Back to Kompasiana
Artikel

Otomotif

R-82

Bukan sesiapa yang mencari apa dibalik mengapa dan bagaimana

Vespa Tidak Laku di Indonesia

HL | 25 January 2013 | 05:51 Dibaca: 13363   Komentar: 86   15

13590661671401339574

Foto R-82

Tahukah anda bahwa Vespa adalah produk kendaraan yang tidak laku jika dibandingkan motor lain yang ada di Indonesia.”

Pernyataan tersebut semula menjadi sebuah keterangan yang meragukan. Mengingat komunitas Vespa adalah komunitas yang bisa disebut sebagai komunitas terbesar yang ada di Indonesia. Komunitas yang biasa disebut sebagai Club, Scooterist dan ada yang menyebut juga Vespaholic tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bahkan, komunitas Vespa yang ada di Indonesia memiliki cabang di negara tetangga. Seperti halnya SOG (Scooter Owner Group) club yang berdiri tahun 199 ini telah memiliki cabang hingga ke negara lain di Asia. Hingga saat ini sudah lebih dari 6.000 Anggota yang tercatat di SOG. Pada tahun 2010, SOG telah mengadakan Event Jambore Se-Asia, kemudian mengadakan Event Vespa Se-Asia Tenggara pada tahun 2012. Kedua Event tersebut diadakan di Bandung dan dahadiri Scooterist dari berbagai pelosok di Indonesia serta para undangan yang datang dari negara tetangga.

Selain SOG, masih terdapat ratusan club yang ada di Indonesia. Anggotanya variatif dari puluhan hingga ribuan. Sehingga bisa dikatakan bahwa penggemar Vespa adalah komunitas terbesar yang ada di Indonesia.

Saat ini, para pecinta Vespa sering mengadakan Event yang dilakukan hampir setiap minggu sepanjang tahun di berbagai daerah yang berbeda, bahkan tidak jarang ada dua event yang bersamaan dalam waktu yang sama. Dalam event tersebut, bisanya menjadi ajang menjalin persaudaraan yang di isi dengan beragam kegiatan seperti kontes vespa klasik/costum, lomba ketangkasan berkendara dan acara hiburan yang lainnya.

1359066438477774940

Salah satu kontes pada event Vespa, foto R-82

Event tersebut biasa dihadiri oleh para penggemar vespa dari berbagai kalangan dan daerah. Dan event dengan Vespa terbanyak hingga saat ini adalah event pada 1-2 Januari 2013 di TMII yang dihadiri oleh lebih dari 50.000 Vespa. Event tersebut menjadi event terbanyak peserta dalam sejarah, Ecent ini membuat jalanan sekitar TMII macet selama 2 hari. Hingga pada siang hari kedua event tersebut, Polisi lalu lintas mengarahkan Vespa yang baru datang menjauhi wilayah TMII. Artinya, para peserta yang datang pada hari minggu siang sudah tidak bisa lagi memasuki kawasan event di TMII. Sebagian diantaranya diarahkan untuk kembali ke arah mereka datang (putar arah/pulang).

Lantas, bagaimana Vespa bisa menjadi produk yang tidak laku?

1359066611498130253

Dedy Bikers (memakai kacamata) ketika menghadiri event di Gili Trawangan

Mengingat seringnya Event dan banyaknya peserta yang hadir, Dedy Bikers sebagai Sekjen IVI (Ikatan Vespa Indonesia, sebagai organisasi yang menaungi lebih dari 350 club di Indonesia) mendatangi kantor pemasaran Piaggio (produsen Vespa) yang berpusat di Jakarta. Dalam hal ini, IVI yang diwakili oleh Dedy Bikers mempertanyakan kepedulian pihak Piaggio, karena tidak pernah menjadi sponsor utama/memberikan pembiayaan penuh dalam setiap acara Vespa.

Ternyata, menurut keterangan Manager Marketing Piaggio Indonesia Soni Budiwarsono, saat ini Vespa merupakan produk yang tidak laku di Indonesia. Sedangkan yang banyak di pasaran/beredar adalah produk lama/second yang berputar dari satu pemilik ke pemilik yang lainnya. Perputaran Vespa second tersebut, tidak memberikan kontribusi material bagi produsen Vespa saat ini.

Keadaan tersebut, terbukti dari ditariknya pemasaran Vespa tipe New PX yang mulai dikeluarkan pada tahun 2000an dari Indonesia. Pemasaran produk yang ditarik di tersebut di alihkan ke negara-negara lain di Asia. Pengalihan pemasaran New PX dikarenakan alasan yang sama, yaitu tidak laku di Indonesia.

Setelah “gagal” dengan New PX, Piaggio kemudian memasarkan LX di Indonesia. LX adalah jenis Vespa matic buatan Piaggio yang diharapkan bisa bersaing dengan scooter matic lain yang banyak beredar. Sayangnya, LX juga hingga saat ini tidak menjadi produk yang marak digunakan oleh para penggemar Vespa atau pengguna kendaraan bermotor pada umumnya.

Selain produk kendaraanya dari Piaggio/Vespa, Onderil “original” Vespa juga sama nasibnya yang tidak begitu laku dipasaran. Saat ini, onderdil yang banyak digunakan untuk Vespa lama/second adalah produk bajakan atau biasa disebut “lokal”. Produk bajakan tersebut banyak di produksi oleh negara-negara di Asia termasuk Indonesia.

Menurut pengakuan para penggemar Vespa (termasuk saya yang sudah lebih dari 10 tahun menggunakannya), Produk Vespa baru yang dikeluarkan Piaggio hampir sama dengan produk yang lama. Baik dari konstruksi mesin maupun bodynya nyaris tidak berbeda. Produk baru tersebut dipasarkan dengan harga yang jauh lebih mahal dari produk sebelumnya. Satu buah New PX misalkan, harganya nyaris sama dengan tiga Vespa lama dengan kondisi yang bagus, baik tampilan maupun kekuatannya. Begitupun dengan Vespa matic LX yang dijual dengan harga tinggi, perbedaannya sekitar dua kali motor matic baru merk lain.

Onderdil original Vespa biasa dijual dengan harga lebih tinggi beberapa kali lipat dibandingkan onderdil lokal. Seperti halnya platina (onderdil untuk pengapian) lokal yang dijual antara Rp 7.500 hingga Rp 12.000, sangat berbeda harganya dengan platina original yang biasa dijual seharga Rp 35.000.

Disisi lain, kelebihan sekaligus kekurangan konstruksi mesin Vespa adalah terlalu mudah di tiru. Baik bentuk maupun kualitasnya bisa di buat ulang dengan ketahanan yang nyaris sama. Sehingga onderdil lokal yang didapat dengan harga lebih murah, dapat digunakan dengan kekuatan dan ketahanan yang sama. Dengan alasan seperti itulah, kebanyakan para penggemar vespa menggunakan produk lokal/bukan buatan Piaggio. Hingga saat ini, hanya orang yang panatik saja yang membeli dan menggunakan onderdil produk asli Piaggio/Vespa.

***0***

Postingan ini dibuat bukan untuk mempromosikan produk Piaggio/Vespa. Ini adalah sebagai jawaban, kenapa sebagai penggemar Vespa yang telah melakukan perjalanan Sabang-Meraoke menggunakan Vespa, saya tidak meminta disponsori oleh Piaggio sebagai produsen Vespa.



Tags: vespa r-82

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 6 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 7 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 11 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: