
Dibaca: 378
Komentar: 3
1 dari 2 Kompasianer menilai menarik
Kemarin (30/11) baru saja saya menghadiri diskusi di Komnas HAM. Diskusi itu bertemakan, ” Kapitalisme 2.0: Intellectual Property Right (IPR) di Telematika”. Pembicara dalam diskusi itu adalah mbak Lutfiah Hanim dari Third World Network, Rudi Rusdiah, penulis buku yang terkait IPR di telematika dan Pak Onno W Purbo, penggiat copy left.
Mbak Hanim, menjelaskan mengenai bagaimana ternyata regulasi mengenai copy right menguntungkan korporasi-korporasi multinasional dari negara-negara kaya daripada negara berkembang. Dalam paparannya disebutkan bahwa negara maju adalah eksportir produk/karya yang dilindungi hak cipta, sehingga menjadi penerima keuntungan dari perluasan perlindungan HKI (Hak Kekayaan Intelektual). Data yang ia paparkan misalnya menyebutkan, untuk penerbitan buku, daftar negara pengekspor buku pada tahun 1998, adalah AS - 20 %; Inggris – 17%; Jerman 10%; Singapura 3%. Dimana Indonesia?
Sementara Rudi Rusdiah mencoba memaparkan bagaimana kepentingan negara maju, dalam hal ini Amerika Serikat, mengintervensi pembuatan berbagai kebijakan yang terkait dengan HAKI di Indonesia. Bahkan tuduhan bahwa Indonesia adalah negara pembajak softwere yang sering digambar gemborkan itu juga bagian dari tekanan tersebut. Beberapa kebijakan mengenai monopoli pasar pun di Indonesia memberikan pengecualian terhadap monopoli yang muncul akibat pemberlakuan rejim copy right ini dan juga yang terkait dengan perjanjian internasional. “Padahal, Indonesia pernah punya MoU dengan Microsoft, ” ujarnya.
Sementara Onno W Purbo, menceritakan pengalamannya selama menjadi ‘aktivis copyleft”. “Silahkan orang lain memakai copy right, tapi saya sendiri sudah tidak percaya pada copy right,” ujarnya, “Copy right itu tidak akan mencerdaskan masyarakat,”.
Oleh karena itulah, lanjutnya, ia hingga kini memilih copy left. “Dulu saya mengajar di ITB, pada saat itu copy right telah begitu mendominasi pemikiran dosen-dosen ITB,” ceritanya, ” Saya mengatakan bahwa bila menggunakan copy right maka, itu tidak akan mencerdaskan,”.
Hal itu kemudian menjadi perdebatan panjang di ITB. Hingga akhirnya Onno Purbo memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi dosen di kampus ternama itu. ” Nah pertanyaannya adalah, apakah kita bisa hidup dengan copy left?” ujarnya.
“Pengalaman saya selama ini, membuktikan bahwa kita bisa hidup dengan tetap menjadi seorang yang idealis pada copy left bukan copy right” jelasnya.
semua bahan presentasi mengenai diskusi itu dapat diunduh atau dowload di sini.