Back to Kompasiana
Artikel

Internet

Valentino

Hanya Seorang Pemimpi

Telanjang di Internet Agar Terlihat Seksi Bertopeng Kebebasan Berekspresi

REP | 25 November 2011 | 16:00 Dibaca: 1814   Komentar: 150   17

13221898601686470001

Haduh.. wow…, nekad ! Itu reaksi pertama saya saat melihat  40 wanita Israel berkumpul untuk berpose telanjang di Tel Aviv,  pada Sabtu 19 November lalu. Apalagi membaca alasan dibalik aksinya itu, untuk mendukung  dan merespon langkah berani Aliaa Elmahdy (20 tahun), seorang gadis asal Mesir, yang memposting gambar dirinya hanya mengenakan stoking dan sepatu datar merah di blog-nya minggu lalu. Emahdy melakukan hal tersebut untuk memprotes kurangnya kebebasan di Mesir, seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan saya di sini

Aliaa Elmahdy- garbage.strodong.com

Aliaa Elmahdy- garbage.strodong.com

Saya cukup tercengang, dengan beraninya wanita-wanita Israel tersebut melakukan langkah yang “ga waras”, apalagi Elmahdy yang berasal dari Mesir itu. Dailymail, 21/11/2011 , menulis judul beritanya “It doesn’t matter if you’re Jewish, Arab straight or lesbian’: Israeli women strip in support of nude Egyptian blogger”. Waduh, bukanya norma mereka begitu ketat dalam persoalan beginian ? Saya menjadi cemas sekali, ga membayangkan hal ini terjadi di Indonesia.

Sekali lagi perlu saya katakan, para wanita ini “ga waras” dan sudah “kelewatan”. Mereka berani melawan hukum dan norma yang ada untuk merespon isu perdamaian dan pelecehan kaum wanita dengan model beginian. Walaupun Elmahdy akhirnya memproklamirkan diri sebagai atheis dan sudah betekad berjuang untuk kebebasan walaupun harus diancam maupun dibunuh, namun hukum dan norma yang ada di masyarakat harus tetap ditegakan. Langkah mereka ini seharusnya dihentikan oleh pemerintah dan memberikan efek jera.

Hal seperti ini jangan dipikir wajar, karena banyak  dari remaja bahkan publik figur di Indonesia yang “seenak perutnya” beradegan dan berpose panas, bahkan ga segan-segan untuk menampilkannya di internet. Saya ga perlu sebutin satu persatu, anda tinggal googling atau gosipin hal ini melalui forum atau BBM, banyak foto yang berseliweran di sana.

Kita tinggalkan dulu alasan kebebasan yang salah kaprah dan lebay tadi. Sekarang saya ingin tanya, apa sih artinya tampil seksi ? Anda tentu memiliki argumentasi sendiri. Tapi coba anda tanyakan pada remaja sekarang. Jawaban yang didapat kadang aneh-aneh, mulai dari cara berdandan secara terbuka sampai foto mengenai bahasa tubuh. Bibir, lidah, pinggul, membusungkan dada, jongkok,  halahhhh pokoknya gitu deh.

Bahkan ada juga remaja yang menjawab, mereka akan happy apabila pacarnya suka dengan foto mereka yang terlihat seksi tersebut. Nah kadang seksi diartikan “telanjang” sama mereka, entah sebagian atau seluruh tubuh. Bukan maen, kalo ga seksi ga Disukai gitu ? Remaja sekarang sering bermain api, lantaran sudah sangat mudah mengabadikan dirinya melalui segala peralatan canggih dewasa ini, termasuk beradegan di depan web cam. Hadehh…

Kalo “sex” diartikan sebagai jenis kelamin, kemudian kalo dilafal dalam bahasa Indonesia menjadi “seks”, walau dalam kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan arti yang sama, namun dalam kenyataannya menjadi bias. Kata seks kemudian diterjemahkan dengan hubungan badan, bahkan dalam bahasa pergaulan diterjahkan “ngeseks”.

Bagiamana dengan sexy ? Nah, menurut wikipedia diterjemahkan sebagai sexual attraction atau sex appeal,  atau daya tarik seksual.  Kalo kamus besar bahasa Indonesia mengartikan, merangsang rasa birahi, Wikipedia juga mengartikan yang sama “individual’s ability to attract the sexual or erotic“. Kata sexual yang disebutin disini diterjemahin menjadi “how people experience the erotic and express themselves as sexual beings“. Jadi sama saja kan, kalo seksi itu ada indikasi kuat membangkitkan gairah/birahi orang lain, apalagi berpose seperti itu namanya niat untuk merangsang.

Sekarang kembali ke anggapan bahwa telanjang itu sexy. Bagi saya telanjang dengan tujuan dipertontonkan untuk umum itu “jorok”, tabu dan dilarang. Beda halnya di kamar mandi atau tempat privasi lain,  hahah entah menurut anda. Jelas sesuai definisi di atas, jangankan telanjang, melalui daya tarik fisik, gerak tubuh dan lain sebagainya dapat membangkitkan birahi. Ini bersifat subjective lho, ada juga yang otaknya lurus melihat rok pendek ga masalah. Namun walau otaknya lurus, adalah wajar kalo melihat gambar telanjang lalu terangsang. Ehemm, ada yang ngaku ga terangsang, ya syukurlah.  Jadi gimana ? Tampil seksi bahkan telanjang melalui foto diri dan dipertontonkan ke umum melambangkan suatu keindahan, seni yang maha tinggi dan mengabaikan masalah norma ?  Saya rasa kalo tindakan dengan niat sadar seperti itu ga bisa ditolelir.

Jujur ! Kekhwatiran soal anggapan seksi dan memperjuangkan kebebasan berekspresi di dunia maya ini tetap menjadi masalah serius. Perkembangan jaman selalu memaksa perubahan pola pikir anak-anak kita. Apalagi dimudahkan dengan perkembangan dan kecanggihan teknologi saat ini.  Lewat kebebasan berekspresi yang berani seperti ini, sudah dapat mengindikasikan bahwa pergaulan bebas bukan lagi sesuatu yang tabu.  Berani telanjang di depan umum dapat berarti sudah siap atau bahkan sudah melakukan hubungan badan yang mengarah pada pergaulan bebas yang berujung juga pada penyakit kelamin dan seterusnya dapat mengakibatkan kematian di usia muda.  Kalu itu terjadi sama anak-anak dan remaja gimana ? Ga salah kalo ada yang beranggapan, cegah remaja untuk tampil seksi yang berlebihan untuk mencegah mereka masuk dalam pergaulan bebas. Entah menurut anda, tapi sah-sah saja anggapan seperti ini.

Bagi para orang tua, selain mengajak anak-anak anda berdiskusi tentang hal ini termasuk membahas pergaulan bebas dan bahayanya. Kalo boleh saya usulkan, secara rutin memeriksa ponsel dan notebook/PC anak anda yang digunakan secara pribadi. Buat aturan ini sebagai perjanjian pemenuhan kebutuhan teknologi yang mereka inginkan. Bagi remaja yang sudah menggunakan Facebook, mintakan mereka untuk berteman dengan anda atau keluarga terdekat yang dirasa nyaman bagi mereka. Jangan biarkan mereka berkeliaran sendiri di dunia maya tanpa pengawasan.

13221779241773831144

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 9 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Taklukkan Ciputat Maka Kau Taklukkan …

Dzulfikar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: