Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Ririn Widyastuti

Mahasiswi Fakultas teknologi jurusan Teknik Industri angkatan 16 di Universitas Mercu Buana. Bekerja sebagai Analis Kimia selengkapnya

Lebih Aman dengan Kipas Angin tanpa Baling-Baling

REP | 11 April 2011 | 15:04 Dibaca: 6329   Komentar: 4   1

Teriknya matahari membuat suhu di permukaan bumi meningkat. Panas yang terasa membuat kita tidak nyaman. Hampir di setiap rumah memiliki alat pedingin atau penyejuk ruangan baik itu AC maupun kipas angin.

AC alias Air Conditioner alias Pengkondision Udara merupakan seperangkat alat yang mampu mengkondisikan ruangan yang kita inginkan, terutama mengkondisikan ruangan menjadi lebih rendah suhunya dibanding suhu lingkungan sekitarnya. Seperangkat alat tersebut diantaranya kompresor, kondensor, orifice tube, evaporator, katup ekspansi, dan evaporator.

Kunci utama dari AC adalah refrigerant, yang umumnya adalah fluorocarbon (senyawa organik yang mengandung 1 atau lebih atom Fluorine), yang mengalir dalam sistem, menjadi cairan dan melepaskan panas saat dipompa (diberi tekanan), dan menjadi gas dan menyerap panas ketika tekanan dikurangi. Mekanisme berubahnya refrigerant menjadi cairan lalu gas dengan memberi atau mengurangi tekanan terbagi mejadi dua area: sebuah penyaring udara, kipas, dan cooling coil (kumparan pendingin) yang ada pada sisi ruangan dan sebuah kompresor (pompa), condenser coil (kumparan penukar panas), dan kipas pada jendela luar.

Udara panas dari ruangan melewati filter, menuju ke cooling coil yang berisi cairan refrigerant yang dingin, sehingga udara menjadi dingin, lalu melalui teralis/kisi-kisi kembali ke dalam ruangan. Pada kompresor, gas refrigerant dari cooling coil lalu dipanaskan dengan cara pengompresan. Pada condenser coil, refrigerant melepaskan panas dan menjadi cairan, yang tersirkulasi kembali ke cooling coil. Sebuah thermostat digunakan untuk mengontrol motor kompresor sehingga dapat digunakan untuk mengatur suhu ruangan, Thermostat pada AC beroperasi dengan menggunakan
lempeng bimetal yang peka terhadap perubahan suhu ruangan. Lempeng ini terbuat dari 2 metal yang memiliki koefisien pemuaian yang berbeda. Ketika temperatur naik, metal terluar memuai lebih dahulu, sehingga lempeng membengkok dan akhirnya menyentuh sirkuit listrik yang menyebabkan motor AC aktif/jalan.

Pada dasarnya, penggunaan AC tidak lebih diminati daripada penggunaan kipas angin. Selain harganya yang relative lebih mahal, penggunaan daya listrik yang lebih besar dan juga kurang ramah lingkungan. Refrigerant, yang merupakan kunci utama dari AC terdiri dari fluorocarbon. Kelompok Freon dari fluorocarbon terdiri dari Freon-11 (CCl3F) yang digunakan sebagai bahan aerosol, dan Freon-12 (CCl2F2), umumnya digunakan sebagai bahan refrigerant. Saat ini, freon dianggap sebagai salah satu penyebab lapisan Ozon Bumi menjadi berlubang dan menyebabkan sinar UV masuk. Walaupun, hal tersebut belum terbukti sepenuhnya, produksi fluorocarbon mulai dikurangi.

Kipas angin lebih banyak digunakan di rumah tangga pada saat ini. Harganya relative lebih murah dibandingkan dengan AC ( Air Conditioner ). Hampir dua abad konsep mengenai kipas angin konvensional belum pernah berubah, kipas angin pertama kali dibuat di timur tengah pada awal abad 19. Kipas angin pertama kali berbentuk kipas angin atap yang mulai dikenal masyarakat pada tahun 1860 an. Cara kerjanya digerakkan oleh putaran air yang menggerakkan semacam sabuk yang dihubungkan secara manual dan memiliki kemampuan untuk menggerakkan beberapa kipas angin sekaligus. Kemudian masuklah kipas angin elektrik ke pasar tahun 1880 an.

Dalam kipas angin terdapat suatu motor listrik, motor listrik tersebut mengubah energi listrik menjadi energi gerak. Dalam sebuah motor listrik terdapat suatu kumparan besi pada bagian yang bergerak beserta sepasang pipih berbentuk magnet U pada bagian yang diam (Permanen). Ketika listrik mengalir pada lilitan kawat dalam kumparan besi, hal ini membuat kumparan besi menjadi sebuah magnet. Karena sifat magnet yang saling tolak menolakpada kedua kutubnya maka gaya tolak menolak magnet antara kumparan besi dan sepasang magnet tersebut membuat gaya berputar secara periodik pada kumparan besi tersebut. Oleh karena itu baling - baling kipas angin dikaitkan ke poros kumparan tersebut. Penambahan tegangan listrik pada kumparan besi dan menjadi gaya kemagnetan ditujukan untuk memperbesar hembusan angin pada kipas angin.

Dari segi keamanan, kebersihan dan kenyamanan, penggunaan kipas angin semacam ini memang diirasakan kurang. Contohnya dari segi keamanan, kipas ini memiliki baling – baling yang berputar guna menghasilkan aliran udara atau angin dan kawat pelindung namun jaraknya antar kawatnya masih memungkinkan untuk dijamah oleh jari – jari anak yang masih kecil. Jika penggunaan kipas angin dengan baling – baling ini bagi mereka yang memiliki anak kecil tentunya dapat membahayakan keselamatan si kecil.

Kipas angin dengan baling – baling yang sudah lama tidak dibersihkan akan berdebu dan jika ingin membersihkan debu – debu yang melekat pada baling – baling tersebut kita harus membuka terlebih dahulu kawat pelindungnya. Hal ini tentu tidak efisien waktu. Jika baling – baling tersebut dibiarkan kotor dan tidak dibersihkan dapat menggangu kesehatan pernafasan kita karena aliran udara yang dihasilkan dari kipas, akan bercampur dengan debu – debu yang kotor dan tidak higienis.

Dari segi kenyamanan, adanya baling – baling yang berputar untuk menghasilkan aliran udara atau angin menimbulkan suara yang meskipun tidak terlalu bising. Pada kipas angin yang sudah berumur memungkinkan terjadinya masalah pada motor listrik sehingga suara yang dihasilkan lebih bising dari keadaan normalnya.

Dilihat dari segi keamanan, teknologi kipas angin tanpa baling – baling dirasakan akan lebih aman dibandingkan dengan kipas angin dengan baling – baling. Mungkin aneh bagi orang yang pertama kali mendengar ada kipas angin tanpa baling – baling. Namun seorang penemu bernama James Dyson, yang sebelumnya telah menemukan vacuum cleaner berhasil menciptakan kipas angin tanpa baling – baling.

Menurut James Dyson, kipas angin tradisional telah di klaim kurang sempurna dalam menghasilkan angin. Udara yang ditangkap dan dihembuskan kurang dapat mengasilkan angin yang maksimal. Jauh dibandingkan teknologi kipas angin tanpa kipas hasil temuannya.
Kipas angin ini mendorong 119 galon udara perdetik. Tidak seperti kipas angin biasa yang mengandalkan baling-baling yang berputar untuk “menangkap” udara dan menghembuskannya ke depan, teknologi kipas angin tanpa baling-baling ini menggunakan prinsip aliran udara model seperti sayap pesawat terbang.

James Dyson dengan teknologi kipas angin multiplier udara temuannya, menggunakan besi pipih melingkar yang disebut “blade”dengan konsep tekanan udara yang melingkar disisi besi pipih tersebut digabungkan dengan konsep teknologi sudut lekukan sayap pesawat terbang untuk membuat aliran udara yang cepat tapi lembut.

Udara ditarik masuk ke dalam dasar silinder mesin oleh sebuah motor kecil, kemudian alat pendorong motor itu mendorong udara ke dalam lubang yang berongga dan kemudian lewat sebuah celah, menyapu seluruh bagian lubang. Udara kemudian dipercepat alirannya melalui sebuah lingkaran besar, yang disebut loop amplifier.

Ada beberapa keuntungan-keuntungan di dalam menggunakan teknologi ‘Air Multiplier’:

- Karena tidak ada bagian yang berputar kencang (yang dapat berbahaya jika disentuh), maka tidak perlu ada kawat pelindung.

- Tidak perlu sering-sering dibersihkan karena tidak ada baling-balingnya

- Pengatur kekencangan bisa menggunakan dimmer (seperti saklar putar pengatur terang/redupnya lampu)

SUMBER :

http://erabaru.net/iptek/55-iptek/6077-cara-kerja-kipas-angin-tanpa-baling-baling-dyson

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/10/13/brk,20091013-202446,id.html

http://sci-series.blogspot.com/2009/11/kipas-angin-tanpa-baling-baling.html

http://majalah0wildan.wordpress.com/2010/12/15/kipas-angin-tanpa-baling-baling/

http://daurijo.blogspot.com/2010/06/teknologi-baru-kipas-angin-tanpa-kipas.html

http://cvastro.com/cara-kerja-sistem-ac-ruangan.htm

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 1 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya ,serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: