Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Sucahya Tjoa

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis.

Apakah Suria Dapat Menahan Serangan NATO

REP | 25 January 2012 | 10:46 Dibaca: 6264   Komentar: 0   0

Ketegangan dalam negeri  Suria kelihatannya makin hari makin memanas, campur tangan pihak-pihak asing terutama negara Barat  sudah tak terlelakkan lagi. Jika hingga terjadi perang antara Suria dan NATO serta sekutunya, bisa ditebak akan dimulai dengan serangan rudal dan serangan udara, seperti yang terjadi belakangan ini terhadap Afganistan, Irak, Libya.

Tapi perlu juga diamati bahwa Suria memiliki sistim pertahanan udara yang lebih baik dari Libya, bahkan kemampuan pertahanan udara dapat dikatakan terkuat di zasirah Arab, demikian pula dengan kekuatan militernya.

Suria memiliki 900 unit rudal sistim pertahanan udara, 4000 unit artileri anti-pesawat kaliber 23-100 mm, 400 pesawat tempur, yang akan menjadi benteng pertahanan dalam menangkal serangan udara musuh.

Walaupun secara kuantitas rudal anti-pesawat Suria bisa mencengankan, tapi sistim persenjataannya 70% dianggap telah ketinggalan zaman, namun  bagaimanapun ada sedikitnya 200 unit yang tidak dapat diremehkan, misalnya rudal “cube”, “Wasp”, S-125, S-75 tidak dapat dikatakan senjata tua. Ada lagi “Beech-M1”, “Beech-M2” rudal anti-pesawat yang bisa menjadi effek gentar bagi lawan. “Beech-M2” telah terbukti saat terjadi konflik Russia dan Georgia pada 2008 telah menunjukkan kehandalannya. Pada 2007 Russia telah menjual “Beech-M2”ini kepada Suria, sehingga kekuatan pertahanan udara Suria makin bertambah handal.

Beech M-1

Beech M-1

Beech M-2

Beech M-2

Selain itu, Suria juga memiliki sistim rudal  S-200 “Angara” yang jarak tembaknya cukup jauh, dan “Vega” Radio-elektronik pengitai (Radio –electronic reconnaissance systems). Yang menurut ahli militer NATO tidak dapat ditembus mereka. S-200 ini telah terbukti kehebatannya ketika terjadi pengeboman night club Yin Bolin pada 1986. Ketika USSR pecah, Suria berhasil mendapatkan dari Belarus 48 unit S-300, dan 50 unit “Armor S1” sistim rudal permukaan ke udara.

S-300

S-300

Armor S-1

Armor S-1

AU Suria memiliki 60 jet tempur MIG-29, 30 jet tempur MIG-35 (interceptor), dan sejumlah pesawat tempur al-Assad, serta berusaha memperkuat pertahanan udaranya dengan membeli MIG-31 dari Russia.

MIG-25

MIG-25

MIG-29

MIG-29

Menurut Janes Sentinel Security assessment, Suria memiliki divisi rudal yang paling kuat di Timur Tengah.

Namun walaupun Suria memiliki pertahanan yang kuat, tapi jika terjadi serangan dari NATO mereka tidak bisa duduk dengan tenang. Kelemahan Suria terletak pada sistim radarnya yang telah ketinggalan zaman, bisa untuk “dibutakan dan dibikin tuli”.

Dan Rezim Suria terus berusaha berinvestasi dan mengembangkan  kemampuan rudalnya dan bom kimia. Suria masih menggantungkan beberapa komponen penting dari luar untuk senjata kimianya., namun tidak bisa diremehkan.

Laporan CIA yang tidak dirahasiakan melaporkan kepada Kongres AS pada September 2009, mengatakan bahwa Suria berusaha mengembangkan bom nuklir direaktor Kibar. (Unclassified Report to Congress on the Acquisition of Technology Relating to Weapons of Mass Destruction and Advanced Conventional Munitions ). Dalam laporan ini juga dikatakan bahwa Suria sedang mengembangkan rudal balistik dengan kemampuan jarak tembak yang lebih jauh seperti “Scud D” dan kemungkinan lainnya. Suria juga mempunyai stok senjata kimia yang bisa diluncurkan dengan pesawat terbang dan rudal balistik..

Setelah jatuhnya rezim Saddam Hussein di Irak, kini Suria menjadi negara terkuat sista-nya diantara negara-negara Arab. Untuk menangkal serangan Israel, mereka telah mengembangkan dan memproduksi secara massal rudal jarak jauh. Diantaranya rudal versi Iran Fateh A-110 (M-600) kaliber 600 mm, yang diperkirakan panjang 8.86 m, diameter 0,61m, berat 3.450 kg, dapat membawa  muatan 500 kg , dengan panduan inertial GPS yang dapat selalu update, bahan bakar padat pendorong tunggal, jarak tembak max. 250 km, dengan akurasi 100 m CEP ; dan rudal pengembangan lebih lanjut Fateh-3A-110B yang dipercaya telah diproduksi ribuan, rudal-rudal ini dapat dimuati hulu ledak kimia, yang jangkauannya dapat mencapai sasaran-sasaran strategis Israel.

Suria juga telah membeli 36 s/d 50 Pantsir S-1 (SA-22) kombinasi rudal dan bom yang dapat dimuat di kendaraan dengan peluncur berlaras 12 rudal, yang setiap rudal berat 65 kg dengan hulu ledak 16 kg. Juga telah  mengembangkan rudal anti-pesawat SA-3 dan SA-6 ; juga S-300, S-11, SA-17 rudal jarak menengah.

Jika NATO menyerang Suria pasti akan minta bantuan AS, terutama dengan samartbom dan rudal untuk menghancurkan airport, stasiun pembangkit, pusat komunikasi, radar, gudang-udang, kantor-koantor komando, dan semua pusat-pusat strategis lainnya.

Walaupun Beech, S-200, S-300 cukup handal, tapi mobilitasnya lemah, untuk memindahkan unit ini tidak mudah dan memakan waktu, sehingga mudah menjadi target lawan.

Tapi topografi Suria yang berbukit-bukit bisa menguntungkan, sehingga pertahanan udaranya lebih sulit untuk dihancurkan, tidak seperti Lybia yng topografinya relatif datar. Jadi NATO dan Barat harus mengeluarkan biaya dan tenaga yang jauh lebih besar, lagi pula militer Suria juga sangat terlatih dengan baik. Pokoknya jika terjadi perang antara Suria dan NATO akan menjadi perang yang alot.

Sumber :

http://articles.janes.com/articles/Janes-Sentinel-Security-Assessment-Eastern-Mediterranean/Strategic-Weapon-System-Syria.html

http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-3436827,00.html

http://military.people.com.cn/GB/16876293.html

http://www.youtube.com/watch?v=dT2PO3q1uBM

http://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/150059#.Tx_XO29zWUM

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 11 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 15 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 16 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: