Back to Kompasiana
Artikel

Terapan

Paijo Pandupradja

Pengajar di Universitas Jember, pernah menjadi konsultan Proyek SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) dan selengkapnya

Konstruksi Konsep Rangkaian Listrik Seri dan Paralel

OPINI | 24 December 2012 | 16:00 Dibaca: 20064   Komentar: 0   0

Sampai saat ini ketika saya bertanya kepada anak-anak SD yang sudah kelas 6 termasuk kepada sebagian guru mereka tentang apa itu rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel jawabannya sama. Rangkaian listrik seri adalah rangkaian listrik yang bola lampunya disusun berurutan, sedangkan rangkaian listrik paralel adalah rangkaian listrik yang bola lampunya disusun tidak berurutan. Pengertian ini sebenarnya rawan miskonsep namun saya tidak tahu persis siapa yang mula-mula menyampaikan pengertian tersebut dan untuk mengubahnya seperti menabrak sebuah tembok yag sangat kuat. Meskipun demikian ada sisi positifnya, yaitu begitu hebatnya penghargaan para guru dimata muridnya. Apapun yang beliau katakan akan benar-benar digugu (dipatuhi) dan ditiru. Sehingga, hal ini semestinya digunakan oleh para guru untuk membangun konsep yang benar kepada siswa dan itu akan dikenang oleh mereka sepanjang masa.

Mari kita coba mengkonstruksi konsep tersebut dan merumuskan pengertian berdasarkan fenomena:

13563369591884231481
Rangkaian Listrik Seri

13563373111488418542

Rangkaian Listrik Paralel

Sumber gambar: Dokumentasi Pelatihan IPA SEQIP di SD menggunakan KIT Murid

Ada dua masalah yang ingin kita selesaikan, yaitu pertama apa yang dimaksud dengan rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel? kedua, apa persamaan dan perbedaan rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel?

Perhatikan dengan baik gambar-gambar  di atas. Kita mulai dari rangkaian listrik seri terlebih dahulu. Pengertian berurutan dari kedudukan bola lampu tidak menjadi masalah, yang menjadi esensi dari rangkaian listrik seri adalah dari mana bola lampu tersebut mendapatkan arus listrik.  Dengan demikian kita bisa membuat pengertian bahwa rangkaian listrik seri adalah rangkaian listrik yang bola lampunya mendapatkan arus dari baterai (sumber arus) secara berurutan. Hal inilah yang menyebabkan apabila satu bola lampu dikendorkan maka arus listrik terputus dan bola lampu yang satunya akan padam karena tidak mendapat arus listrik. Ini juga menjadi salah satu sifat dari rangkaian listrik seri.

Untuk rangkaian listrik paralel akan menjadi lebih mudah setelah kita menyusun konsep rangkaian listrik seri, rangkaian listrik paralel adalah  rangkaian listrik yang masing-masing bola lampunya mendapatkan arus listrik langsung dari sumber arus. Itulah sebabnya mengapa bila salah satu bola lampu dikendorkan dan arus listrik terputus maka bola lampu yang lainnya masih menyala.

Pemahaman konsep para siswa dapat dilihat dari kemampuan mereka mendefinisikan konsep tersebut menggunakan kalimatnya sendiri. Disamping itu, mereka juga dapat  menyebutkan persamaan dan perbedaan antara dua konsep sebanyak-banyaknya. Untuk konsep ini harus hati-hati karena seringkali para siswa menyatakan bahwa nyala bola lampu pada rangkaian listrik seri redup. Redup, terang adalah besaran kualitatif sehingga harus ada pembanding yang sepadan. Sehingga pernyataannya semestinya menjadi nyala bola lampu pada rangkaian seri lebih redup bila dibandingkan dengan nyala bola lampu rangkaian paralel.

Jadi, pengertian rangkaian listrik seri dan  paralel sudah diformulasi, persamaan dan perbedaan juga harus disusun agar mereka tahu persis perbedaan keduanya. Persamaannya sama-sama rangkaian listrik tertutup dengan dua bola lampu,  sedangkan perbedaannya: bola lampu pada rangkaian listrik seri mendapat arus listrik secara berurutan sedangkan masing-masing bola lampu pada rangkaian listrik paralel mendapat arus listrik langsung dari sumber listrik. Nyala lampu pada rangkaian listrik seri lebih redup dibandingkan nyala bola lampu pada rangkaian listrik paralel. Siswa dimungkinkan untuk menambah lagi bila masih ada.

Ini bukan untuk menggurui para guru namun sebatas sumbangan pemikiran untuk membantu siswa mengkonstruksi konsep. Bila mereka melakukan sendiri maka akan semakin kuat konsep tersebut  melekat pada diri siswa. Bila bapak dan ibu ada cara yang lebih baik mari kita berbagi disini. Untuk apa kita harus bersusah payah seperti ini? Tidak lain adalah untuk anak-anak kita dan bangsa ini….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 9 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 14 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

remaja generasi yang harus di selamatkan …

Azim Marzuki | 8 jam lalu

Cinta Tulus Seorang Perempuan Pujaan …

Ahsani Fatchur Rahm... | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Tridinamika Sukses Meraih Sertifikasi ISO …

Tridinamika News | 8 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: