
Dibaca: 230
Komentar: 2
Nihil

Saya punya prinsip: tak ada rotan plastik pun jadi (Prinsip anak laki-laki saya: tak ada rotan, cari dulu rotannya. Ini yang kadang membuat kami berselisih). Saya tak pernah ragu dengan prinsip ini, sekalipun beberapa kali kena batunya, karena bahan pengganti tak sebaik aslinya.
Kali ini prinisip ini berdampak finansial, energi, dan kenyamanan. Semuanya ke arah yang kurang menguntungkan.
Ceritanya dimulai ketika salah satu sensor oksigen rusak, dan putaran mesin sering naik sendiri. Karena waktu itu saya belum paham kalau penyebabnya adalah sensor O2 yang rusak, saya mencoba macam-macam, termasuk mencoba menaikkan RPM idle dengan memutar baut yang gambarnya tertayang di atas.
Saya tahu kalau idling RPM pada mobil ber ECU gak bisa disetel, tapi namanya nyoba kan boleh. Putar ke kanan, RPM naik sedikit, lalu kembali lagi ke 750. Putar lagi, naik sedikit, kembali lagi ke 750. Putar lebih banyak, jadi 1500, tak baik bagi perseneling otomatis.
Putar ke kiri, terus sampai bautnya lepas dan jatuh. Gak ketemu. Mungkin nyangkut di sela-sela mesin. Maklum, ruang mesin Carnival ini irit banget. Gak ada ruang gerak.
Seperti sudah saya tulis tadi, baut ini gak ada hubungannya dengan RPM idle, tapi berfungsi sebagai penyangga katup agar tidak nyangkut dengan rumahnya. Tanpa baut ini, katup dipaksa menutup oleh pegas sehingga bisa sedikit nyangkut. Jadi pedal gas agak seret pada awalnya. Kalau gak hati-hati mobil bisa melonjak karena ketika seretnya lepas, katup terbuka lebar tiba-tiba.
Sebenarnya bisa juga ditanggulangi dengan menyetel dudukan kabel gas. Tetapi kabel gas lama-lama mulur, jadi akan kembali pada keadaan seret lagi.
Sebagai seorang mekanik, sebelum cari suku cadang aslinya, saya membuat penahan pengganti yang terdiri atas satu baut kecil tapi panjang, dengan dua mur. Kedua mur saling mengunci, sehingga tujuan tercapai.
Ternyata baut aslinya yang spesial ini (ulirnya halus) tak ada di bengkel resmi sekalipun. Jadi saya hidup dengan baut penahan buatan saya sendiri selama enam bulan ini.
Kemarin saya ke bengkel, mengganti busi, kabelnya, dan gasket penutup kepala silinder. Tanda saatnya mengganti gasket ini adalah bila kabel kepala busi sudah basah oleh oli.
Mesin Carnival ini V6 melintang. Tiga silinder di depan, tiga silinder lainnya hampir horisontal di belakang, hampir mentok ke firewall. Saya bisa mengganti sendiri sparepart yang saya sebutkan tadi untuk tiga silinder depan. Silinder belakang, no way.
Montir harus membuka throttle body dan intake manifold untuk mencapai tutup kepala silinder belakang.
Karena sedang di bengkel, dan banyak baut bertaburan, maka saya membuka baut kecil penahan katup udara bikinan sendiri tadi, supaya bisa mencoba-coba baut yang saya temui. Tak bernasib baik, tak ada yang cocok. Jadi saya kembalikan lagi baut kecil dengan dua mur pengikatnya. Saya lupa untuk mengencangkannya dengan kunci. Jadi dua mur kontra itu hanya saya kencangkan dengan tangan.
Montir selesai memasang busi, kabelnya, dan gasket, maka intake manifold dan throttle bodi dikembalikan kepada tempatnya. Saya pulang dengan gembira, karena besok subuh ada janji ketemu dengan mitra bisnis.
Pertemuan selesai hampir tengah hari, saya pulang lewat jalan tol dalam kota. Macet. Mesin mulai terlihat naik RPMnya di Cawang. Sampai Tebet RPMnya jadi 1000. Sampai kuningan idlenya 1200. Mendekati exit Semanggi RPMnya 1500. Saya nyalakan lampu hazard dan minggir ke bahu jalan, tak berani memindahkan perseneling ke netral, tapi mesin langsung saya matikan. Temperatur juga sudah naik sampai lewat 50%.
Perseneling saya netralkan, mesin saya start. Langsung lewat 3000 rpm. Segera saya matikan lagi. Bingung.
Saya turun membuka kap mesin, air pendingin mancur dari reservoir sambil menggelegak mendidih. Nasib. Malu juga diliatin orang. Mobil di belakang saya berusaha pindah ke jalur yang benar. Biasa, kalau macet, bahu jalan juga dipakai semua orang. Sekarang saya sedang menggunakan bahu jalan dengan benar. Darurat.
Belum lima menit saya berdiri memandangi air hijau mendidih yang mancur tak henti dari reservoir, mobil derek Jasamarga mengambil posisi di depan mobil saya.
Keneknya dengan sopan menawarkan jasa derek gratis sampai bengkel terdekat. Karena hari panas, dan mesin mobil juga sangat panas, di jalan tol lagi, maka saya bersukur mobil derek segera datang. Saya tak bisa berpikir. Saya kepingin segera membawa mobil ini ke bengkel yang kemarin membongkar intake manifoldnya.
“Kalau ke Serpong saya harus bayar berapa?”
“Ke Serpong lima ratus ribu saja, pak”.
“Kalau ke Bintaro?”
“Jadi enam ratus, deh”.
“Lha, kok lebih mahal? Kan dari sini bisa lewat Pondok Indah.”
“Iya, pak. Bintaro juga kan luas, pak.”
Singkat cerita, saya setuju saja. Ada jaminan bahwa mobil kesayangan saya tak akan nambah lecetnya.
Sebagai penunjuk jalan (sopirnya orang Pangandaran, sekalipun sudah 15 tahun jadi sopir derek, masih kurang fasih jalan di Jakarta) saya duduk disamping sopir. Bantingannya bukan main. “Ini per-nya sudah dikurangi, lho, pak”, ujar sang sopir. Panas, tak ber AC. Di Tanah Kusir saya minta berhenti di ATM.
Sampailah di bengkel langganan di Jurang Manggu.
“Idle-nya 3000″, ujar saya kepada montir.
Sang montir keheranan. Setelah tidak lagi dibanting-banting dan kepanasan, saya juga mulai berpikir. Kalau katup udaranya tertutup, masak iya RPMnya bisa 3000?
Sang montir membuka kap mesin, dan meraba poros katup udara. “Ini keganjel, pak”, katanya.
Saya segera menyadari apa yang terjadi kemarin. No problem!
Saya minta baut bermasalah itu dibalik arahnya, diganjal dengan beberapa ring (bukan mur) di kepalanya sampai ukurannya sesuai. Karena di kepalanya tak ada mur, maka tak mungkin nongol lagi kalau berputar sendiri. Di sisi satunya baru diikat dengan mur.
Baut aslinya memang disegel dengan semacam cat.
Maka saya jadi lebih miskin 650 ribu rupiah. Yang 50 ribu untuk engine coolant.
Moral of the story: Pikir baik-baik segala kemungkinan. Getaran mesin bisa berdampak ajaib. Kalau mestinya di lem, ya di lem. Sebaiknya pakai yang asli. Kalau tak ada rotan, cari dulu rotannya.