Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Mobit Warsono Atmojo

Hidup itu bukti sebuah kematian....

Gambar Porno dan Anak-Anak

REP | 07 October 2011 | 04:35 Dibaca: 2940   Komentar: 2   1

Bagaimana respon Anda ketika melihat putra/ putri tercinta melihat hal-hal yang porno?

Apakah kita bahagia, sedih, geram, menyesal, marah? Atau mungkin malah memberikan fasilitas agar anak-anak kita semakin canggih dalam mengakses gambar-gambar porno? Tapi adakah orang tua yang berpikir destruktif seperti ini, mungkin karena mainstream berpikirnya free.. Yah free thinker.

Kita mungkin saja akan berpikir berbeda dalam menyikapi itu semua, tetapi paling tidak ada beberapa poin yang segaris. Paling tidak kita bisa mengambil langkah solutif ketika kita mengalami hal tersebut di atas.

Terkait dengan porno, baik gambar atau film, kita mungkin sepakat bahwa anak-anak tidak layak mengkonsumsi itu semua. Dengan petimbangan etika agama, adab dan kesopanan, psikologis, dan pendidikan kita akan memberikan garis mana yang dapat dilakukan oleh putra-putri kita atau tidak.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita semua lepas kontrol akan hal itu. Kita sudah merasa aman-aman saja, tetapi mereka bisa bermain manis di depan kita, sehingga ketika nanti terungkap kita menjadi kaget.

Seperti anak saudara teman saya, yang masih duduk di sekolah dasar. Anak itu difasilitasi HandPhone yang serba bisa, bisa kamera, bisa internet, bisa download, bisa nyimpan foto. Temennya kerap cerita bahwa si Anu itu sering melihat gambar porno, bahkan di HPnya juga banyak tersimpan gambar atau video gituan.

Fakta bahwa benar adanya anak yang demikian juga dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Nusa Tenggara Timur Mutiara Mauboy. Dalam laporannya seperti dilansir beberapa media online, 67 persen atau setara dengan 201 orang siswa usia sekolah dasar (di bawah 13 tahun) pernah mengakses situs porno.

Anehnya lagi, mereka mengakses itu seusai jam sekolah. Itu artinya banyak kemungkinan waktu dan tempat mengakses setelah jam pelajaran. Bahkan bisa juga mereka mengakses ketika jam istirahat.

Ada beberapa kelompok anak yang didapati sering mengakses gambar-gambar porno. Mereka adalah, pekerja anak, anak putus sekolah, anak dari keluarga kaya serta anak-anak di panti asuhan. Mereka cenderung aktif dalam mengakses karena faktor teman bergaul dan kurangnya perhatian dari orang tuanya.

Ada beberapa yang terlibat dalam kasus seperti itu. Mereka, baik secara langsung atau tidak telah mendorong, memfasilitasi, dan mengijinkan anak untuk berbuat seperti itu.

Dari pihak sekolah, seharusnya terus memantau dengan ketat hingga anak-anak tidak terbiasa untuk bermain di tempat-tempat yang memudahkan anak mengaksesnya. Meskipun tidak semuanya, warnet adalah tempat yang paling potensial. Juga komputer-komputer rumahan yang difasilitasi oleh orang tua untuk mengakses tanpa diberikan password yang aman.

Orang tua memang memegang peranan paling sentral. Bila kita sebagai orang tua cemburu ketika anaknya membuka gambar-gambar porno, seharusnya kita terus setia memantau gerak-gerik, teman-teman bergaulnya, tempat-tempat bermainnya, atau alat-alat komunikasi yang justru malah memfasilitasi untuk melakukan hal-hal seprti itu.

HP yang kita berikan ke anak kita, tidak perlu HP yang bisa menyimpan gambar. Biarkan saja hanya HP yang bisa SMS dan telpon saja. Itu lebih dari cukup, karena kita memfasilitasi benda itu ke anak hanya untuk memudahkan kita komunikasi saja, bukan yang lain. Anak-anak kita juga tidak mungkin memanfaatkan HP untuk mencari bahan-bahan tugas sekolahnya.

Atau juga paling tidak kita harus rajin untuk melihat-lihat konten HP mereka, sehingga paling tidak tindakan itu juga sebagai shock therapy bagi mereka.

Warnet memang bisnis yang menggiurkan bagi pemiliknya, tetapi diapun bisa menjadi pembunuh masa depan putra/ putri ketika penggunaannya tidak sehat.  Bagi lingkungan sekitar ia adalah tantangan berat, karena masih sedikit warnet yang bisa memfasilitasi untuk sehat dalam berinternet.

Lalu, di manakah kira-kira posisi kita sebagai guru, orang tua, sahabat bagi putra-putri kita? Apakah gengsi kita tidak mempedulikan masa depan mereka?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 9 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 14 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Noise Penyebab Miskom Dalam Organisasi …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Rindu untuk Negeri Intimung …

Riza Roiyantri | 8 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

Akankah, Fatin Go Kompasianival? …

Umar Zidans | 8 jam lalu

Menteri yang Diharapkan Bisa Profesional …

Yulies Anistyowatie | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: