih banyak lagi, adalah software-software lama “under DOS” yang dulu sangat bisa diandalkan.

Saat aku masih kuliah, semua tugas-tugas makalah bahkan skripsi masih aku ketik dengan ChiWriter 3.15. Pada waktu itu semua orang yang ingin mengetik di rental komputer minimal harus membawa tiga buah disket 1,2 Mb berukuran besar yang masing-masing berisi: satu disket DOS, satu disket aplikasi dan satu lagi disket data. Harddisk belum familiar seperti sekarang. CPU-nya saja masih berkecepatan 286 Mhz dengan memori berkecepatan 4 sampai 8 Mb. Saat itu memiliki komputer dengan spesifikasi seperti itu sudah merupakan sesuatu yang canggih.

Lalu semuanya berubah pada tahun 1995. “Windows 95” dengan program olah kata dan data “MsOffice” seakan mengganti sekaligus membuang paham-paham lama semacam WordStar, Lotus dsb. Spesifikasi komputerpun melesat super cepat melebihi cara kami berpikir. Mulai prosesor 486 Mhz, Pentium 100, 133, 166 lalu 233 MMX sampai lahirnya Pentium 4 yang canggih seakan terus memenuhi daya konsumsi para pengguna komputer. Semuanya mengacu kepada satu hal, yaitu: kecepatan. Semakin cepat berarti semakin canggih. Manusia tidak lagi betah bekerja dengan mesin yang lamban, semuanya harus cepat. Ditambah dengan fasilitas MultiMedia dan Games yang juga semakin maju. Semua mengarah pada tiga dimensi, pada grafis, pada penampilan, bahkan mengarah ke VR atau Virtual Reality. Para pemakai komputer tidak lagi disuguhi dengan monitor monochrom hitam putih yang membosankan. Semuanya serba warna-warni, serba enak dipandang mata, dan satu lagi, serba mudah dioperasikan dan semakin instan.

Tampilan Windows yang enak di mata atau juga Linux dengan distro-distronya yang semakin mirip Windows, perlahan-lahan membimbing manusia untuk bergantung dengan komputer. Dari komputer yang dulu dianggap membosankan karena kemampuannya yang terbatas, sampai pada jaman dimana manusia begitu keranjingan komputer atas kemampuannya yang sanggup mengisi kekosongan aktifitas. Teknologi internet dengan berbagai hal yang menyenangkan seperti Chatting, Browsing, E-mail dan Game Online, tanpa disadari mulai menjadi bagian primer dari kehidupan. Ditambah satu lagi, komputer juga menjadi lambang atau ikon kehidupan modern. Semua hal yang sudah melibatkan komputer telah dianggap modern, hingga bagi mereka yang belum mengenal komputer akan merasa bahwa diri mereka kuno, tidak mengikuti perkembangan jaman, primitif, atau apa saja istilahnya untuk mengganti kata kuno. Benarkah hanya karena seseorang tidak mengerti komputer maka dia bisa dikatakan kuno? Lalu bagaimana dengan mereka yang sangat mengerti komputer tapi hanya untuk tujuan-tujuan negatif seperti “carding”, “hacking”, atau hanya berputar-putar dalam dunia situs porno?

Teknologi memang tidak selalu berdampak buruk. Seperti halnya mesin ATM, atau Online Banking, semua itu diciptakan untuk mempermudah kebutuhan manusia dalam bertransaksi. Bahkan di beberapa negara maju, segala hal yang berhubungan dengan penyetoran dan pengambilan uang, belanja, atau sekedar ingin memesan Pizza, hanya perlu dilakukan lewat komputer pribadi di rumah. Segalanya Online. Bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Dunia semakin “tidak berjarak” dengan adanya teknologi internet. Dari situlah akhirnya muncul E-Commerce, E-Government, E-Education, dan E E lainnya. Pertemuan antar pribadi semakin jarang terjadi, atau mungkin tidak perlu terjadi. Orang tinggal duduk di depan komputer dan seluruh isi dunia sudah terpampang di layar monitor. Kartu-kartu kredit makin banyak digunakan sehingga wujud uang secara asli suatu hari nanti akan makin jarang kita lihat. Semuanya bersifat virtual tetapi nyata. Atau nyata tetapi virtual.

Aku mengetik tulisan inipun menggunakan teknologi dari Microsoft. Aku tidak perlu lagi pusing dengan margin kiri dan kanan pada kertas. Tidak perlu lagi menyiapkan “TipEx” jika terjadi salah ketik. Dan yang lebih seru sekaligus mengerikan, artikel ini bisa dengan mudah menyebar keseluruh pelosok jagad tanpa harus mengetik ulang. Dengan BroadBand, data apapun bisa dikirimkan hanya dalam hitungan detik. Kalau dulu orang harus datang ke kantor Telkom hanya untuk mengirimkan telegram yang berisi beberapa kata, maka sekarang orang bisa melakukannya dari rumah dengan menggunakan HandPhone. Bahkan tidak hanya sebarisan kata-kata, lewat teknologi MMS, gambar ataupun film berdurasi singkat bisa dikirimkan lewat benda mungil ini. Sekali lagi, dunia semakin tidak berjarak.

Teknologi apa lagi yang akan menyerang kita setelah ini?
Siapkah kita menghadapi semua itu dengan tetap utuh menjadi manusia?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: