Back to Kompasiana
Artikel

Otomotif

Abimosaurus

Berbagi Tak Pernah Rugi

Membuat “Bensin” Sendiri Yuk…!!!!

HL | 21 September 2012 | 13:32 Dibaca: 8788   Komentar: 24   14

Subsidi BBM, terutama untuk bensin (Premium) sudah sangat tinggi (mungkin karena banyak juga yang diselewngkan ya….???). Pemerintah untuk kesekian kalinya berencana menaikkan harga bensin lagi. Padahal bensin sudah menjadi seperti ‘kebutuhan hajat hidup orang banyak’. Kalau bensin naik, hampir dipastikan biaya hidup akan naik pesat. Tapi, jangan keburu panik, dengan sedikit usaha Anda bisa juga kok membuat’bensin’ sendiri.

‘Bensin’ yang saya maksud di sini adalah bioetanol yang bisa dicampurkan ke dalam bensin dengan rasio pencampuran 1:9 atau 2:8. Bioetanol ini bisa dibuat sendiri. Proses pembuatannya relatif mudah dan bisa menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita. Banyak bahan yang bisa dipakai untuk membuat bioetanol, tetapi saya lebih suka menyarankan untuk membuat dari bahan-bahan sisa alias limbah.

Bahan yang bisa digunakan untuk membuat bioetanol adalah bahan yang mengandung gula alias manis. Prinsipnya bahan yang manis bisa diolah menjadi bioetanol. Bahan-bahan itu seperti; gula pasir, gula jawa, tetes tebu, nira kelapa, nira aren, sisa minuman, sisa buah-buahan yang manis, dan bahan-bahan lainnya.

Proses pembuatan bioetanol dari gula pasir, tetes, atau buah-buahan bisa dilihat di posting lain: gula pasir, tetes tebu, buah-buahan yang manis.

Peralatan yang dibutuhkan:
- fermentor sederhana (bisa dibuat dari galon atau drum plastik).
- distilator
- kompor/pemanas

Bahan-bahan:
- Urea dan NPK
- yeas atau ragi roti
- bahan baku utama (sisa minuman, sisa buah-buah, atau yang lainnya).

Caranya sederhana.

1. Siapkan fermentor. Bisa dibuat dari galon atau dari drum plastik ukuran 50-100L.
2. Masukkan sisa minuman, sisa buah-buahan, gula pasir, tetes, atau bahan manis lainnya ke dalam fermentor.
3. Tambahkan Urea dan NPK secukupnya.
4. Tambahkan ragi roti ke dalam fermentor secukupnya.
5. Aduk hingga tercampur merata, dan biarkan sampai fermentasi berjalan sempurna.

Pada prakteknya bisa dibuat sederhana. Misalkan letakkan fermentor di dekat dapur (tapi hati-hati, karena bisa tercium baunya). Jadi setiap ada sisa minuman langsung dituang ke dalam fermentor. Penambahan urea, ragi, atau yeast bisa ditambahakan sedikit demi sedikit.

fermentor bioetanol

Setelah fermentor penuh, tutup fermentor dan berikan selang untuk aerasi. Silahkan lihat di bagian fermentor bioetanol.

Setelah fermentasi berjalan sempurna yang ditandai dengan bau etanol yang menyengat. Cairan fermentasi ini bisa didistilasi dengan menggunakan distilator kecil atau mini distilator. Silahkan baca di posting ini untuk melakukan distilasi etanol.

mini distilator bioetanol bioethanol etanol ethanol

Distilasi etanol bisa menghasilkan etanol dengan kadar 95-98% maksimal. Untuk memastikannya anda perlu mengukur kadar bioetanol ini dengan menggunakan etanol meter. Cara mengukur kadar bioetanol silahkan baca di link ini.

mengukur kadar bioetanol

Bioetanol dengan kadar kurang dari 99% belum bisa dicampur dengan bensin. Karena kandungan airnya bisa merusak mesin. Untuk menghilangkan sisa air dilakukan dehidrasi. Caranya bisa menggunakan kapur tohor atau kapur bangunan yang banyak dijual di toko-toko material/bahan bangunan. Caranya, tambahkan kapur tohor ke dalam bioetanol 95%. Biarkan kapurnya bereaksi dan didiamkan sampai mengendap. Bioetanol distilasi sekali lagi dengan menggunakan mini distilator. Cek atau ukur kadar bioetanolnya lagi dengan menggunakan etanol meter. Jika sudah mendekati 100% sudah bisa digunakan untuk bahan bakar.

Saya pernah mencoba menggunakan 100% etanol pada motor saya, dan ternyata bisa jalan tanpa ada masalah. Campuran bioetanol yang dianjurkan adalah 1 (etanol): 9 (bensin) atau 2 (etanol): 8 (bensin).

Selamat membuat ‘bensin’ sendiri dan ayo selamatkan bumi kita tercinta ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 12 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 8 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: