Artikel

Terapan

Jonru Ginting

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Founder & CEO DapurBuku.com (layanan self publishing) | Founder SekolahMenulisOnline.com & PenulisLepas.com | Penulis buku "Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat" dan "Menerbitkan Buku Itu Gampang!" | Trainer kepenulisan di sejumlah kota | Penerima penghargaan Super Blog (juara tahunan) di ajang "Internet Sehat Blog Award 2009" | Blog pribadi: www.jonru.net | Twitter: @jonru

Tahu Sumedang Bisa Meledak?


HL | 18 October 2010 | 10:28 Dibaca: 1063   Komentar: 24   2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik

Berkunjung ke Perusahaan Bahan Peledak? Dduuuarrrr!!! (Bagian III)

www.denmasrul.com

Tahu Sumedang. Sumber foto: www.denmasrul.com

Lho, masa Tahu Sumedang bisa meledak? Bisa kok. Jika Anda penasaran, silahkan baca tulisan ini sampai akhir, ya… :)

Sekadar info, tulisan ini adalah bagian III dari liputan saya tentang kunjuangan ke perusahaan peledak bernama PT Dahana. Setelah kunjungan dua hari ke Subang dan Tasikmalaya, saya pun kembali diundang untuk melakukan company visit ke Kalimantan selama 4 hari.

Awalnya, saya merasa keder juga. Memang, saya pernah datang ke Pontianak dan Banjarmasin untuk mengisi pelatihan penulisan. Tapi ketika itu, kunjungan saya hanya di seputar kota. Suasananya ramai, sama seperti kota-kota pada umumnya.

Tapi kali ini, saya akan diajak ke pedalaman Kalimantan, melewati jalan darat selama belasan jam. Hm… tentu sebuah perjalanan yang penuh tantangan, dan sangat capek tentu saja.

Selama ini, saya membayangkan Kalimantan itu seperti sebuah pulau yang penuh hutan lebat, transportasi darat sangat sulit sehingga penduduknya lebih suka naik pesawat udara atau sampan. Tapi ketika melihat kondisi yang sebenarnya, saya justru merasa sangat bodoh :-D

Jumat 28 September 2010, sekitar jam 9 pagi waktu setempat, rombongan kami - saya, Juli Jajuali (Humas PT Dahana), dan Chamdan Purwoko (Redaktur Pelaksana Harian Bisnis Indonesia) - tiba di Banjarmasin. Dari bandara, kami tidak singgah ke manapun, tapi langsung melanjutkan perjalanan ke Batulicin, mengendarai sebuah mobil Avanza.

Di tengah perjalanan, kami sempat berkunjung sebentar ke gudang bahan peledak milik Dahana yang letaknya masih di kota Banjarmasin.

Gudang PT Dahana di Banjarmasin

Gudang PT Dahana di Banjarmasin

Di Batulicin ini terdapat sebuah site plant milik PT Dahana. Ini adalah pabrik yang khusus dibangun untuk keperluan proyek penambangan batubara di daerah tersebut. Ceritanya nih, pertambangan ini milik PT Arutmin (Bakrie Group). Lalu untuk pengerjaannya, mereka percayakan kepada sebuah kontraktor bernama Cipta Kridatama (CK). Lantas, untuk keperluan peledakan, CK menggandeng PT Dahana sebagai mitra.

Perjalanan Banjarmasin-Batulicin memakan waktu sekitar 7 jam. Inilah pengalaman pertama yang membuat saya merasa bodoh tadi. Kenapa? Karena jalan rayanya sangat bagus. Mirip jalan raya Lintas Sumatera, bahkan lebih bagus lagi. Perbedaannya mungkin pada suasana jalanan yang sangat sepi. Hanya satu dua kendaraan yanag lewat. Bahkan angkutan umum pun sangat jarang. Menurut cerita Pak Sopir, di Kalimantan memang jarang terdapat angkutan umum (darat). Kalaupun ada, hanya beroperasi pada jam-jam tertentu.

Mobil kami tiba di Batulicin sekitar jam 4 sore. Di sini kami menginap selama semalam. Nama hotelnya Ebony. Sangat bagus. Di dinding lobby, ada testomini dari Presiden SBY, Muhaimin Iskandar, dan beberapa tokoh lainnya. Keren deh!

Lantas besok paginya, sekitar jam 7 kami sudah berangkat ke lokasi pertambangan. Nah, inilah tantangan yang sebenarnya! Sebab rute yang kami lewati adalah jalan berbatu-batu, banyak lubangnya, melewati perkampungan demi perkampungan yang sangat sepi, dikelilingi hutan-hutan lebat.

Desa yang terletak di dekat lokasi pertambangan

Desa yang terletak di dekat lokasi pertambangan

Mess PT Dahana di dekat lokasi pertambangan Batulicin

Mess PT Dahana di dekat lokasi pertambangan Batulicin

Sekitar jam 10 pagi, mobil kami tiba di lokasi pertambangan. Di sini, sinyal handphone sama sekali tidak ada. Suasana sangat sepi. Pemandangan di sekitar hanya hutan lebat, truk, mobil, para pekerja, dan beberapa peralatan pertambangan lainnya.

Gudang bahan peledak milik PT Dahana di pertambahan batubara Batulicin.

Gudang bahan peledak milik PT Dahana di pertambangan batubara Batulicin.

Gudang bahan peledak milik PT Dahana di pertambangan batubara Batulicin.

Pabrik bahan peledak milik PT Dahana di pertambangan batubara Batulicin.

Tujuan utama kami ke lokasi pertambangan ini adalah melihat langsung proses peledakan. Awalnya, saya berharap akan melihat sebuah ledakan dengan kobaran api yanga menyala-nyala di atas permukaan tanah. Tapi ternyata saya keliru. Setelah menunggu sekitar 2 jam, saya baru sadar bahwa bahan peledaknya ditaruh di bawah tanah. Lantas ketika meledak, yang terlihat di permukaan tanah hanya kepulan asap tebal.

Benda kecil yang diwadahi plastik warna merah ini adalah detonator yang bisa memicu pedakan tersebut.

Benda kecil yang diwadahi plastik warna merah ini adalah detonator yang bisa memicu pedakan tersebut.

Apa tujuan peledakan ini? Tak lain dan tak bukan adalah untuk menggemburkan tanah, sehingga memudahkan para pekerja dalam melakukan penambangan batubara.

tanah yang di bawah mereka inilah yang akan diledakkan.

tanah yang di bawah mereka inilah yang akan diledakkan.

Sekadar info, proses peledakan di lokasi pertambangan ini dilakukan SETIAP HARI. Sebelum peledakan, area di sekitarnya harus disterilkan dari manusia dan alat-alat lainnya. Manusia harus menjauh paling dekat 500 meter, sedangkan untuk alat adalah 300 meter.

Inilah tanah yang sudah gembur karena baru saja diledakkan.

Inilah tanah yang sudah gembur karena baru saja diledakkan.

berpose sambil menunggu proses peledakan

berpose sambil menunggu proses peledakan

Sekitar jam 4 sore, kami bergegas dari Batulicin, dan langsung kembali ke Banjarmasin. Tiba di kota ini sekitar jam 1 dinihari, kami langsung tertidur pulas.

Alhamdulillah, esoknya kami ada waktu luang hingga siang hari. Saya memanfatkannya untuk reuni dengan teman-teman dari Forum Psikologi. Mereka inilah yang menjadi panitia dan peserta pelatihan penulisan saya di akhir Juli 2010 lalu.

Reuni dengan teman-teman Forum Psikologi di Banjarmasin

Reuni dengan teman-teman Forum Psikologi di Banjarmasin

Sekitar jam 13.30 WITA, pesawat yang kami tumpangi meninggalkan Banjarmasin, menuju Balikpapan. Di Balikpapan, lagi-lagi kami hanya numpang lewat saja. Sebuah mobil sudah menjemput, untuk melanjutkan perjalanan ke Bontang.

Dari Balikpapan, rombongan kami bertambah satu orang lagi, yakni Mbak Rina dari PT Dahana. Dia berangkat sendirian dari Jakarta di hari tersebut.

Perjalanan Balikpapan-Bontang inilah yang menjadi tantangan kedua yang sangat seru. Jalan rayanya sangat berliku-liku, banyak tikungan tajam, juga lekukan naik turun seperti permukaan wajan. Di sekeliling terhampar hutan lebat atau lembah yang sangat dalam. Hm… can you imagine this?

Intinya: Selama perjalanan itu, tubuh saya tak bisa stabil. Selalu oleng ke kiri atau kanan. Akibatnya, sulit untuk beristirahat.

Berita baiknya, ada satu bonus surprise yang benar-benar di luar dugaan saya: Ternyata perjalanan kami melewati kota Samarinda. Wah, betapa senangnya! Sebab sebelumnya saya mengira bahwa kami tak akan melewati satu kota besar pun.

Di Samarinda, kami singgah sebentar untuk berfoto-foto di tepi sungai Mahakam dan Masjid Islamic Center.

Di Sungai Mahakam, Samarinda

Di Sungai Mahakam, Samarinda

Masjid Islamic Center, Banjarmasin

Masjid Islamic Center, Banjarmasin

Oh ya, jalan raya Balikpapan-Bontang ini cukup ramai, jauh lebih ramai daripada jalan raya Banjarmasin-Batulicin. Di Samarinda, saya juga kaget ketika tahu, bahwa ternyata kota ini cukup padat. Jalanan sempat macet di beberapa ruasnya.

Sekitar jam 9 malam, mobil kami tiba di hotel Bintang Sintuk, Bontang. Di hotal inilah, secara tak terduga saya bertemu dengan para pemain sepakbola Arema Malang!

Esok harinya, kami langsung berangkat ke pabrik Dabex milik PT Dahana - joint dengan PT Black Bear Indonesia - yang terletak di tengah kota Bontang. Pabrik ini masih dalam tahap pembangunan, berlokasi di tepi pantaia, bersebelahan dengan pabrik PT Pupuk Kaltim. Yang memisahkan keduanya adalah sebuah selat kecil yang sekilas seperti sungai.

Pabrik PT Dahana di Bontang yang sedang dibangun

Pabrik PT Dahana di Bontang yang sedang dibangun

Berpose di Pabrik PT Dahana, Bontang. Di latar belakang adalah pabrik pupuk PT Kaltim yang terkenal itu.

Berpose di Pabrik PT Dahana, Bontang. Di latar belakang adalah pabrik PT Pupuk Kaltim yang terkenal itu.

Lokasi kedua pabrik yang bersebelahan ini tentu terasa unik. Sebab bahan baku utama pabrik pupuk dan pabrik bahan peledak sebenarnya sama, yakni AMONIUM NITRAT. Jadi coba bayangkan saja, kedua pabrik mengolah bahan yang sama. Tapi yang satu untuk pupuk tanaman, satunya lagi untuk bahan peledak!

* * *

Siang hari di Jumat yang terik itu, acara company visit pun selesai. Mobil yang kami tumpangi kembali ke Balikpapan, kembali melewati jalan yang berliku-liku, berlekuk-lekuk, dan dikelilingi oleh hutan lebat dan lembah yang sangat dalam. Menjelang jam 19.00 WITA, pesawat Garuda yang kami tumpangi pun terbang, kembali ke Jakarta.

Empat hari di Kalimantan, membuat saya rindu luar biasa pada keluarga dan Jakarta!

“Lho… sudah selesai tho?
Maka cerita tentang Tahu Sumedang yang bisa meledak itu?”

Hehehe… maaf beribu maaf. Memang sengaja saya taruh di bagian akhir :)

Begini:
Sepanjang perjalanan Banjarmasin-Batulicin, juga Balikpapan-Samarinda-Bontang, saya banyak sekali melihat warung dan restoran Tahu Sumedang. Restorannya ini termasuk kategori mewah, karena lapangan parkirnya luas, tempatnya bagus, dan harga makanannya mahal-mahal.

www.denmasrul.com

Restoran mewah Tahu Sumedang di Kalimantan. Sumber foto: www.denmasrul.com

www.panoramio.com

Restoran mewah Tahu Sumedang di Kalimantan. Sumber foto: www.panoramio.com

Ternyata orang Kalimantan sangat menyukai Tahu Sumedang. Dan restoran-restoran mewah tersebut menjadi bukti nyata.

Di Jawa, termasuk di Sumedang sendiri, rasanya tak mungkin kita menemukan restoran khusus Tahu Sumedang yang semewah itu. Tapi ternyata, Tahu Sumedang mendapat tempat yang jauh lebih terhormat di Kalimantan ketimbang di daerah asalnya sendiri.

Salah satu liputan tentang Tahu Sumedang di Kalimantan bisa dibaca di sini.

“Lho, begitu saja? Lantas di mana ledakannya?”

Ledakannya adalah dalam hal banyaknya restoran Tahu Sumedang di Kalimatan tersebut. Dengan kata lain, Tahu Sumedang meledak di Kalimantan, dan ledakannya berupa menjamurnya restoran Tahu Sumedang di sana.

Nyambungnya maksa ya? Biarin deh, yang penting judul tulisannya menarik. Hehehe…. :-D

Thanks

Jonru

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: