Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Sucahya Tjoa

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis.

Tiga Jurus AS Untuk Melawan Rudal Pembunuh Kapal Induk DF-21D RRT

REP | 26 March 2012 | 16:19 Dibaca: 3606   Komentar: 1   0

Selama ini bagi AL-AS yang telah terbiasa  “berlayar dengan bebas” di lautan dunia, akhir-akir ini menjadi was-was dengan adanya Rudal Anti  Kapal. Rudal ini oleh AL-AS dinamai Rudal Pembunuh Kapal Induk, yaitu Rudal buatan Tiongkok DF-21D.

Ilustrasi serangan rudal pembunuh kapal induk DF-21D

Ilustrasi serangan rudal pembunuh kapal induk DF-21D

Dengan lahirnya rudal ini, Admiral Jonathan W. Greenert, Kepala Staf Operasi Angkatan Laut AS harus berpikir untuk menahan diri dan menyusun konsep baru untuk mengatasi tantangan ini, bahkan secara mendesak harus mencari jurus baru untuk mengatasi ancaman tersebut. Sehubungan dengan ini pada tanggal 16 Maret yang lalu Greenert mengungkapkan kepada wartawan AS ‘Tiga Jurus’ untuk melawan rudal pebunuh kapal tersebut.

Berita yang disiarkan melalui website “Connection”  Magazine, Greenert mengungkapkan kepada para wartawan saat acara sarapan pagi, bahwa AL-AS memiliki kemampuan untuk melemahkan dan mementahkan serangan Rudal DF-21D. Rudal ini berbeda dari rudal-rudal anti kapal sea-skimming yang ada selama ini, rudal ini merupakan rudal balistik anti-kapal dengan memanfaatkan trakyektori parabolistik bola bumi, dengan kecepatan sangat tinggi menghujam secara vertikal pada sasaran. Sistim pertahanan  serangan udara sekarang yang ada sangat sulit untuk menangkalan serangan rudal macam ini, kapal induk jika diserang dengan rudal tersebut hanya akan menjadi onggokan besi dan lautan api bagi awak kapal yang berada didalamnya. Walaupun AS tetap meremehkan rudal tersebut, tapi secara pribadi Greenert berusaha untuk menahan diri. Dia mengungkapkan tiga jurus untuk menangkal serang rudal tersebut dengan jurus : ‘Menggangu, Menipu, dan Menembak jatuh’ rudal tersebut.

Jurus pertama, dengan mengganggu sistim panduan rudal. Greenert laporkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini telah berupaya banyak untuk berinvestasi dalam mengembangkan sistim perang elektronik berupa jamming, salah satu prestasi yang paling menonjol adalah dalam pesawat tempur EA-18G Glowler ( Airborne Electronic Attack/AEA) , pesawat ini merupakan derivasi/pengembangan dari pesawat tempur Hornet F/A-18F. Dalam operasi menggulingkan Qadhafi di Lybia pesawat ini mencatat keberhasilan dalam mengahancurkan pertahanan Lybia menjadi besi tua.

EA-18G Pesawat Airborne Electronic Attack

EA-18G Pesawat Airborne Electronic Attack

Pesawat EA-18G yang dilengkapi  ALQ-218 penerima gelombang lebar ( wideband ) dan dikobinasi dengan ALQ-99 Tactical Jamming System yang berkemampuan secara effektif menangkal ancaman rudal yang dipandu dengan gelombang radar dari segala rudal permukaan ke udara. Serangan udara elektronik yang presisi merupakan teknologi EA-18G yang selektif-reaktif memungkinkan pesawat ini dapat mendeteksi dengan cepat ancaman yang lebih berpresisi, lebih cepat dari perlengkapi sebelumnya. Sehingga memungkinkan untuk mengkonsentrasikan energi yang maksimal untuk menangkal ancaman tersebut. Untuk menanggulangi lanjutan komunikasi, pesawat ini juga dilengkapi dengan Advance Communication Countermeasure ALQ-227, alat  yang bisa tetap melacak dan mengikuti sistim gelombangan yang diacak dan berubah-ubah spektrumnya. Selain itu juga dilengkapi dengan INCANS/Interference Cancellation System ( Intefrensi Pembatalan Sistem ) yang secara dramatis dapat meningkatkan kesadaran situasional pilot/awak pesawat tetap berkomunikasi tanpa gangguan selama melakukan operasi jamming.

Menurut  analisa Pentagon bahwa Rudal DF-21F untuk menemukan sasaran kapal induk yang terus bergerak dilautan luas, memerlukan pelacakan dengan satelit dari luar angkasa, radar darat dengan jangkauan jauh, dan peralatan pelacakan lainnya dalam menemukan sasaran. Dalam kaitan ini EA-18G dapat mengandalkan peralatan elektrokniknya untuk mengacaukan signal-signal elektronik penuntun rudal dan dari rudal itu sendiri, dan menghancurkan radar, posko serta stasiun pengedali rudal agar rudal menjadi ‘buta’.

Jurus lain dengan mengadakan peperangan cyber, dengan mengirim virus komputer pada jaringan komputer Tiongkok, sehinga program komputer kacau dan bahkan tidak berfungsi. Pada 2007 Israel pernah melakukan serangan semacam ini kepada fasilitas nuklir Syria dan berhasil. Selain itu sebagai tambahan kapal induk AS pada saat terjadi serangan rudal, dapat mematikan semua pemancar dalam kapal, agar rudal Tiongkok tidak dapat melacak signal-signal elektronik untuk menentukan posisi kapal induk sasarannya.

Selain mengelabuhi dan menggangu perangkat elektronik, jurus ketiga Greenert adalah menembak jatuh rudal yang sedang dalam perjalanan penyerangan, menghujani dengan peluru rudal yang datang, penembakan dapat dilakukan tidak saja dari atas kapal induk, juga dari kapal-kapal perang sekelilingnya dalam formasi. Untuk tujuan ini AS sedang mengembangkan senjata yang dapat menembak lebih cepat untuk dipasang pada semua kapal perangnya.

Selain itu juga sedang mengembangkan untuk memasang rudal anti-rudal “Patriot 3” diatas kapal. Dan mengembangkan senjata Lasser yang dapat menembak jatuh rudal. Greenert yakin mereka dapat menangkal serangan rudal Tiongkok DF-21D ini saat baru terbang atau saat dipertengahan penerbangannya dan saat sebelum mengenai sasarannya.

( http://www.youtube.com/watch?v=IXLKZDVcBt8 Video Ilustrasi mata rantai Rudal Pembunuh Kapal Induk DF-21D )

Pesawat tempur tercanggih masa kini Lockheed Martin F-22A Raptor

Pesawat tempur tercanggih masa kini Lockheed Martin F-22A Raptor

Disamping itu AU-AS dapat menggunakan F-22, Stealth untuk menyelusup ke daratan Tiongkok untuk menghancurkan posko-posko pengendali rudal tersebut. AS sedang mengembangkan perpaduan operasi AL dan AU dalam menangkal serangan rudal pembunuh kapal induk.

Namun banyak juga pakar militer dunia yang berpendapat bahwa untuk melawan rudal pembunuh kapal induk masih akan menghadapi banyak kendala dan kesulitan saat ini. Hal ini karena faktor waktu, dimana masing-masing pihak saling mengembangkan keampuhannya. Rudal DF-21D belum pernah dicoba dalam medan perang yang sebenarnya, masih memerlukan waktu untuk pengembangannya. Demikian juga AS selama ini sedang mengembangkan kemampuan penangkalan terhadap rudal tersebut, sehingga pada saat rudal tersebut sudah mencapai titik optimum pengembangannya, AS mungkin juga sudah mendapatkan penangkalnya.

Tapi ada juga pakar militer yang berpendapat bahwa kegaduhan tentang hal tersebut diatas sengaja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu di AS, agar dapat memperoleh anggaran militer yang lebih besar dari pemerintahnya pada saat kini, dimana anggaran militer telah coba diperkecil akibat krisis yang terjadi dalam negerinya.

Sumber :

Global Time

Website “Connection” magazine,  16 March 2012

http://www.boeing.com/defense-space/military/ea18g/index.html

http://military.people.com.cn

http://www.peopleforum.cn/redirect.php?tid=28827&goto=newpost

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 1 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 7 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 9 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Jokowi dalam Ancaman Gejolak Dua Daerah …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Pelantikan Jokowi, Antara Prabowo, Narsis …

Rahab Ganendra 2 | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: