Back to Kompasiana
Artikel

Otomotif

Yusep Mandani

Asal Cimahi kerja di Tangerang kuliah di Mercu Buana kampus Meruya

Bahan Teknik Blok Mesin

REP | 19 November 2010 | 10:53 Dibaca: 3497   Komentar: 0   1

Sampai sekarang, baja campuran besi dan aluminium telah menjadi bahan istimewa yang dipakai untuk memproduksi blok mesin diesel dan konvensional bertenaga bensin. Akan tetapi, dengan lebih menekankan pada peningkatan efisiensi melalui pengurangan berat, pengusaha mulai mencari bahan campuran alternative yang lebih ringan daripada baja campuran besi dan aluminium, namun tetap memiliki kemampuan untuk menahanĀ  tenaga yang dihasilkan mesin. Baru-baru ini, proses produksi baru telah melakukan pengembangan yang telah melahirkan dua jenis logam campuran baru yang cocok untuk digunakan sebagai blok mesin, logam campuran magnesium AMC-SC1 dan grafit baja yang dipadatkan (CGI). Pada makalah ini akan mendiskusikan mengenai prasyarat fungsional untuk blok mesin, proses yang digunakan untuk memproduksi bagian tersebut, dan sifat-sifat mekanik dari bahan campuran.

Mesin pembakaran bagian dalam yang pertama kali sukses bekerja dibuat oleh Siegfried Marcus kurang lebih pada tahun 1864 [1]. Mesin itu terdiri dari silinder tunggal, mesin dua langkah berbahan bakar minyak bumi yang juga menggunakan sebuah karburator untuk mengantarkan bahan bakar ke mesin. Mesin tersebut dipasang di sebuah kereta dengan empat roda dan secara sukses berjalan dengan tenaga yang dihasilkan. Marcus tidak hanya menghasilkan mesin pertama yang menjadi leluhur dari mesin hari ini, tetapi beliau juga membuat mobil pertama dalam sejarah, 20 tahun lebih awal sebelum mobil Gottlieb Daimler.

Mesin sekarang adalah komponen terpenting untuk melengkapi mobil yang terbuat dari banyak susunan dan jauh lebih rumit daripada mesin otomotif dahulu. Inovasi teknologi seperti electronic fuel injection, drive-by-wire throttles (dengan kata lain, dikendalikan computer), dan penonaktifan silinder telah membuat mesin lebih efisien dan bertenaga. Penggunaan bahan teknik yang lebih ringan dan kuat untuk memproduksi berbagai macam komponen mesin juga member dampak; hal ini memberikan kesempatan para teknisi untuk meningkatkan rasio power-to-weight dari mesin, dan demikian juga dengan mobilnya

Komponen-komponen biasa ditemukan pada mesin diantaranya piston, camshaft, timing chain, rocker arm, dan berbagai jenis lainnya. Pada saat semua komponen dibuka seluruhnya, bagian inti mesin dapat dilihat : blok silinder. Blok silinser (atau biasa disebut blok mesin) adalah komponen terkuat pada mesin yang memuat ratusan bagian-mesin ditemukan pada mesin modern. Karena ukurannya yang relatife besar, blok mesin merupakan 20-25% dari total berat sebuah mesin.Sehingga ada banyak ketertarikan dalam mengurangi berat blok.

Sebelumnya blok mesin terbuat dari coran besi campuran dikarenakan daya tahan dan biayanya yang murah. Akan tetapi, seiring kompleksnya design mesin, bobot mesin (dan kendaraan) menjadi bertambah. Konsekuensinya, para pengusaha manufaktur ingin menggunakan campuran yang lebih ringan namun sekuat besi campuran. Salah satu material yang digunakan adalah campuran aluminium. Pada tahun 1930 campuran aluminium jarang digunakan (dikarenakan masalah daya tahan), selanjutnya pada tahun 1960-1790 penggunaan campuran aluminium tersebut digunakan pada blok mesin melonjak karena dapat meningkatkan afisiensi bahan bakar dan performa mesin. Kedua material ini digunakan secara eksklusife untuk pabrikasi blok mesin. Akhir-akhir ini, proses material baru telah membuat campuran magnesium dan mempersembahkan alternatife baru pada pembuatan mesin. Proses produksi baru ini telah membuat grafit besi padatan (CGI, Compacted Graphite cast Iron) sebagai alternatife dari besi coran bagi pembuatan blok mesin diesel. Seperti halnya campuran magnesium, materil-material ini menjanjikan daya tahan lebih dengan bobot lebih ringan dari campuran besi perak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

PR Matematika Anak SD Hebohkan Netizen …

Samandayu | | 22 September 2014 | 14:16

Jawaban PR Anak SD yang 80% Salah …

Hendri Ma'ruf | | 22 September 2014 | 15:12

Nyari Hobi yang Menguntungkan? Hidroponik …

Jeane Siswitasari | | 22 September 2014 | 16:34

Mandiri dengan Make Up, Siapa Takut? …

Asri Alfa | | 22 September 2014 | 14:07

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 12 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 13 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 8 jam lalu

Pengen Diet Koq Ngences? …

Vita Sinaga | 8 jam lalu

Jangan (Hanya) Cari Kelebihan Dari Istrimu …

Muhammad | 8 jam lalu

Wong Ndeso Ngaku Kutho …

Rizka Amalia Nur Fa... | 8 jam lalu

Gunung Padang Mitos Gerak Sejarah Yang Abadi …

Akhmad Ali | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: