Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Andhika Heru

Seorang yang sejak kecil bercita-cita menjadi wartawan, dan sering memenangkan penghargaan dalam Lomba serta Festival selengkapnya

Habibie ingin “terbangkan” lagi N250 dan N2130

REP | 21 August 2012 | 15:49 Dibaca: 15334   Komentar: 20   7

1345520825398018484

N-250, pesawat komuter buatan PT IPTN (foto: dokumen PT IPTN)

Hanya seminggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke -67, tepatnya pada hari Sabtu 11 Agustus 2012 lalu, dilakukan penandatanganan “proyek re-born” pembangunan kembali hingga menerbangkan pesawat komuter pertama buatan bangsa Asia Tenggara yaitu pesawat komuter propeler (baling-baling) N-250 yang diberi nickname Gatot Kaca, akan dihidupkan lagi, oleh sang bidan, si pencetus ide-ide “gila” dirgantara Indonesia, Profesor Baharuddin Jusuf Habibie, mantan Menristek RI di tahun 1980-an dan Presiden RI ke-3.

Saya katakan, pak Habibie adalah “jenius gila” kedirgantaraan Indonesia, bukanlah dengan maksud menghina beliau, apalagi dengan tingkat kecerdasan yang diakui bangsa Jerman, bahwa Habibie adalah penasihat utama industri penerbangan Jerman, termasuk tokoh di balik pembangunan pesawat jet tempur Jerman, Tornado.

Namun saya justru menaruh hormat setinggi-tinggi nya pada beliau yang tak kenal menyerah, ingin menjadika bangsa Indonesia sebagai pionir industri dirgantara Asia Tenggara, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di dunia bahkan Asia. Mengingat untuk industri otomotif, harus diakui Indonesia sudah kalah jauh dari Malaysia dengan mobil Proton dan Perodua nya yang telah mendunia.

Beliau sempat membisiki Presiden Soeharto, bahwa untuk mengejar ketertinggalan dari Malaysia, jangan ikut-ikutan membuat mobil, namun bangunlah industri dirgantara. Tanpa disadari banyak orang, Indonesia sebelum Habibie sebenarnya telah pernah punya seorang pembuat pesawat terbang jenius, yaitu pak Nurtanio, yang namanya sempat diabadikan sebagai nama pabrik pesawat terbang pertama di Indonesia.

Jika pak Habibie harus sekolah di Jerman dahulu baru mampu membuat pesawat terbang, maka mendiang Nurtanio mempelajarinya secara otodidak. Persis seperti sinyo Belanda kelahiran Blitar, Jawa Timur, Anthony Fokker, yang bahkan di era 1960 hingga 80-an sempat mendirikan industri pesawat terbang komersial terbaik ketiga dunia setelah Boeing dan Mc Donell Douglas, yaitu Fokker.

Bahkan Fokker adalah perusahaan dirgantara terbaik Eropa sebelum negara-negara pesaing Belanda, seperti Inggris, Jerman, Prancis dan Spanyol bersatu membuat Airbus Industrie.

Bermodalkan hal itulah, Habibie meyakinkan para pemimpin Indonesia, terus menerus sejak jaman Presiden Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono sekarang, bahwa mendirikan industri dirgantara yang padat karya menggunakan sebagian besar, bila perlu 100% tenaga ahli Indonesia, adalah hal yang mungkin terjadi bahkan, kemungkinan besar sukses !

Di saat banyak orang Indonesia masih menganggap bahwa bangsa nya adalah bangsa pembeli, konsumtif, Habibie sejak ditugaskan memimpin BPPT, telah mengindoktrinasi para anak-anak muda cerdas Indonesia, bahwa bangsa Indonesia sejak tahun 1970-an harus mulai mensejajarkan diri dengan bangsa Jepang dan Jerman, yaitu mampu membuat pesawat dan kapal laut sendiri.

Beliau tidak lagi bicara bangsa Malaysia, Singapore, Thailand atau bahkan Korea Selatan dan RRC.

Saya masih ingat bahkan di awal tahun 1990-an pak Habibie sepulang nya kunjungan dari Beijing, mengatakan bahwa industri dirgnatara Indonesia saat itu udah unggul 30 tahunan dari industri dirgantara China.

Nah, sekarang jika kita melihat bahwa RRC bukan hanya telah mampu membuat jet tempur sekelas Sukhoi, namun juga mampu membuat rudal antar benua (untuk yang ini, Indonesia sedang belajar alih teknologi mulai dari rudal jarak pendek C-75), bahkan mereka telah mampu menerbangkan manusia ke ruang angkasa dengan roket sendiri.

Sementara Habibie yang sempat begitu semangat (saya lebih suka mengatakannya begitu, ketimbang menuding beliau, menyombongkan diri), meyakinkan bahwa bangsa Indonesia di tahun 80 dan 90-an berada di depan RRC, kini proyek-proyek nya melalui PT IPTN (nama baru PT Nurtanio), dijegal beramai-ramai baik oleh pihak asing melalui IMF maupun saudara sebangsa nya sendiri dengan mengatas namakan reformasi, sejak “krisis ekonomi” tahun 1998, yang berakhir dengan kejatuhan “pelindung” Habibie, yaitu Presiden Suharto.

Padahal ketika itu, Habibie dan PT IPTN sedang getol mempersiapkan perijinan laik terbang dari FAA untuk pesawat N-250. Pesawat baling-baling komersial yang menggunakan teknologi fly by wire pertama di dunia ketika itu.

Proyek ambisius lainnya adalah jet komersial jarak menengah dengan kapasitas di bawah 200 orang, yaitu N 2130 yang berkapasitas sesuai nama nya, 130 penumpang, menggunakan teknologi yang sekelas pesawat jumbo jet. Ketika itu, jika sebelum tahun 2000 jadi terbang, maka bisa dibayangkan betapa akan larisnya pesawat tersebut diserap booming airline low cost yang saat ini terbukti sebagai pangsa pasar utama pesawat jenis ini.

Walhasil, dengan gagalnya N 250 dan N 2130 terbang, kini yang menikmati untung adalah perusahaan-perusahaan seperti Embraer Brazil, Bombardier Canada, bahkan para raksasa seperti Boeing dan Airbus yang ikut-ikutan mebuat pesawat jenis ini, karena memang lebih cepat terjual.

Bahakn untuk Boeing 737-900, LION AIR, maskapai low cost terbesar Indonesia seteah Air Asia Indonesia, adalah pengguna terbanyak di dunia.

Terbukti ide pak Habibie bukan ide gila. Namun pemerintah Indonesia lah yang “ngawur” , karena tidak memproteksi industri pelopor kelas dunia seperti ini, malah dibiarkan diterpa badai korupsi, krisis ekonomi, hingga penjualan yang dibarter dengan beras ketan dan mobil Melayu, Proton. Bahkan sempat hampir dipailitkan di pengadilan, jika pemerintah SBY tidak segera insyaf, dan berupaya menyelamatkan segera perusahaan tersebut

Sekali lagi salut dengan Pak Habibie.

Setengah kecewa dan agak putus asa dengan dukungan Pemerintah Indonesia terhadap PT Dirgantara Indonesia (nama baru dari PT IPTN) selama ini, beliau memutuskan untuk mengajak putranya sendiri, satu-satunya mungkin manusia di dunia ini yang beliau percaya untuk mendukung ide gila nya, setelah istri nya, Hj. dr. Ainun Habibie wafat tahun lalu.

Sang junior yang juga seorang insinyur dirgantara cum laude lulusan Aachen Jerman, Dr. Ing. Ilham Habibie diajak untuk mendirikan perusahaan industri dirgantara swasta pertama di Indonesia, kompetitor sekaligus diharapkan akan menjadi mitra utama PT DI.

Nama perusahaan tersebut adalah PT Regio Aviasi Industri (RAI). PT tersebut didirikan dua perusahaan swasta, PT Ilhabi milik putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, yang memegang saham 51 persen dan PT Eagle Capital milik Erry Firmansyah yang memegang saham 49 persen.

Di perusahaan tersebut Habibie menjadi Ketua Dewan Komisaris.

Pada Sabtu lalu 11 Agustus 2012 dilakukan penandatanganan proyek pengembalian dan penyelesaian kembali pesawat N250 yang sempat terhenti.

“Kami akan `redesign` (desain ulang) pesawat, salah satunya mesin. Ini perlu karena ada gap teknologi telah tertinggal kurang lebih 20 tahunan,” ujar pemilik 46 paten di bidang Aeroneutika itu.

“N250 is still the best,” kata Habibie , tetap dengan gaya pede nya yang saya sebut “jenius gila” di atas, di sela-sela Open House menyambut Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah di kediamannya di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta, Minggu 19 Agustus 2012.

Habibie mengatakan pesawat tersebut akan dapat terbang dalam lima tahun ke depan dengan perubahan rancangan pesawat yang serba digital.

Target berikutnya jika N-250 berhasil kembali tampil dalam kancah industri dirgantara dunia, apalagi jika berhasil tampil sebagai pionir ataupun pemimpin pasar di kelas nya, maka para insinyur dan tenaga ahli di PT RAI akan dikerahkan langsung pada proyek berikutnya….menghidupkan kembali proyek pesawat jet komersial N 2130 yang mungkin ditargetkan terbang komersial sekitar 10 tahun lagi.

Di saat sebagian besar pejabat dan pemimpin bangsa ini sibuk dengan “bagi-bagi jatah” harta dan kekuasaan serta suara partai politik, ribut-ribut soal kasus korupsi, Habibie yang 10 tahun lalu sempat dituding sebagai salah satu penguras keuangan negara dan “maling uang rakyat”, justru membuktikan dirinya bahwa belau masih tetap memikirkan rakyat, ketimbang menguras uang rakyat lalu berfoya-foya hanya untuk keluarganya sendiri.

Beliau berfikiran ala Deng Xiaoping dan Sun Yat Sen, bahwa bangsa nya adalah bangsa yang besar karena prestasi, bukan besar sekedar dari jumlah penduduk atau luas wilayah saja.

Prestasi yang paling beliau kuasai dan paling ingin beliau wujudkan adalah membangun industri dirgantara Indonesia yang mandiri yang berkelas dunia.

Beliau berusaha memanggil kembali para mantan murid-murid nya, tenaga-tenaga ahli kedirgantaraan Indonesia yang sejak krismon 1998, bertebaran mencari nafkah di luar negeri, karena ketika itu industri dirgantara Indonesia mati suri.

Bahkan PT IPTN di awal dekade 2000-an sempat mencari side job membuat antena parabola! Demi kelangsungan hidup perusahaan. Ironis sekali.

Kini Habibie mencoba membangkitkan lagi mesin penggerak industri dirgantara pertama di Asia Tenggara tersebut, namun melalui kendaraan yang berbeda, dikarenakan beliau mulai meragukan kemampuan dan integritas PT DI, sebagai kendaraan lama beliau, yang terlalu banyak dicampuri tangan politik.

Sekali lagi, beliau tidak pernah berfikiran hanya sekedar ingin Indonesia menjadi yang terbaik di Asia Tenggara atau Asia saja.

Sejak tahun 1980-an, beliau sudah ingin “menghadapkan” industri penerbangan Indonesia dengan Boeing dan Airbus! Tentu untuk kelas tertentu seperti helikopter ataupun pesawat komuter maupun pesawat jet komersial kelas menengah.

Beliau mengakui sendiri bahwa masih sangat jauh, untuk Indonesia mampu membuat pesawat sekelas jumbo jet, ataupun freighter cargo sekelas Hercules ataupun Antonov.

Bahkan Embraer pun menurut beliau seharusnya berada di bawah Indonesia prestasinya, jika PT IPTN atau yang sekarang bernama PT DI tidak diterpa badai krisis tahun 2000 -2007 lalu.

Semoga sukses Pak Rudi (panggilan kecil pak B.J Habibie) !

Mudah-mudah usia bapak cukup panjang untuk melihat impian yang sempat tertunda ini, terwujud menjadi nyata. Kami generasi muda Indonesia berada di belakang Anda selalu, selama pak Rudi konsisten dengan janji, tekad, impian dan kejujuran, karena kami tahu selain cerdas, pak Rudi Habibie juga satu dari sangat sedikit pemimpin Indonesia yang memiliki IQ dan ESQ sama tingginya.

Cerdas, tegas dan taat pada Allah SWT.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: