Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Koswara

noblesse oblige pangkat membawa amanah

Baja untuk Tabung Elpiji 3 Kg

OPINI | 10 August 2010 | 07:47 Dibaca: 687   Komentar: 23   1

Untuk melengkapi tulisan pak JK, pak Taufik Mahlan dan pak Johanes Mawuntu, maka saya mencoba menulis tentang baja untuk tabung gas elpiji.

Seperti diumumkan di media massa, baik elektronik, online maupun cetak, tabung gas elpiji untuk tipe 3 kg menggunakan baja SG295. Kalau kita lihat kode SG maka kita akan langsung faham bahwa SG295 berasal standar JIS (Japanese Industrial Standards). Kelengkapan data dari SG295 bisa dilihat dari JIS Handbook, Ferrous Materials & Metallurgy. Dari JIS Handbook itu bisa dicari standar G3116, yaitu standar baja yang digiling pada temperatur panas (hot rolled steel sheet) digunakan untuk tabung gas LPG atau acetylene yang dilas dengan kapasitas 500 liter atau di bawahnya.

Pada standar G3116 itu sebenarnya ada 4 jenis baja, yaitu SG255, SG295 dan dua lagi di atasnya. Baja untuk SG255 mensyaratkan kekuatan luluh (YS) sebesar 255 N/mm2 (min) dan kekuatan tarik (UTS) 400 N/mm2 (min). Baja ini biasa digunakan untuk tabung elpiji 12 kg. Sedangkan untuk tabung 3 kg digunakan baja SG295 yang mensyaratkan kekuatan luluh (YS) sebesar 295 N/mm2 (min) dan kekuatan tarik (UTS) 420 N/mm2 (min).

Berdasarkan JIS G3116 baik untuk SG255 maupun SG295, komposisi yang dipersyaratkan sangat sederhana, yaitu unsur karbon ( C) 0,2% maks, ditambah dengan persyaratan untuk unsur mangan (Mn), silikon (Si), fosfor (P) dan belerang (S). Melihat dari komposisi seperti itu, sebenarnya baja sembarang pun bisa digunakan, asal kekuatan tariknya mencapai persyaratan. Betulkah segampang itu?

Seperti biasa, JIS selalu memuat persyaratan yang sederhana di komposisi tapi persyaratan yang amat ketat di belakangnya. Misalnya adalah tes lipat 180 derajat, serta beberapa tes lainnya. Berdasarkan beberapa tes tersebut maka hanya baja dengan komposisi serta metoda pembuatannya tertentu saja yang lulus pada JIS G3116.

Satu hal lagi yang membuat baja ini memiliki persyaratan ketat adalah, saat proses pembentukan dari plat menjadi berbentuk setengah bola, baja tersebut tidak boleh mengalami dynamic age hardening. Apakah dynamic age hardening itu? Age hardening adalah meningkatnya kekuatan tarik baja melebihi kekuatan tarik awal setelah jangka waktu tertentu, misalnya setengah tahun atau setahun. Age hardening itu juga tergantung pada temperatur. Makin tinggi temperatur, waktu yang membuat baja mencapai kekuatan tarik baru makin singkat.

Proses pembentukan baja dari berbentuk plat yang datar menjadi setengah bola, walaupun saat proses tersebut tidak diberikan panas, ternyata temperatur plat menjadi panas. Dalam kondisi tertentu, temperaturnya bisa mencapai 200 derajat celcius. Akibat temperatur yang tinggi itu, maka age hardening terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Begitu keluar dari cetakan baja sudah memiliki kekuatan tarik baru yang tinggi. Keadaan ini disebut dengan dynamic age hardening.

Apakah bahaya dari dynamic age hardening itu?

Dynamic age hardening menyebabkan baja mengalami retak membujur. Kalau kita lihat globe atau bola dunia, garis bujur adalah garis dari kutub utara ke kutub selatan melintasi khatulistiwa. Pada tabung elpiji hasil proses pembentukan yang sudah berbentuk setengah bola, retak membujur terlihat mulai dari pinggir setengah tabung (kalau dalam bola dunia kita sebut khatulistiwa) mengarah ke kutub. Retak itu langsung terlihat di cetakan atau ketika si operator proses pembentukan “melemparkan” hasil kerjanya ke tempat penampungan.

Namun, kadang ada juga retak yang sangat halus dan tidak terlihat dan berada di pinggir setengah tabung sehingga dinyatakan lolos tes dan boleh dijadikan tabung elpiji. Tabung elpiji ini akan bermasalah di daerah pengelasannya. Yaitu di khatulistiwa dari tabung elpiji 3 kg. Retak itu bisa muncul kapan saja, artinya, walaupun telah lulus pemilahan, kemungkinan akan timbul saat pemakaian. Pemunculan dipercepat bila saat transportasi tabung elpiji dilempar lempar. Retak inilah yang menyebabkan kebocoran. Di tv pernah ditunjukkan tabung elpiji 3 kg yang mengalami kebocoran di daerah las.

PT Krakatau Steel sebagai satu satunya pembuat baja tabung elpiji di Indonesia telah memiliki cara untuk mengatasi dynamic age hardening ini. Yaitu dengan mengatur komposisi kimia sedemikian rupa serta menambahkan unsur kimia lain yang tidak disebut di dalam JIS G3116 tapi sangat bermanfaat dalam menghilangkan gejala dynamic age hardening itu. Juga ada cara khusus untuk memproses saat baja masih cair, saat penuangannya serta saat proses penggilingan panas (hot rolling).

Oleh karena itu wajar kalau polisi mengejar para pabrikan tabung elpiji illegal. Karena, mungkin saja mereka itu menjadi sub produsen yang karena ingin mendapat keuntungan lebih banyak, menggunakan baja bukan SG295 buatan PT Krakatau Steel tapi baja komersial biasa. Sebagaimana diketahui, harga SG295 lebih mahal dibanding dengan baja komersial yang kalau dilihat hanya dari komposisi kimianya masih masuk persyaratan SG295.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Ibu Negara Kita Kenyes-Kenyes dan Cantik …

Mafruhin | | 20 October 2014 | 08:58

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Tolong … Emosi Saya Dibajak! …

Hendri Bun | | 20 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 5 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 8 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Curahan Hati Indra Sjafrie .. …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Setelah Menjadi Relawan Jokowi, Selanjutnya …

Maulana Zam | 7 jam lalu

Melihat Jokowi dari Papua …

Moh. Habibi | 7 jam lalu

Buku Adalah Dunia, Bukan Jendela …

Nitaninit Kasapink | 7 jam lalu

Pelantikan Presiden yang Mengukir Sejarah …

Mamank Septian | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: