Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Mobit Warsono Atmojo

Mendengarkan, Belajar, Mengajar, Menulis. Suka memerhatikan pendidikan, bahasa, budaya dan sosial. Mengajar di FKIP Universitas selengkapnya

Gambar Porno dan Anak-Anak

REP | 07 October 2011 | 04:35 Dibaca: 2937   Komentar: 2   1

Bagaimana respon Anda ketika melihat putra/ putri tercinta melihat hal-hal yang porno?

Apakah kita bahagia, sedih, geram, menyesal, marah? Atau mungkin malah memberikan fasilitas agar anak-anak kita semakin canggih dalam mengakses gambar-gambar porno? Tapi adakah orang tua yang berpikir destruktif seperti ini, mungkin karena mainstream berpikirnya free.. Yah free thinker.

Kita mungkin saja akan berpikir berbeda dalam menyikapi itu semua, tetapi paling tidak ada beberapa poin yang segaris. Paling tidak kita bisa mengambil langkah solutif ketika kita mengalami hal tersebut di atas.

Terkait dengan porno, baik gambar atau film, kita mungkin sepakat bahwa anak-anak tidak layak mengkonsumsi itu semua. Dengan petimbangan etika agama, adab dan kesopanan, psikologis, dan pendidikan kita akan memberikan garis mana yang dapat dilakukan oleh putra-putri kita atau tidak.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita semua lepas kontrol akan hal itu. Kita sudah merasa aman-aman saja, tetapi mereka bisa bermain manis di depan kita, sehingga ketika nanti terungkap kita menjadi kaget.

Seperti anak saudara teman saya, yang masih duduk di sekolah dasar. Anak itu difasilitasi HandPhone yang serba bisa, bisa kamera, bisa internet, bisa download, bisa nyimpan foto. Temennya kerap cerita bahwa si Anu itu sering melihat gambar porno, bahkan di HPnya juga banyak tersimpan gambar atau video gituan.

Fakta bahwa benar adanya anak yang demikian juga dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Nusa Tenggara Timur Mutiara Mauboy. Dalam laporannya seperti dilansir beberapa media online, 67 persen atau setara dengan 201 orang siswa usia sekolah dasar (di bawah 13 tahun) pernah mengakses situs porno.

Anehnya lagi, mereka mengakses itu seusai jam sekolah. Itu artinya banyak kemungkinan waktu dan tempat mengakses setelah jam pelajaran. Bahkan bisa juga mereka mengakses ketika jam istirahat.

Ada beberapa kelompok anak yang didapati sering mengakses gambar-gambar porno. Mereka adalah, pekerja anak, anak putus sekolah, anak dari keluarga kaya serta anak-anak di panti asuhan. Mereka cenderung aktif dalam mengakses karena faktor teman bergaul dan kurangnya perhatian dari orang tuanya.

Ada beberapa yang terlibat dalam kasus seperti itu. Mereka, baik secara langsung atau tidak telah mendorong, memfasilitasi, dan mengijinkan anak untuk berbuat seperti itu.

Dari pihak sekolah, seharusnya terus memantau dengan ketat hingga anak-anak tidak terbiasa untuk bermain di tempat-tempat yang memudahkan anak mengaksesnya. Meskipun tidak semuanya, warnet adalah tempat yang paling potensial. Juga komputer-komputer rumahan yang difasilitasi oleh orang tua untuk mengakses tanpa diberikan password yang aman.

Orang tua memang memegang peranan paling sentral. Bila kita sebagai orang tua cemburu ketika anaknya membuka gambar-gambar porno, seharusnya kita terus setia memantau gerak-gerik, teman-teman bergaulnya, tempat-tempat bermainnya, atau alat-alat komunikasi yang justru malah memfasilitasi untuk melakukan hal-hal seprti itu.

HP yang kita berikan ke anak kita, tidak perlu HP yang bisa menyimpan gambar. Biarkan saja hanya HP yang bisa SMS dan telpon saja. Itu lebih dari cukup, karena kita memfasilitasi benda itu ke anak hanya untuk memudahkan kita komunikasi saja, bukan yang lain. Anak-anak kita juga tidak mungkin memanfaatkan HP untuk mencari bahan-bahan tugas sekolahnya.

Atau juga paling tidak kita harus rajin untuk melihat-lihat konten HP mereka, sehingga paling tidak tindakan itu juga sebagai shock therapy bagi mereka.

Warnet memang bisnis yang menggiurkan bagi pemiliknya, tetapi diapun bisa menjadi pembunuh masa depan putra/ putri ketika penggunaannya tidak sehat.  Bagi lingkungan sekitar ia adalah tantangan berat, karena masih sedikit warnet yang bisa memfasilitasi untuk sehat dalam berinternet.

Lalu, di manakah kira-kira posisi kita sebagai guru, orang tua, sahabat bagi putra-putri kita? Apakah gengsi kita tidak mempedulikan masa depan mereka?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: