Back to Kompasiana
Artikel

Otomotif

Bkm Pii

BKM-PII adalah singkatan dari Badan Kejuruan Mesin - Persatuan Insinyur Indonesia, yang anggotanya terdiri dari selengkapnya

Permasalahan Sistem Transportasi di Indonesia

REP | 12 March 2013 | 09:13 Dibaca: 1185   Komentar: 0   0

Sebagaimana diketahui, sebulan sebelumnya BKM PII mengadakan diskusi Peer Group Discussion bulanan kelima, di Balitbang Kemenhub, Jakarta, 24/5/12.  Dalam kesempatan itu dikatakan, kemacetan di berbagai kota besar Indonesia menyebabkan dampak kerugian Rp. 46 trilyun per tahun.

Ir. Krishnahadi Pribadi, MSc., PhD. dan Ir. Didiek Pudyabawaleksana, MT mengawali paparannya, bahwa Indonesia memerlukan sistim transportasi darat kecepatan tinggi, >200 km/jam, untuk dapat menangani volume material (ton.km/tahun) dan penumpang agar dapat menangani pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.

Sementara, paradigma dan Strategi Sistranas Darat, khususnya kereta api, hingga sekarang masih mempertahankan kecepatan maksimum 100km/jam atau rata-rata 60 km/jam. Hal ini dipastikan akan menjadi bottle-neck pertumbuhan ekonomi bila MP3EI dilaksanakan sesuai rencana.

Untuk itu Ir. Krishnahadi dan Ir. Didiek mengusulkan Maglev: Magnetic Levitation, atau pelayangan magnetis. Maglev adalah wahana transport berbasis aplikasi medan magnet.

Wahananya tidak menyentuh rel, tetapi melayang pada suatu jarak di atas rel secara terkendali dan stabil. Maglev Sangat ramah lingkungan; kebutuhan serta biaya pemeliharaannya sangat rendah; dan dapat bergerak sampai dengan 500 km per jam. Kecepatan menengah dan tinggi dapat meningkatkan volume trafik dengan faktor 10x tanpa meningkatkan pemakaian lahan. Dapat diintegrasikan dengansistim kereta-api yang ada atau dengan sistim jalan tol di dalam transportasi multi-moda.

Konsumsi energi sangat rendah, 1/5x dari mobil dan truk;  1/3x kereta api biasa. Biaya pemeliharaan dan pengopersian yang sangat rendah karena tidak ada gesekan roda. Biaya Investasi tak lebih dari pembiayaan kereta-api biasa atau jalan tol.

Diskenariokan, proyek Maglev akan dimulai pada 2013, dikoordinasi oleh BKM-PII. Dirancang dan diproduksi oleh anak-anak bangsa. Biaya investasi antara USD10 juta s/d USD15 juta per kilometer, sama dengan monorail.

Biaya infrastruktur rel juga murah. Dengan sistim Hibrid, Maglev menggunakan teknologi Mesin Torak Bebas (MTB) Generator, bahan bakar gas (LPG atau CNG) dan Hidrogen.

Tiga Pilot Project telah dipiliah:  Yogya – Solo dan Merak – Jakarta, Tol Jakarta-Cikampek, dan Proyek Nasional Trans Jawa-Madura serta Trans Sumatera

Dalam sesi terpisah, Pusat Teknologi Industri dan Sistem Transportasi BPPT memaparkan “Teknologi Alternatif Tongkang Dorong Sebagai Angkutan Batubara Hemat Energi”.  Sebagaimana diketahui, sistem transportasi batubara saat ini: satu tongkang ditarik oleh satu tugboat.

Tongkang Dorong memiliki banyak keuntungan dibanding tongkang tarik. Tongkang Dorong dapat bergerak manuver maupun berhenti dengan tenaga sendiri, dapat mengontrol arah gerakannya sendiri, sedang tongkang tarik kadang dapat bergerak zig-zag, sulit dikontrol.Pada Kapasitas ukuran dan kecepatan yang sama tongkang dorong memerlukan tenaga penggerak yang lebih kecil. Dan tugboat nya dapat beroperasi saat tongkang bongkar muat.

Perbedaan penggunaan bahan bakar 0.4 s/d 2.8 ton/hari. Penghematan Bahan Bakar mencapai 80 – 640 ton atau 1.3 s/d 9.6 milyar Rupiah /tahun. (Dedy/BKM)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: